Robot AI Berspray Merica Mulai Diuji di Penjara Singapura
DEKANNEWS - Singapura mulai menguji pemanfaatan teknologi robotik untuk meningkatkan keamanan di lingkungan penjara. Mulai Oktober 2026, robot berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dilengkapi penyemprot merica akan dikerahkan untuk membantu petugas menghadapi perkelahian maupun berbagai insiden yang berpotensi membahayakan.
Robot seberat 510 kilogram itu akan menjalani uji coba selama tiga bulan. Penggunaan robot tersebut menjadi bagian dari upaya Singapore Prison Service (SPS) untuk memberikan respons yang lebih aman ketika terjadi gangguan keamanan di dalam lembaga pemasyarakatan.
SPS akan menempatkan robot bernama Prisons Robot to Eradicate Conflicts and Threats (Protect) di tiga institusi penjara. Lokasi ketiga institusi tersebut tidak diungkapkan oleh pihak berwenang.
Protect memiliki tinggi 157 sentimeter dan dikembangkan melalui kerja sama SPS dengan Home Team Science and Technology Agency (HTX). Robot tersebut dirancang secara khusus untuk mendukung kebutuhan sistem pemasyarakatan Singapura.
Lead engineer Robotics, Automation & Unmanned Systems Center of Expertise HTX Peng Chongtian mengatakan Protect merupakan robot pertama dengan kemampuan tersebut yang dikembangkan untuk sistem penjara Singapura, seperti dilaporkan The Straits Times.
Dalam kondisi terjadi perkelahian atau insiden lainnya, petugas dapat mengoperasikan Protect dari jarak jauh. Robot dilengkapi tayangan video 360 derajat dan audio secara langsung, sehingga petugas dapat memantau situasi tanpa harus langsung memasuki area yang berisiko.
Protect juga dapat memberikan peringatan kepada narapidana dan menggunakan penyemprot merica terhadap mereka yang tidak mematuhi instruksi petugas. Kemampuan tersebut diharapkan dapat membantu mengendalikan situasi sebelum petugas perlu turun tangan secara langsung.
Selain dikendalikan dari jarak jauh, robot tersebut mampu melakukan patroli secara otonom pada rute yang telah ditentukan. Sistem AI yang digunakan memungkinkan Protect mengenali orang serta menavigasi berbagai rintangan yang berada di jalur patrolinya.
Sistem keamanan Protect juga dilengkapi kemampuan memberikan peringatan kepada petugas apabila ada narapidana yang berusaha mengganggu atau merusak robot tersebut, menurut Channel News Asia.
Meski memiliki sejumlah kemampuan otomatis, SPS menegaskan Protect masih berada dalam tahap pengembangan. Robot itu belum dapat mendeteksi insiden secara mandiri sekaligus menentukan tindakan yang harus dilakukan tanpa campur tangan manusia.
Petugas tetap memegang kendali selama robot dioperasikan dan dapat mengambil alih kapan saja ketika diperlukan. Hal tersebut berlaku baik ketika menghadapi perselisihan ringan maupun situasi serius yang membutuhkan penanganan langsung.
Pemanfaatan Protect melengkapi sejumlah sistem yang telah digunakan Singapura untuk menjaga keamanan penjara. Negara tersebut sebelumnya telah menerapkan sistem pelaporan narapidana, program pencegahan kekerasan, serta analisis video untuk membantu mendeteksi perkelahian dan mengurangi kekerasan di dalam penjara.
Kehadiran robot tersebut tidak dimaksudkan untuk menggantikan petugas penjara. Sebaliknya, Protect dirancang untuk mengurangi kebutuhan petugas memasuki situasi berbahaya secara langsung, sekaligus memberikan waktu tambahan bagi mereka untuk menjalankan tugas lainnya.
Otoritas Singapura juga berharap penggunaan teknologi tersebut dapat memberi lebih banyak kesempatan kepada petugas untuk berinteraksi dengan narapidana. Dengan demikian, peran petugas dalam proses pembinaan dan rehabilitasi tetap dapat berjalan di tengah upaya meningkatkan keamanan.
Uji coba Protect berlangsung ketika kasus penyerangan di penjara Singapura mengalami peningkatan. Tingkat penyerangan naik dari 54,4 insiden per 10.000 narapidana pada 2024 menjadi 76,7 insiden per 10.000 narapidana pada 2025.
SPS pada Februari 2026 menyebut peningkatan tersebut sebagian berkaitan dengan bertambahnya jumlah pelaku pelanggaran berusia muda dan tahanan yang masih menjalani proses hukum. Menurut SPS, kelompok tersebut cenderung lebih sulit beradaptasi, lebih impulsif, dan lebih mudah menggunakan kekerasan ketika menghadapi perselisihan dengan narapidana lain. (Zat)
