Kesenjangan Sosial Tinggi, Pramono : Beban Bagi Jakarta

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung


Ketimpangan Sosial Tinggi, Pramono : Satu Beban Bagi Jakarta

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengungkapkan kondisi ekonomi Jakarta semakin membaik. Perubahan tersebut tergambar dari tingkat  tingkat kemiskinan di Ibu Kota kini berhasil turun hingga di bawah empat persen. 

Selain penurunan angka kemiskinan, Pramono juga menyampaikan kenaikan pertumbuhan ekonomi Jakarta yang mencapai 5,52 persen.

Sejalan dengan itu, tingkat inflasi Ibu Kota juga relatif terkendali, bahkan menjadi yang terendah di kawasan Jawa-Bali, yaitu berada di kisaran 2,5 hingga 2,7 persen.

Menurut Pramono, capaian tersebut menunjukkan perekonomian Jakarta masih mampu bertahan di tengah tekanan ekonomi global.

Meski demikian,, pemerintah daerah belum bisa berpuas diri karena pertumbuhan ekonomi yang membaik masih harus diiringi upaya mengurangi kesenjangan antara kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi dan rendah.

Pramono mengatakan, ketimpangan ekonomi menjadi salah satu persoalan yang masih membayangi Jakarta. Saat ini, gini ratio Jakarta berada di angka 0,435. 

Indikator tersebut digunakan untuk menggambarkan tingkat ketimpangan distribusi pendapatan di masyarakat.

"Tetapi ada satu yang selalu menjadi beban bagi Jakarta, yaitu gini ratio. Sekarang ini gini ratio-nya 0,435. Gini ratio adalah perbandingan orang kaya dan miskin,” ucapnya dikup Jumat (16/10/2026). 

Angka tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi Pemprov DKI agar perbaikan ekonomi tidak hanya tercermin dari pertumbuhan dan penurunan kemiskinan, tetapi juga dirasakan lebih merata oleh masyarakat.

Untuk menjaga kondisi ekonomi Jakarta sekaligus menekan ketimpangan, Pramono menegaskan tiga sektor akan tetap menjadi prioritas anggaran, yaitu pendidikan, kesehatan, dan bantalan sosial. 

Menurutnya, penguatan layanan pendidikan dan kesehatan serta perlindungan sosial menjadi bagian penting untuk menjaga kesejahteraan warga.

Pramono pun meyakini Jakarta masih dapat menjaga kinerja ekonominya di tengah tekanan ekonomi dunia, selama program-program prioritas tersebut tetap berjalan.

“Maka kenapa di daerah lain dalam kondisi ekonomi dunia yang sedang mengalami tekanan yang kuat seperti ini, Alhamdulillah Jakarta masih bisa berjalan dengan baik,” kata Pramono. (Zat)