Perkuat Mitigasi Hadapi Kemarau, PAM Jaya Tinjau Waduk Jatiluhur guna Pastikan Pasokan Air Jakarta
DEKANNEWS, JAKARTA - Perumda PAM Jaya melakukan berbagai langkah strategis untuk memastikan pasokan air bersih bagi masyarakat Jakarta tetap aman di tengah musim kemarau, salah satunya dengan memperkuat mitigasi.
Salah satu perhatian utama diarahkan pada Waduk Jatiluhur yang menjadi sumber air baku terbesar bagi kebutuhan air Jakarta.
Direktur Utama PAM Jaya Arief Nasrudin mengatakan, pihaknya turun langsung meninjau kondisi Waduk Jatiluhur bersama jajaran Perum Jasa Tirta (PJT) II selaku pengelola waduk. Peninjauan dilakukan untuk memastikan ketersediaan air baku tetap mencukupi meski terjadi penurunan tinggi muka air (TMA).
"Suplai air baku yang dari Jatiluhur dalam kondisi aman walaupun tetap waspada karena penurunan MDPL di angka 96,3 saat ini posisinya. Dan kami harus meyakini sumber air baku kami di Jatiluhur ini karena memang kita benar-benar mengandalkan 80 persen untuk Jakarta," kata Arief saat meninjau Waduk Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat, Senin (31/8/2026).
Arief menyebut ketergantungan Jakarta terhadap sumber air baku Jatiluhur mencapai sekitar 82 persen. Karena itu, kondisi waduk menjadi salah satu titik yang sangat diperhatikan PAM Jaya dalam menjaga keberlangsungan pasokan air bersih bagi warga.
Menurut dia, PAM Jaya tidak hanya memantau kondisi pasokan air di Jakarta, tetapi juga memastikan sumber air baku yang menjadi andalan tetap dalam kondisi aman.
Arief mengatakan, berdasarkan hasil diskusi dengan PJT II, terdapat sejumlah langkah mitigasi yang dilakukan untuk menjaga volume air Waduk Jatiluhur agar tetap dapat memenuhi kebutuhan Jakarta.
"Mitigasi pun dilakukan oleh PJT II untuk menjaga volume air yang saat ini di Jatiluhur dalam kondisi yang masih aman untuk disuplai ke Jakarta," ujarnya.
Di sisi lain, kebutuhan irigasi tetap menjadi perhatian utama dalam pengelolaan air Waduk Jatiluhur. Pasalnya, air waduk juga harus memenuhi kebutuhan irigasi untuk menjaga sektor pertanian di wilayah yang menjadi lumbung pangan.
Direktur Pengembangan Usaha PJT II, Dikdik Permadi Yoffana, memastikan kondisi ketersediaan air Waduk Jatiluhur masih dapat memenuhi berbagai kebutuhan hingga akhir tahun.
Dikdik menyebut, berdasarkan kondisi saat ini dan perhitungan yang dilakukan pihaknya, kebutuhan air untuk irigasi, PDAM, industri, serta kebutuhan lainnya masih dapat dipenuhi.
"Secara prinsip pada saat ini tadi disampaikan bahwa tinggi muka air adalah pada posisi 96,33 MDPL dan secara perkiraan sampai dengan akhir tahun kita bisa memenuhi kebutuhan berikut itu untuk kebutuhan irigasi, kemudian untuk PDAM dan industri dan lainnya," kata Dikdik.
Meski demikian, PJT II tetap melakukan pemantauan dan evaluasi secara berkala. Menurut Dikdik, pembaruan kondisi waduk dilakukan setiap dua minggu sebagai bagian dari langkah mitigasi menghadapi perubahan kondisi air.
"Mudah-mudahan sampai dengan akhir tahun ini dalam kondisi aman dan tentunya secara rutin dua mingguan kami akan melakukan update terkait perkembangan-perkembangan terbaru untuk memitigasi tadi apa yang dikhawatirkan oleh Pak Dirut," ujarnya.
Sementara itu, General Manager Wilayah IV, PJT II, Anom Soal Herudjito, memaparkan kondisi waduk secara lebih rinci. Ia mengatakan TMA Waduk Jatiluhur saat ini berada di sekitar 96,33 MDPL.
Posisi tersebut sekitar 0,6 meter di bawah batas operasi normal bawah. Namun, kondisi tersebut belum menyentuh batas bawah operasi waduk yang berada di level 87,5 MDPL.
