Ramadan adalah Jalan Nyata Menuju Hidup Sehat di Dunia dan Keselamatan di Akhirat: Melalui Semangat Puasa, Kita Berharap Jakarta Dapat Maju dan Masyarakatnya Sejahtra
Sungguh saya sebenarnya enggan menulis artikel pada bulan Ramadan, karena lebih memilih fokus pada ibadah. Bahkan untuk menghadiri acara buka puasa bersama pun saya sering menolak, kecuali jika benar-benar penting. Bukan karena tidak menghargai undangan, tetapi karena waktu di bulan Ramadan terasa sangat berharga dan terbatas.
Oleh : Sugiyanto (SGY)
Ketua Himpunan Masyarakat Nusantara (HASRAT)
Maksudnya, setiap detik terasa bermakna, sehingga kita tidak leluasa menggunakan waktu seperti pada bulan-bulan lainnya. Dalam Ramadan, pola hidup kita berubah secara alami. Kita dipaksa untuk tidur lebih awal sekitar pukul 21.00–22.00 WIB agar memiliki waktu istirahat yang cukup untuk bangun sahur sekitar pukul 02.30–03.00 dini hari.
Tulisan ini merupakan artikel ketiga yang saya buat selama bulan Ramadan tahun ini. Dua tulisan sebelumnya saya anggap penting untuk disampaikan kepada publik. Artikel pertama berjudul “Pergub Nomor 5 Tahun 2026 Fokus pada Efisiensi Energi dan Air, Bukan Pelarangan Air Tanah, serta Perlunya Audit Total PBG dan PBJT Lapangan Padel.” Artikel kedua membahas isu global dengan judul “Serangan Tanpa Izin PBB adalah Arogansi Kekuasaan di Atas Hukum Internasional: Dunia Harus Bersatu Menghentikan Invasi terhadap Negara Berdaulat.”
Setelah Lebaran nanti, saya berencana kembali fokus menulis isu-isu Jakarta dengan tema besar “Aset dan Dana Daerah Milik Rakyat: Gubernur, Wakil Gubernur, Pejabat, DPRD, dan BUMD Dilarang Membuat Kebijakan yang Merugikan Masyarakat Jakarta.”
Beberapa persoalan penting akan saya bahas secara lebih mendalam, seperti mengantisipasi potensi munculnya masalah baru dari pembongkaran tiang monorel yang mangkrak, serta pembangunan fasilitas kota, termasuk rencana pembangunan rumah sakit baru di lahan RSSW dan pembangunan jembatan penghubung kawasan JIS–Ancol beserta berbagai persoalan lain yang berkaitan dengan JIS. Hal lain yang juga akan dibahas adalah persoalan banjir, kemacetan, sampah, hingga berbagai masalah tata kelola kota lainnya. Saya juga akan menyoroti berbagai rekomendasi Badan Pemeriksa Keuangan sejak tahun 2005 hingga 2024 yang belum sepenuhnya dijalankan oleh pemerintah daerah.
Selain itu, persoalan peran Sekretaris Daerah (Sekda) dalam membantu Gubernur, serta dinamika perlunya pergantian pejabat dan pimpinan BUMD yang sudah seharusnya dilakukan berdasarkan prinsip merit system atau karena kinerja yang dinilai minim, juga akan menjadi bagian penting untuk dikupas secara tuntas. Termasuk di dalamnya pembahasan mengenai fungsi dan hak DPRD DKI Jakarta, berikut sorotan terhadap kinerja lembaga tersebut dalam menjalankan tugas pengawasan serta representasi kepentingan masyarakat.
Dalam konteks pembahasan berbagai persoalan Jakarta ini, diharapkan dapat dirumuskan solusi yang tepat dan efektif. Kita semua tentu berharap Jakarta dapat semakin maju dan masyarakatnya hidup lebih sejahtera. Semoga semangat puasa dan pola hidup serta rutinitas Ramadan bisa mewujudnya hal ini menjadi kenyataan. Aamiin.
