Nilai Penampilan Debat Gibran 9, Mahfud 7, Muhaimin 6


Dekannews - Debat kedua para calon wakil presiden malam ini memperlihatkan banyak kejutan.

Ada Cak Imin yang mengusung "slepetnomics" dengan sarungnya.

Gibran dengan gaya anak muda yang cool namun berisi hingga Pak Mahfud yang justru agak kedodoran sebagai tokoh paling senior.

Bagaimana penampilan ketiganya dan siapa yang paling unggul?

Penampilan Cak Imin terhitung buruk. Sering tidak fokus dalam menyampaikan visi dan misinya maupun saat menjawab pertanyaan sekalipun. Ada kesan menganggap remeh lawan.

Bahkan saat diminta bertanya pun yang seharusnya kesempatan menyerang, Cak Imin seolah menjadi "jubir" Gibran karena mempersilakan Gibran menyampaikan tips dan trik sukses sebagai walikota Solo.

Ketika ditanya gagasan tentang perdagangan, yang disampaikan adalah meningkatkan kualitas produksi dalam negeri sehingga bisa bersaing.

Namun hal ini juga masih mengambang. Upaya yang ada selama ini masih bersifat parsial, tumbuh sendiri-sendiri dan tidak ada gerakan terstruktur, demikian ungkap Cak Imin.

Ia mendorong diplomasi agar lebih ekspansif dengan "menylepet" para duta besar dalam melakukan tugasnya agar tidak normatif semata.

Dalam pernyataan pembukaan maupun penutupnya, Cak Imin banyak mengeluarkan jargon-jargon yang tidak dijelaskan secara komprehensif.

Akibatnya, tidak menambah kualitas debat secara substansi maupun penampilan sebagai seorang calon wakil presiden. Saya menilai penampilan Cak Imin: 6.

Secara umum penampilan Gibran sangat baik dan di luar dugaan banyak orang.

Ia menjungkirbalikkan anggapan orang bahwa ia takut berdebat. Gibran menguasai substansi, penuh percaya diri, humble namun tetap simpatik.

Dengan bekal pengalaman sebagai walikota Solo sangat membantu memahami dan menyampaikan apa yang telah dikerjakan sehingga tidak mengawang-awang.

Ide tentang keberlanjutan, percepatan dan penyempurnaan relatif dapat disampaikan dengan lancar dan mudah dicerna publik awam sekalipun.

Narasi tentang pembangunan infrastruktur fisik, sosial, kemanusiaan yang seimbang, hilirisasi nikel hingga digital sampai soal stunting, tersampaikan secara runut dan terlihat logis. Sosok seorang muda terkuak dari penampilan dalam debat kali ini.

Gibran menunjukkan sosok yang paling mengerti anak muda dibandingkan Cak Imin dan Pak Mahfud.

Retorikanya pun terlihat natural dan sesekali bernada keisengan ala anak muda yang membuat lawan debatnya tidak berkutik seperti pertanyaannya tentang regulasi carbon captured kepada Pak Mahfud dan pertanyaan tentang posisi perkembangan ekonomi Islam kepada Cak Imin.

Dengan penampilan penuh percaya diri ini, Saya menilai Gibran: 9.

Sedangkan penampilan Pak Mahfud jauh dari kapasitas seorang intelektual dan seorang menteri yang berpengalaman. Pernyataan pembukaan terlihat tidak terlalu fokus dan out of topic debat kedua kali ini.

Dalam merespon pertanyaan seringkali pembukaan terlalu panjang sedangkan substansi yang disampaikan tidak menjawab pertanyaan. Blunder dalam mengkritik duta besar yang tidak bekerja semestinya karena kurang kompeten yang disebkan proses rekrutmen yang jelek.

Hal seperti ini mestinya tidak perlu disampaikan ketika diberikan kesempatan menjelaskan gagasan tentang upaya optimalisasi perjanjian perdagangan internasional dalam rangka peningkatan ekspor.

Pukulan telak bagi Pak Mahfud adalah ketika Gibran menanyakan soal regulasi carbon captured yang tidak bisa dijawab.

Semestinya lebih baik mengakui bila tidak paham dibandingkan jawaban melebar kemana-mana menandakan ketidakpahaman beliau.

Secara umum terlihat Pak Mahfud tidak terlalu menguasai isu ekonomi dan perdagangan.

Mungkin karena Pak Mahfud adalah ahli hukum. Tapi itu bukan sebuah apologi yang bisa diterima publik.

Akhirnya, pernyataan penutupan Pak Mahfud yang membaca deretan puluhan program terasa kering dan tidak mengena.

Bahkan gagal dimanfaatkan dengan baik untuk mengajak khalayak mendukungnya. Saya menilai 7.

Dengan demikian,  pemenang debat kedua malam ini adalah Gibran cawapres nomor urut 2.

Disusul kemudian Pak Mahfud dan Cak Imin yang harus rela menduduki dasar klasemen. (tfk)