Waspada, Ikan Sapu-Sapu Ciliwung Mengandung Logam Berat Timbal

Ikan Sapu-sapu Ciliwung

DEKANNEWS - Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Provinsi DKI Jakarta mengungkapkan temuan mengejutkan pada ikan sapu-sapu yang hidup di Sungai Ciliwung.

Setelah hasil pemeriksaan laboratorium, ditemukan adanya cemaran logam berat jenis timbal pada seluruh sampel ikan yang diuji. Oleh sebab itu, Labkesda DKI mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan mengonsumsi  

Temuan tersebut menjadi perhatian serius karena ikan sapu-sapu selama ini dikenal memiliki kandungan protein cukup tinggi, yakni mencapai 19 gram per 100 gram daging. Namun kondisi lingkungan sungai yang tercemar limbah membuat ikan tersebut berpotensi membahayakan kesehatan apabila dikonsumsi dalam jangka panjang.

Kepala Laboratorium Kesehatan Daerah Provinsi DKI Jakarta, Budi Wibowo, mengatakan pemeriksaan dilakukan di beberapa titik aliran Sungai Ciliwung dan seluruh sampel menunjukkan kandungan timbal dengan kadar yang berbeda.

“Setiap titik yang kita ambil ikannya, semuanya mengandung timbal dengan kadar yang berbeda-beda. Mungkin tingkat cemarannya juga berbeda-beda,” ujar Budi, Jumat (8/5).

Menurutnya, timbal merupakan zat berbahaya yang dapat terakumulasi di dalam tubuh manusia secara perlahan. Efeknya memang tidak langsung dirasakan, tetapi dapat memicu kerusakan organ dalam jangka panjang.

“Logam berat ini butuh waktu yang lama untuk menyebabkan kerusakan. Istilahnya korosif, merusak organ-organ tubuh kita. Tidak setahun, dua tahun, mungkin lima tahun, sepuluh tahun, baru terasa efek dari timbal,” jelasnya.

Paparan timbal diketahui dapat memengaruhi sistem saraf, fungsi ginjal, hingga kesehatan jantung dan pembuluh darah. Data World Health Organization bahkan menyebutkan paparan timbal berkaitan dengan sekitar 1,5 juta kematian global pada tahun 2021.

Selain kandungan protein, hasil pengujian juga menemukan ikan sapu-sapu memiliki kandungan karbohidrat sekitar 9 persen. Meski demikian, otoritas kesehatan tetap meminta masyarakat untuk memilih sumber protein lain yang lebih aman.

Budi menegaskan bahwa ikan sapu-sapu sebenarnya tidak memiliki racun alami. Akan tetapi, ikan tersebut memiliki karakteristik mudah menyerap zat yang ada di lingkungan tempat hidupnya.

“Banyak sumber protein lain yang harganya terjangkau. Protein itu tidak mesti harus mahal, telur proteinnya tinggi. Kemudian ikan emas juga tinggi. Jadi tidak harus ikan sapu-sapu,” paparna.

Ia juga menyoroti masih lemahnya pengendalian limbah dan pengelolaan Instalasi Pengolahan Air Limbah di kawasan perkotaan sebagai salah satu faktor utama pencemaran sungai.