Selain persoalan Jakarta, saya juga akan mengikuti isu-isu nasional seperti pengelolaan anggaran negara, defisit APBN, kebijakan pembangunan nasional, dinamika demokrasi, serta isu hak asasi manusia. Apabila dipandang perlu, saya akan mengulasnya dalam bentuk artikel yang lebih mendalam. Isu global pun tidak luput dari perhatian, seperti dinamika kebijakan luar negeri, konflik geopolitik, keamanan internasional, hingga perkembangan konflik di Timur Tengah.
Namun dalam tulisan ini saya ingin kembali pada satu hal yang sangat mendasar, yaitu makna Ramadan sebagaimana tercermin dalam judul tulisan ini. Saya sebenarnya tidak sedang mengulas kembali manfaat puasa dari sisi agama maupun kesehatan secara rinci, karena hampir semua orang sudah memahami hal tersebut.
Dalam hal ini, yang ingin saya tegaskan adalah bahwa pola hidup dan rutinitas selama Ramadan sesungguhnya merupakan contoh pola hidup yang sangat ideal bagi manusia. Ramadan mengajarkan keseimbangan antara kesehatan fisik, ketenangan batin, disiplin waktu, ibadah kepada Allah, serta kepedulian sosial kepada sesama.
Dalam Islam, kewajiban berpuasa memiliki dasar yang sangat jelas sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183).
Ayat ini menunjukkan bahwa puasa bukan sekadar ibadah ritual, melainkan sarana pembentukan ketakwaan, pengendalian diri, serta penyucian jiwa. Ramadan juga memiliki keistimewaan karena pada bulan inilah Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia. Allah berfirman:
“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda antara yang benar dan yang batil.” (QS. Al-Baqarah: 185).
Selain nilai spiritualnya yang sangat tinggi, puasa juga memiliki manfaat kesehatan yang telah banyak dijelaskan dalam ilmu kedokteran modern. Dalam perspektif ilmu kesehatan, puasa memberikan kesempatan bagi tubuh untuk melakukan proses pemulihan metabolisme, memperbaiki sistem pencernaan, menstabilkan kadar gula darah, serta meningkatkan proses regenerasi sel melalui mekanisme yang dikenal sebagai metabolic switching dan autophagy. Proses ini membantu tubuh membersihkan sel-sel yang rusak sehingga berpotensi mengurangi risiko berbagai penyakit degeneratif.
Nabi kita, Muhammad SAW, juga memberikan tuntunan hidup sehat melalui pola makan yang sederhana dan seimbang. Beliau bersabda, “Kami adalah kaum yang tidak makan sebelum lapar dan berhenti makan sebelum kenyang.” Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan mengandung prinsip kesehatan yang sangat relevan dengan ilmu gizi modern, yaitu menghindari makan secara berlebihan yang dapat memicu berbagai penyakit metabolik seperti obesitas, diabetes, dan gangguan jantung.
Selain itu, Ramadan juga melatih kedisiplinan dalam mengatur waktu. Pola tidur yang lebih awal dan kebiasaan bangun pada sepertiga malam terakhir memberikan manfaat besar bagi kesehatan mental dan spiritual. Bangun pada waktu dini hari untuk melaksanakan salat malam atau tahajud dapat menciptakan ketenangan batin serta meningkatkan kualitas spiritual seseorang. Rasulullah SAW bersabda bahwa sebaik-baik amal adalah amal yang dilakukan secara terus-menerus, meskipun sedikit.
Dari sisi sosial, Ramadan juga membentuk karakter empati dan solidaritas. Puasa membuat seseorang merasakan lapar dan dahaga sebagaimana yang dirasakan oleh mereka yang hidup dalam kekurangan. Karena itu Islam mendorong umatnya untuk memperbanyak sedekah dan membantu sesama. Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa yang memberi makan orang yang berpuasa maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikit pun.
