Karhutla Makin Parah, Kabut Asap Mengancam Kalimantan

Kebakaran Hutan dan lahan

DEKANNEWS, KALIMANTAN - Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan tidak hanya terlihat dari melonjaknya jumlah titik panas, tetapi juga mulai berdampak pada jarak pandang. Di Kalimantan Barat (Kalbar), jarak pandang bahkan turun hingga kurang dari 1 kilometer seiring meningkatnya hotspot.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat kenaikan titik panas di sejumlah wilayah Kalimantan. Kalimantan Tengah (Kalteng) menjadi daerah dengan jumlah hotspot tertinggi, disusul Kalbar dan Kalimantan Selatan (Kalsel).

Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton Suar Pelita Panjaitan mengatakan jumlah hotspot di Kalbar bertambah 215 titik dibandingkan hari sebelumnya. Total hotspot di provinsi tersebut kini mencapai 2.825 titik.

"Untuk situasi terkini, di mana di Kalimantan Barat jumlah hotspot naik sebanyak 215, sehingga hotspot yang ada saat ini menjadi 2.825. Kemudian jarak pandang di bawah 1 km," ujar Berton dalam konferensi pers BNPB, Kamis (27/8/2026).

Peningkatan hotspot juga terjadi secara signifikan di Kalteng. BNPB mencatat tambahan 1.837 titik panas dalam sehari sehingga total hotspot mencapai 3.947 titik. Namun, jarak pandang di wilayah tersebut masih sekitar 4 kilometer.

"Untuk Kalimantan Tengah, hotspot juga naik sebesar 1.837 menjadi 3.947, jarak pandang sebesar 4 km," kata Berton.

Sementara itu, Kalsel mengalami tambahan 262 hotspot dibandingkan Rabu (26/8/2026). Dengan kenaikan tersebut, jumlah titik panas di provinsi itu mencapai 1.079 titik.

Meski jumlah hotspot di Kalsel meningkat, kondisi jarak pandamg masih relatif baik. BNPB mencatat jarak pandang di wilayah tersebut berada di atas 7 kilometer.

Peningkatan hotspot dan penurunan jarak pandang menjadi indikasi bahwa karhutla masih menjadi ancaman seruus di Kalimantan. Kondisi ini berpotensi memengaruhi kualitas udara dan aktivitas masyarakat apabila kebakaran terus meluas.

Berbeda dengan Kalimantan, perkembangan karhutla di sejumlah wilayah Sumatera menunjukkan tren yang lebih baik. Sumatera Selatan mencatat penurunan 263 hotspot sehingga jumlahnya menjadi 1.175 titik dengan jarak pandang mencapai 8 kilometer.

Penurunan hotspot juga terjadi di Riau dan Jambi. Riau mengalami penurunan 157 titik sehingga tersisa 68 hotspot, sementara Jambi turun 92 titik menjadi 42 hotspot.

BNPB berharap penurunan titik panas di sejumlah wilayah dapat terus terjadi sehingga ancaman karhutla dan dampaknya terhadap masyarakat semakin berkurang.

"Kita berharap titik panas yang ada di Sumatera dan di Kalimantan turun secara signifikan dan bahkan menjadi normal," kata Berton. (Zat)