Gelombang Panas di Spanyol Telan 3.800 Korban Jiwa, Pemerintah Perkuat Langkah Mitigasi
DEKANNEWS - Gelombang panas ekstrem yang melanda Spanyol sejak awal 2026 terus memakan korban jiwa. Pemerintah setempat mengonfirmasi lebih dari 3.800 orang meninggal dunia akibat suhu tinggi yang melanda berbagai wilayah di negara tersebut.
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez menyampaikan bahwa pada pekan lalu pemerintah menetapkan status darurat nasional di wilayah otonom Madrid serta Provinsi Avila dan Provinsi Toledo. Langkah tersebut diambil menyusul meluasnya kebakaran hutan yang dipicu kondisi cuaca ekstrem.
Sebagai upaya menghadapi dampak gelombang panas, pemerintah Spanyol berencana mengalokasikan dana sebesar 10 juta euro (sekitar Rp 205,54 miliar) untuk memnbangun sejumlah fasilitas perlindungan baru bagi masyarakat yang rentan terhadap cuaca ekstrem.
Ancaman gelombang panas di Spanyol bukan hanya terjadi tahun ini. Pada awaj Juni lalu, Kementerian Kesehatan Spanyol melaporkan suhu ekstrem telah menyebabkan lebih dari 27 ribu kematian sepanjmng periode 2015 hingga 2025.
Selain memicu korban jiwa, cuaca panas juga memperburuk risiko kebakaran hutan. Di Provinsi Avila, kebakaran telah menghanguskan sekitar 50 ribu hektar lahan dan disebut sebagai bencana kebakaran hutan terbesar dalam sejarah Spanyol, sebagaimana dilaporkan media La Sexta dan dikutip RIA Novosyti dari Moskow.
Secara keselurujan, Spanyol telah mencatat 32 kebakaran hutan besar sejak awal 2026 yang melalap sekitar 153 ribu hektar lahan. Bencana tersebut memaksa sekitar 90 ribu warga di Avila, Madrid, dan Toledo dievakuasi atau diminta tetap berada di rumah, sementara 16 ribu penduduk lainnya di Castellon juga harus dievakuasi. (Zat)