"Jadi dari posisi sekarang masih ada cadangan kita 11 meter ke bawah," kata Anom.
Menurut Anom, kondisi awal tahun 2026 turut menjadi faktor yang membuat ketersediaan air Jatiluhur masih relatif aman menghadapi musim kering. Pada 1 Januari 2026, posisi TMA waduk berada pada level yang tinggi sehingga terdapat cadangan air yang dapat dimanfaatkan selama periode kemarau.
PJT II juga melakukan simulasi ketersediaan air setiap dua minggu untuk memastikan kebutuhan sampai akhir tahun dapat terpenuhi.
Dari hasil perhitungan tersebut, Anom mengatakan hingga 31 Desember 2026 masih terdapat potensi ketersediaan air sekitar 3,6 miliar meter kubik.
Angka tersebut terdiri dari volume efektif yang tersedia saat ini sebesar 1,25 miliar meter kubik. Kemudian, aliran dari Sungai Citarum hingga akhir tahun diperkirakan mencapai 1,97 miliar meter kubik, ditambah sumber setempat sekitar 374 juta meter kubik.
Sementara itu, kebutuhan air yang harus dirilis hingga akhir tahun, termasuk untuk irigasi, PDAM dan industri, diperkirakan mencapai sekitar 2,658 miliar meter kubik. Rinciannya, 1,95 miliar meter kubik untuk kebutuhan irigasi dan 708 juta meter kubik untuk PDAM serta industri.
Dengan perhitungan tersebut, Anom menyebut masih terdapat neraca air positif sekitar 976 juta meter kubik.
"Sehingga balancing-nya masih plus 976 juta meter kubik," ujarnya.
Meski neraca air masih positif, PAM Jaya tidak ingin hanya mengandalkan kondisi saat ini. Arief mengatakan pihaknya membuka ruang untuk mendukung langkah Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) apabila diperlukan sebagai bagian dari mitigasi.
PAM Jaya juga berkoordinasi dengan pemerintah daerah serta lembaga terkait untuk memastikan kondisi sumber air tetap terjaga.
"Kita juga ingin melihat memastikan sumber air yang saat ini kita andalkan dari Jatiluhur ini juga terjaga aman. Dan itu bentuk dari partisipasi kita untuk supaya Jakarta aman," kata Arief.
Selain kondisi Waduk Jatiluhur, PAM Jaya juga memantau sumber air lainnya yang berpengaruh terhadap pelayanan air bersih di Jakarta. Arief menyebut terdapat persoalan intrusi air laut di kawasan Hutan Kota 1 yang turut memengaruhi kualitas sumber air.
Menurut Arief, kadar total dissolved solids (TDS) di kawasan tersebut telah berada di atas angka 2.000. Kondisi tersebut menjadi salah satu hambatan dalam pengelolaan sumber air untuk wilayah Jakarta Barat.
"Intrusi air laut di Hutan Kota 1 itu memang sudah masuk. Jadi TDS kita sudah di atas 2000. Dan itu yang menjadi salah satu hambatan untuk Barat Jakarta," ujarnya.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, PAM Jaya tengah berupaya melakukan rekayasa saluran agar distribusi sumber air dapat diseimbangkan. PAM Jaya juga mendorong pemanfaatan air hujan sebagai salah satu bagian dari upaya mitigasi.
Arief menegaskan, kondisi tersebut tidak serta-merta menunjukkan Jakarta sedang mengalami krisis air. Menurut dia, air untuk Jakarta masih tersedia dan tetap diproses oleh PAM Jaya.
"Jadi sejauh ini kata-kata krisisnya sebenarnya bukan krisis tentang airnya tidak ada. Airnya masih ada di Jakarta, masih kita proses," katanya.
PAM Jaya, lanjut Arief, akan terus memonitor kondisi sumber air dan melaporkannya kepada Gubernur DKI Jakarta secara berkala. Laporan tersebut dilakukan setiap minggu sebagai bagian dari upaya memastikan kondisi pasokan air yang diolah untuk masyarakat Jakarta tetap terpantau.
Dengan kondisi Waduk Jatiluhur yang berdasarkan simulasi PJT II masih memiliki neraca air positif hingga akhir tahun, PAM Jaya tetap memilih bersikap waspada dengan memperkuat mitigasi di berbagai sumber air. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga agar layanan dan cakupan air bersih bagi masyarakat Jakarta tetap berjalan di tengah tekanan musim kemarau. (Zat)
