Amerika Catat Rekor Baru Nilai Hutang Tembus Rp712 Ribu Triliun di Masa Perang
DEKANNEWS - Amerika Serikat (AS) tengah terlilit permasalahan ekonomi. Bahkan dalam lima bulan saja, hutang negara adi kuasa tersebut melambbung hingga US$1 triliun atau sekitar Rp17.800 triliun (asumsi kurs Rp17.800 per dolar AS).
Nilai tersebut merupakan tertinggi bahkan menjadi rekor baru dalam sejarah beban utang negara tersebut. Saat ini, utang AS tercatat tembus US$40 triliun atau sekitar Rp712 ribu triliun.
Membengkaknya hutang AS terjadi di era perang Iran saat ini. Namun belum ada laporan terjadinya pertambahan hutang berkaitan dengan perang.
Ledakan utang AS disebabkan oleh sejumlah faktor. Faktor paling krusial yaitu terkait struktural, salah satunya pergeseran demografi akibat penuaan populasi.
Permasalahan lainnya yaitu terjadinya 10 ribu generasi Baby Boomers pensiun setiap harinya. Kondisi tersebut membuat negara harus menggelontorkan anggaran jumbo di saat rasio tenaga kerja produktif terus menyusut. Belanja jumbo dialokasikan untuk program Jaminan Sosial dan Medicare bagi warga yang pensiun tersebut.
Kebijakan fiskal Kongres AS juga memperparah kondisi keuangan negara. Mereka selama beberapa dekade terakhir gencar memangkas pajak, tetapi tetap menggenjot belanja.
Kebijakan itu mencakup Tax Cuts and Jobs Act 2017, paket One Big Beautiful Bill 2025 di era Donald Trump hingga stimulus penanganan pandemi Covid-19 di era Trump dan Joe Biden.
Kementerian Keuangan (Kemenkeu) AS juga mencatat defisit anggaran pemerintah telah menembus US$1,8 triliun atau setara Rp32,05 ribu triliun hanya dalam 10 bulan pertama tahun fiskal berjalan.
Tingginya tumpukan utang yang berbarengan dengan tren suku bunga tinggi kini memicu ledakan biaya bunga pinjaman hingga diproyeksikan melampaui US$1 triliun atau Rp17,8 ribu triliun dalam setahun.
CEO Peter G Peterson Foundation Michael Peterson mengatakan, jika kondisi tersebut berlangsung tanpa perubahan, dikhawatirkan jumlah hutang akan melesat hingga US$50 triliun
"Jika terus seperti ini, utang kita akan mencapai US$50 triliun hanya dalam enam tahun. Jika kita melihat ke belakang, utang kita masih US$20 triliun kurang dari 10 tahun yang lalu," ujar
"Kita benar-benar membahayakan perekonomian dan masa depan negara kita," tambahnya.
Selain itu, tekanan utang senilai Rp712 ribu triliun ini mulai merembet ke pasar obligasi dengan melonjaknya imbal hasil atau yield surat utang pemerintah AS, termasuk US Treasury tenor 30 tahun yang menyentuh level tertinggi sejak 2007. (Zat)
