Mundurnya Gubernur BI Tekan Rupiah, Ditutup di Atas Rp18.000 per Dolar AS
DEKANNEWS, JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga ditutup di atas level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (27/7/2026). Pelemahan tersebut terjadi di tengah sentimen pasar yang merespons pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup melrmah 46 poin atau 0,26% ke posisi Rp18.009 per dolar AS.
Di sisi lain, mayoritas mata uang utama di kawasan Asia justru menguat terhadap dolar AS. Yen Jepang naik 0,19%, dolar Homng Kong menguat 0,01%, dolar Singapura naik 0,05%, yuan China menguat 0,07%, ringgit Malaysia bertambah 0,09%, dan baht Thailand melonjk 0,45%.
Sementara itu, won Korea Selatan melemah 0,71%. Adapun peso Filipina menguat 0,26% dan rupee India naik 0,71% terhadap dolar AS.
Pengamat mata uang sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan Selasa (28/7/2026) masih akan berfluktuasi dengan kecenderungan melemah pada kisaran Rp18.010 hingga Rp18.060 per dolar AS.
Menurut Ibrahim, pelemahan rupiah dipengaruhi respons negatif pasar terhadap mundurnya Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia. Sentimen tersebut muncul di tengah tekanan terhadap rupiah akibat meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah antara AS dan Iran, serta isu yang dinilai berkaitan dengan intervensi terhadap independenso Bank Indonesia.
Selain faktor tersebut, Ibrahim menilai rasio utang Indonesia yang berada di kisaran 40% terhadap produk domestik bruto (PDB) perlu dipandang bersama dengan kemampuan pemerintah dalam memenuhi kewajiban pembayaran utang serta efektivitas pemanfaatan utang tersebut.
Ia menjelaskan, rasio utang terhadap PDB memang menjadi salah satu indikator yang digunakan lembaga internasional seperti IMF. Namun, menurutnya, indikator itu tidak cukup untuk menggambarkan kondisi fiskal suatu negara secara menyeluruh. "Indikator yang lebih penting untuk diperhatikan adalah rasio pembayaran utang beserta bunganya terhadap pendapatan negara. Indikator tersebut lebih menggambarkan kemampuan riil pemerintah dalam memenuhi kewajiban utangnya," kata Ibrahim. (Zat)
