Hubungan Israel - AS Terancam Retak Imbas Melemahnya Dukungan Demokrat
DEKANNEWS, JAKARTA - Perbedaan sikap mengenai bantuan militer kepada Israel semakin terlihat di tubuh Partai Demokrat Amerika Serikat. Konflik berkepanjangan di Gaza dan meningkatnya kritik terhadap kebijakan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mendorong munculnya pandangan yang semakin beragam di kalangan politikus Demokrat.
Perubahan tersebut menandai bergesernya posisi yang selama bertahun-tahun menjadi titik temu antara Partai Demokrat dan Partai Republik dalam mendukung Israel. Kedekatan Netanyahu dengan Partai Republik juga dinilai ikut memengaruhi perubahan sikap sebagian kalangan Demokrat.
Perbedaan pandangan itu tercermin dari semakin banyaknya anggota Kongres dan kandidat Partai Demokrat yang secara terbuka mengkriitik kebijakan Israel, termasuk mempertanyakan kelanjutan bantuan militer Amerika Serikat kepada sekutu dekatnya tersebut.
Perkembangan tersebut terlihat dalam pemungutan suara di DPR AS awal bulan ini. Hampir separuh anggota DPR dari Partai Demokrat mendukung amendemen ybang mengusulkan penghentian bantuan militer untuk Israel. Meski usulan itu gagal disahkan, hasilnya menunjukkan perubahan yang cukup signifikan dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
Amerika Serikat selama ini memberikan bantuan militer sekitar US$3,8 miliar setiap tahun kepada Israel. Selain itu, Washington juga telah mengalokasikan miliaran dolar AS dalam bentuk pendanaan darurat dalam beberapa tahun terakhir.
Pimpinan Fraksi Demokrat di DPR AS Hakeem Jeffries bersama sejumlah petinggi partai menolak amendemen tersebut karena dinilai terlalu luas. Namun, mantan Ketua DPR AS Nancy Pelosi dan Wakil Pimpinan Fraksi Demokrat Katherine Clark justru memberikan dukungan.
Perbedaan sikap di internal Demokrat pun semakin jelas. Sebagian anggota tetap mendukung bantuan militer penuh, sebagian hanya menyetujui pengiriman persenjataan defensif, sementara kelompok lainnya mendorong penghentian seluruh bantuan militer bagi Israel.
Senator Chris Coons, anggota senior Partai Demokrat di Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS, berharap pemilu Israel pada Oktober mendarang dapat menjadi momentum perubahan hubungan kedua negara. Menurutnya, pemerintahan baru berpotensi mengubah arah kebijakan.
Coons juga menilai Netanyahu mempertahankan situasi perang selama bertahun-tahun, salah satunya untuk menghindari konsekuensi politik atas kebijakan yang diambilnya.
Survei Perlihatkan Dukungan terhadap Israel Mulai Berubah
Perubahan sikap Partai Demokrat turut tercermin dalam hasil survei terbaru. Jajak pendapat Quinnipiac University pada Juni 2026 menunjukkan 48% warga Amerika Serikat menilai negaranya terlalu berpihak kepada Israel. Di kalangan pemilih Demokrat, angkanya mencapai 66%.
Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan survei serupa pada 2017. Saat itu, hanya 16% responden secara keseluruhan dan 20% pemilih Demokrat yang menilai Amerika Serikat terlalu mendukung Israel.
Meski demikian, Duta Besar Israel untuk PBB Danny Danon menehaskan dukungan terhadap Israel masih menjadi arus utama dalam politik Amerika Serikat meski perdebatan terus berkembang.
Perubahan pandangan juga terlihat dalam pemilihan pendahuluan senator Partai Demokrat di Michigan. Persaingan Abdul El-Sayed dan Haley Stevens menjadi gambaran kontras mengenai arah kebijakan Partai Demokrat terhadap Israel.
Stevens yang didukung American Israel Public Affairs Committee (AIPAC) menilai hubungan erat dengan Israel memberikan manfaat bagi keamanan dan ekonomi Amerika Serikat.
Sebaliknya, El-Sayed mempertanyakan kelanjutan bantuan militer kepada Israel dan menilai anggaran tersebut lebih tepat dialokasikan untyuk memenuhi kebutuhan masyarakat Amerika Serikat.
Konflik Gaza Dinilai Percepat Pergeseran Sikap Demokrat
Sejumlah pengamat menilai perubahan sikap Demokrat mulai menguat sejak Netanyahu menyampaikan pidato di Kongres AS pada 2015 untuk mengkritik kesepakatan nuklir Iran yang diinisiasi Presiden Barack Obama.
Gelombang kritik terhadap Israel semakin meningkat setelah perang Gaza pecah menyusul serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan hampir 1.200 watga Israel dan memicu operasi militer besar-besaran Israel di Jalur Gaza.
Menurut otoritas kesehatan Gaza, lebih dari 73.000 warga Palestina telah tewas sejak konflik dimulai. Sementara itu, Israel menyatakan operasi militernya bertujuan menghancurkan Hamas serta meminimalkan dampak terhadap warga sipil.
Shibley Telhami, profesor ilmu pemerintahan dan politik University of Maryland sekaligus peneliti senior Brookings Institution, menyebut perubahan tersebut sebagai sebuah "pergeseran paradigma" dalam cara sebagian kalangan Demokrat memandang Israel.
Sementara itu, Telhami memperkirakan dukungan Partai Republik terhadap Israel akan tetap kuat selama Presiden Donald Trump dan kelompok Kristen evangelis masih mempertahankan pengaruh politik mereka. (Zat)