Melihat semua dimensi tersebut, Ramadan sebenarnya merupakan bentuk pelatihan kehidupan yang sangat lengkap. Ia melatih disiplin waktu, pengendalian diri, kesehatan tubuh, kekuatan spiritual, serta kepedulian sosial secara bersamaan. Inilah sebabnya mengapa saya berpendapat bahwa pola hidup selama Ramadan merupakan gambaran pola hidup yang sangat ideal bagi manusia.
Jika dirangkum secara sederhana, pola hidup itu terlihat jelas: tidur lebih awal sekitar pukul 21.00 atau 22.00, bangun dini hari sekitar pukul 02.30 atau 03.00 untuk beribadah, menjaga pola makan dengan tidak berlebihan, menahan diri dari berbagai hal yang merusak kesehatan fisik maupun moral, serta menjalani aktivitas harian dengan disiplin dan penuh kesadaran spiritual.
Menariknya, pola hidup seperti ini sebenarnya pernah menjadi kebiasaan generasi orang tua kita di masa lalu. Mereka terbiasa tidur lebih awal, bangun sebelum fajar, bekerja dengan disiplin, makan secara sederhana, dan menjalani hidup dengan penuh ketenangan. Tidak mengherankan jika banyak dari mereka memiliki kesehatan yang baik dan usia yang panjang. Namun dalam kehidupan modern saat ini, pola hidup seperti itu mulai ditinggalkan.
Di sinilah Ramadan seolah menjadi pengingat bagi manusia modern untuk kembali kepada pola hidup yang lebih seimbang. Ramadan mengajarkan bahwa kehidupan yang sehat dan bahagia bukanlah kehidupan yang penuh kebebasan tanpa batas, melainkan kehidupan yang diatur oleh disiplin, kesederhanaan, dan pengendalian diri.
Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana mempertahankan pola hidup Ramadan setelah Lebaran. Inilah tantangan yang tidak mudah. Banyak orang berpikir bahwa setelah Lebaran mereka bebas kembali kepada pola hidup lama, bebas makan kapan saja, bebas begadang, dan kembali kepada rutinitas yang kurang sehat. Cara berpikir seperti ini sebenarnya merupakan kesalahpahaman besar terhadap makna Ramadan.
Ramadan bukan sekadar ritual tahunan, tetapi sebuah proses pelatihan agar manusia mampu menjalani kehidupan yang lebih baik sepanjang tahun. Karena itu, sebagian pola hidup Ramadan seharusnya tetap dipertahankan setelah bulan suci berakhir.
Misalnya, kebiasaan tidur lebih awal dan bangun lebih pagi tetap dapat dilanjutkan. Salat Tarawih memang hanya ada di bulan Ramadan, tetapi dapat diganti dengan salat malam seperti tahajud dan witir. Puasa wajib Ramadan memang hanya sebulan, tetapi dapat dilanjutkan dengan puasa sunnah seperti puasa Senin-Kamis atau puasa Nabi Dawud yang dilakukan sehari berpuasa dan sehari tidak.
Dengan menjaga pola hidup seperti ini, seseorang tidak hanya memperoleh manfaat kesehatan fisik, tetapi juga ketenangan spiritual dan kedisiplinan hidup. Ramadan pada akhirnya mengajarkan satu hal penting: bahwa kehidupan yang baik adalah kehidupan yang seimbang antara urusan dunia dan akhirat.
Jika pola hidup Ramadan dapat terus dijaga sepanjang tahun, maka manusia tidak hanya mendapatkan kesehatan dan kebahagiaan di dunia, tetapi juga harapan keselamatan di akhirat. Ramadan dengan demikian bukan sekadar bulan ibadah, melainkan jalan nyata menuju kehidupan yang lebih sehat, lebih bermakna, dan lebih dekat kepada Allah SWT.
