Pemprov DKI Akan Evaluasi Program Pilah Sampah Tiap Dua Pekan Sekali

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung

DEKANNEWS — Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan melakukan evaluasi rutin terhadap pelaksanaan program gerakan pilah sampah yang mulai diterapkan di masyarakat. Evaluasi tersebut dilakukan setiap dua minggu guna memastikan efektivitas program pengurangan sampah dari sumbernya.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan, program pemilahan sampah menjadi langkah penting untuk mengurangi beban sampah yang selama ini menumpuk di TPST Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat.

“Saya sudah minta kepada Biro KDH setiap dua minggu sekali kita akan evaluasi perkembangan dari gerakan pilah sampah ini,” ujar Pramono di Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (12/5/2026).

Menurut Pramono, gerakan pilah sampah bukan sekadar prohram administratif, melainkan upaya membangun budaya baru masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga secara lebih bertanggung jawab.

Program tersebut resmi dicanangkan pada Minggu (10/5/2026) berdasarkan Instruksi Gubernur (Ingub) Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pilah Sampah. Dalam aturan itu, masyarakat diwajibkan memilah sampah sesuai jenisnya sebelum dibuang.

Pemprov DKI membagi sampah ke dalam empat kategori utama dengan penanda warna berbeda. Sampah organik seperti sisa makanan, kulit buah, dan daun diberi warna hijau untuk diolah melalyi kompos, maggot Black Soldier Fly (BSF), atau biodigester.

Sementara itu, sampah anorganik seperti plastik, kertas, botol, dan logam diberi identitas warna kuning yang nantinya dapat disalurkan ke bank sampah maupun fasilitas daur ulang.

Adapun limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) seperti baterai bekas, limbah elektronik, dan kemasan bahan kimia rumah tangga diberi warna merah dan wajib dibuang ke tempat penampungan khusus B3.

Sedangkan sampah residu yang tidak dapat didaur ulang diberi identitas warna abu-abu dan diarahkan ke fasilitas pengolahan seperti RDF Plant dan pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa).

Pemprov DKI menilai keberhasilan program pilah sampah sangat bergantung pada partisipasi aktif masyarakat, termasuk dukungan dari RT/RW, sekolah, hingga pelaku usaha di ibu kota.

Pramono berharap program tersebut dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah sejak dari rumah tangga.

“Kalau pemilahan dilakukan dari sumbernya, maka beban pengolahan sampah di hilir akan jauh lebih ringan," tutup dia.