Pagar Tinggi Mall Beri Kesan Jakarta Tidak Aman, Pramono Siapkan Penataan
DEKANNEWS, JAKARTA - Pemasangan pagar tinggi di sejumlah pusat perbelanjaan di Jakarta menjadi fenomenal yang terjadi belakangan ini. Peristiwa tersebut memicu perhatian Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menilai kebijakan mall di Jakarta tersebut dikhawatirkan menimbulkan persepsi negatif di masyarakat terhadap terhadap kondisi keamanan Ibukota.
Sehingga menurut Pramono, perlu dilakukan penataan. Menurutnya, aspek keamanan tetap harus dijaga, namun tidak harus diwujudkan melalui pembatas fisik yang berlebihan.
Sebagai langkah awal, Pramono menyatakan akan berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk menertibkan keberadaan pagar yang dinilai terlalu tinggi.
"Saya mengikuti dengan saksama adanya pemasangan di beberapa tempat pagar-pagar yang kemudian menjadi sangat tinggi sekali. Secara pribadi, sebagai Gubernur Jakarta, tentunya saya tetap berkeinginan, apa pun, Jakarta itu aman, nyaman," kata Pramono di, Jakarta Pusat, dikutip Minggu (2/8).
Pramono menghimbau para pengelola mal, pemilik gedung perkantoran, hingga pelaku usaha properti untuk menciptakan lingkungan yang lebih terbuka. Ia menilai pemasangan pagar tinggi justru dapat memengaruhi cara masyarakat memandang situasi keamanan di Jakarta.
Menurut Pramono, citra kota yang aman tidak hanya dibangun melalui pengamanan, tetapi juga lewat tata ruang yang memberi rasa nyaman. Berdasarkan hasil koordinasi dengan aparat keamanan dan penegak hukum, ia memastikan kondisi Jakarta saat ini tetap kondusif.
"Jangan sampai kemudian ini menjadi image bahwa Jakarta sedang tidak baik-baik saja. Padahal menurut saya, sebagai Gubernur Jakarta, dan saya melakukan koordinasi dengan aparat keamanan dan aparat penegak hukum di berbagai sektor, saya meyakini bahwa Jakarta aman-aman saja," tegasnya.
Pramono mengakui belum ada aturan khusus yang mengatur batas ketinggian pagar di kawasan komersial maupun perkantoran. Meski demikian, ia menilai pagar yang terlalu tinggi kurang mendukung estetika dan kenyamanan ruang kota.
"Untuk larangan itu, terus terang, memang tidak secara spesifik. Tetapi dengan membuat pagar yang berlebihan, itu mengganggu kenyamanan, mengganggu Jakarta yang sekarang ini menurut saya harusnya bisa lebih baik," ujarnya.
Dalam visinya membangun Jakarta sebagai kota yang lebih hijau dan ramah bagi masyarakat, Pramono berharap konsep ruang terbuka lebih diutamakan dibanding penggunaan pagar yang menjulang tinggi. Ia menilai penambahan ruang hijau akan memberikan manfat yang lebih besar bagi kualitas lingkungan perkotaan.
"Bahkan saya berpikir pagarnya itu nggak perlu tinggi-tinggi. Kemudian yang penting pohonnya yang banyak, lebih hijau. Antara satu dan sebelah, bersebelahan itu juga mungkin lebih baik dibuka," katanya.
Pramono menegaskan kebijakan penataan tersebut hanya akan diberlakukan di wilayah Jakarta. Ia berharap upaya tersebut dapat meningkatkan rasa aman sekaligus menciptakan susana kota yang lebih nyaman bagi masyarakat maupun pelaku usaha.
"Kalau untuk daerah lain saya nggak mau ikut campur, tapi untuk Jakarta saya berkeinginan betul bahwa masyarakat semuanya merasa aman, nyaman," tegasnya.
Sementara itu, Polda Metro Jaya memastikan situasi keamanan dan ketertiban di wilayah Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi tetap aman serta kondusif. Kepolisian mengaku belum menerima pemberitahuan resmi mengenai rencana ajsi unjuk rasa, namun pemantauan terus dilakukan, termasuk melalui aktivitas di media sosial.
"Terkait tentang pagar, dalam situasi kamtibmas, sampai saat ini Polda Metro Jaya masih belum menerima surat pemberitahuan terkait tentang aksi yang ada. Tetapi tidak berhenti di situ, Polda Metro Jaya melalui direktur-direktur operasional tetap melakukan pemantauan secara dunia maya, digital," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Jumat (31/7) lalu. (Zat)
