Indonesia Dan Tiongkok Dan Amerika Di Antara Pusaran Konflik Palestina Israel

Adian Radius Pengamat Sosial Politik-(Foto-Ist)

Impresiasi Indonesia sehaluan politik dengan Tiongkok semakin kentara akibat hal ini meskipun tidak hanya kedua negara yang menolak. Beberapa negara penolak lainnya terbilang penganut garis keras terhadap HAM. Sungguh mendegradasi 'performance' Indonesia dikancah solidaritas kemanusiaan yang lebih tinggi dibutuhkan bangsa Palestina disaat pelik ini. 

Oleh : Adian Radius
Pengamat Sosial Politik.


Para pecinta Tiongkok sedang risau ketika mengetahui negara tirai sutra (dulu tirai bambu) itu mendukung perjuangan Palestina similar dengan pernyataan resmi pemerintah Indonesia. Sementara Amerika seperti biasa mendukung Israel. 

Kesamaan dukungan Tiongkok dan Indonesia tadi berlanjut di Dewan PBB urusan HAM, sama-sama TIDAK saat voting terkait penerapan pencegahan terhadap genosida, kejahatan perang, pembersihan etnis dan kejahatan kemanusiaan. Ada lima belas negara yang say 'NO' dan yang 'YES' ada seratus lima belas negara. 

Impresiasi Indonesia sehaluan politik dengan Tiongkok semakin kentara akibat hal ini meskipun tidak hanya kedua negara yang menolak. Beberapa negara penolak lainnya terbilang penganut garis keras terhadap HAM. Sungguh mendegradasi 'performance' Indonesia dikancah solidaritas kemanusiaan yang lebih tinggi dibutuhkan bangsa Palestina disaat pelik ini. 

Indonesia bukan negara brengsek yang memalukan dan pemerintah sangat berkewajiban moral besar untuk melindungi citra bangsa ini dimata dunia internasional atas keputusannya di PPB itu. Makna judul tema dokumen "The Responsibility to Protect (R2P)" sangatlah dalam esensinya saat ini karena kegentingan di Palestina oleh Israel semakin menjurus kearah 'war crimes against humanity'. 

Indonesia sendiri khususnya pemerintahan Jokowi tengah dirongrong oleh kelompok pro pemerintah yang baik secara terang-terangan ataupun samar-samar mendukung sepak terjang Israel terhadap Palestina. Ironisnya sebagian dari mereka karena alasan Agama dan teroris padahal bertahun lamanya perang disana adalah tentang dua bangsa dalam perebutan wilayah Palestina. 

Pendukung Tiongkok pun menjadi gamang  disebabkan umat Islam Indonesia demikian masif mendukung perjuangan Palestina dan akibat stigma agama yang sering mereka lekatkan membuat istilah 'kadrun' terasa melekat bila mereka mendukung perjuangan rakyat Palestina. Suatu kepandiran yang memprihatinkan. Ke- Indonesia-an terasa semu. 

Rasa kesatriaan dan kebesaran bangsa Indonesia malah ingin ditukar dengan persepsi urusan Palestina dan Israel bukanlah urusan bangsa Indonesia. Kritik penolakan atas pernyataan semacam itu semakin menyulitkan presiden Jokowi untuk menegakan wibawa Indonesia dalam pernyataan tegasnya menolak agresi Isreal atas wilayah Palestina. 

Mata hati sebagai bangsa besar Indonesia sudah saatnya dibuka lebar-lebar, tidak mendukung pernyataan Tiongkok membela Palestina berarti mendukung Amerika dan bila mendukung Amerika yang Israelis sama saja tidak mendukung Presiden Jokowi bahkan mempermalukannya. 

Saatnya seluruh komponen bangsa Indonesia kembali ke jati diri sesuai Pancasila dan pembukaan UUD 45 tentang penghapusan penjajahan dimuka bumi karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Jangan pernah jadi penghianat bangsa apalagi hanya karena kebencian atas agama lain semata... 

The End