Iran Ancam Usai Diserang : Bulan Gelap Menanti Ekonomi AS

Sejumlah bangunan hancur akibat serangan Amerika Serikat

DEKANNEWS - Pemerintah Iran mengisyaratkan respons yang lebih luas jika kembali mendapat serangan dari Amerika Serikat (AS). Wakil Presiden Pertama Iran Mohammad Reza Aref menegaskan, Teheran kini menyiapkan strategi pertahanan yang tidak hanya mengandalkan kekuatan militer, tetapi juga dapat memberikan tekanan terhadap kepentingan ekonomi AS.

Pernyataan tersebut disampaikan Aref pada Kamis (3/9/2026), di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan AS. Menurutnya, serangan AS baru-baru ini telah mendorong Iran mengubah perhitungan keamanan serta doktrin pertahanannya untuk menghadapi kemungkinan agresi berikutnya.

“Serangan AS baru-baru ini terhadap bangsa Iran telah mengubah perhitungan keamanan dan doktrin pertahanan kami. Mulai sekarang, tanggapan kami akan bersifat asimetris, berlapis-lapis, dan bertujuan untuk merampas keamanan dari agresor,” kata Aref dalam unggahan di platform X, seperti dikutip Anadolu.

Aref tidak merinci bentuk respons yang dimaksud. Namun, pernyataannya menunjukkan bahwa Iran membuka kemungkinan penggunaan berbagai instrumen untuk menghadapi AS, termasuk langkah-langkah yang dapat memberikan tekanam di luar medan perang dan berdampak terhadap kepentingan strategis Washington.

Salah satu peringatan yang disampaikan Aref berkaitan dengan sektor energi. Ia meminta Amerika Serikat mempertimbangkan untuk menimbun bensin dan bahan bakar sebagai antisipasi terhadap kemungkinan gangguan yang dapat terjadi akibat respons Iran.

“Bulan-bulan yang gelap menanti ekonomi Amerika,” ujar Aref. Pernyataan tersebut muncul ketika aktivitas militer di kawasan semakin meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energu global, khususnya jika ketegangan berkembang hingga mengganggu jalur pelayaran strategis.

Eskalasi terbaru bermula setelah AS melancarkan serangan di Pulau Larak, Iran, pada Minggu (30/8/2026). Iran kemudian merespons dengan meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah fasilitas militer AS di kawasan, termasuk pangkalan militer yang berada di Kuwait, Yordamia, dan Uni Emirat Arab.

Situasi tersebut kini menempatkan Selat Hormuz sebagai salah satu titik yang paling diperhatikan dalam perkembangan konflik. Jalur tersebut merupakan rute penting bagi pengiriman energi dunia, sehingga gangguan terhadap aktivitas pelayaran berpotensi memberikan dampak lebih luas terhadap harga bahan bakar dan perekonomian global. (Zat)