Duet Prasetyo–Arief di PAM Jaya, Diperkuat Marullah Matali: Pelayanan Masyarakat Melesat, Target Gubernur Pramono 100% Layanan 2029 Kian Nyata
PENINGKATAN layanan air bersih bukan sekadar harapan, melainkan komitmen nyata yang diwujudkan melalui sinergi dengan Pemprov DKI Jakarta dan para pemangku kepentingan
Oleh : Sugiyanto (SGY)
Ketua Himpunan Masyarakat Nusantara (HASRAT)
Tahun lalu, tepatnya 16 Mei 2025, saya menulis artikel berjudul “Mantan Ketua Harian Tim Pemenangan Pram-Doel Jangan ke Daerah Terus: Pengalaman Eks Ketua DPRD DKI Dua Periode, Om Pras, Masih Dibutuhkan Jakarta.” Tulisan tersebut dimuat di beberapa media daring dan masih dapat ditelusuri hingga kini.
Prasetyo Edi Marsudi, yang akrab disapa Om Pras atau Om P, adalah sosok yang kaya pengalaman. Ia memahami berbagai persoalan besar Jakarta secara mendalam, termasuk akar masalah dan potensi solusinya. Karena itu, saya berpendapat pengalamannya masih sangat dibutuhkan Jakarta, terutama dalam mendukung program-program Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung dan Rano Karno.
Harapan itu kemudian terjawab. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo memberi kepercayaan kepada Om Pras. Pada awal Agustus 2025, Prasetyo Edi Marsudi resmi menerima amanah sebagai Ketua Dewan Pengawas Perumda Air Minum (PAM) Jaya, efektif sejak 4 Agustus 2025.
Kini saya menulis artikel sebagaimana judul di atas dengan merujuk pada pertemuan Ketua Dewan Pengawas PAM Jaya, Prasetyo Edi Marsudi, dan Direktur Utama PAM Jaya, Arief Nasrudin, bersama jajaran Board of Commissioners dan Board of Directors dengan Gubernur DKI Jakarta di Balai Kota pada Kamis, 29 Januari 2026. Pertemuan tersebut berlangsung dalam rangka penyampaian laporan rencana strategis pengembangan perusahaan
Dalam pertemuan tersebut, Prasetyo memaparkan perkembangan transformasi PAM Jaya, khususnya penguatan tata kelola perusahaan serta peningkatan kualitas dan cakupan layanan air minum bagi warga Jakarta. Transformasi manajemen dan perbaikan pelayanan menjadi fokus utama yang dilaporkan langsung kepada Gubernur. Gubernur Pramono juga memberikan arahan agar kebijakan dan strategi PAM Jaya selaras dengan visi pembangunan DKI Jakarta serta mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara berkelanjutan.
PAM Jaya berkomitmen bekerja lebih fokus, terukur, dan berkelanjutan. Peningkatan layanan air bersih bukan sekadar harapan, melainkan komitmen nyata yang diwujudkan melalui sinergi dengan Pemprov DKI Jakarta dan para pemangku kepentingan. Semua hal ini bertujuan untuk mempercepat pemerataan akses air minum berkualitas bagi seluruh warga.
Kolaborasi strategis antara Dewan Pengawas yang diketuai Prasetyo Edi Marsudi dan kepemimpinan eksekutif Arief Nasrudin menunjukkan perubahan signifikan dalam kualitas pelayanan air minum perpipaan di Jakarta. Sinergi ini semakin kuat dengan kehadiran Marullah Matali, mantan Sekretaris Daerah DKI Jakarta yang kini menjadi anggota Dewan Pengawas. Pengalaman birokrasi Marullah turut memperkuat arah kebijakan perusahaan.
Bagi saya, Prasetyo Edi Marsudi dan Marullah Matali, atau Bang Marullah, bukan sekadar teman atau rekan, melainkan sudah seperti abang sendiri. Prasetyo, atau Om Pras, adalah mentor dan guru politik saya, sedangkan Marullah Matali merupakan guru birokrasi sekaligus panutan spiritual bagi saya.
Singkatnya, baik Ketua Dewan Pengawas PAM Jaya Prasetyo Edi Marsudi maupun Anggota Dewan Pengawas Marullah Matali adalah sosok yang kaya pengalaman di bidangnya masing-masing dan sangat saya hormati. Keduanya diyakini akan memberikan dampak kinerja positif bagi PAM Jaya beserta berbagai program dan target besarnya.
Dalam konteks tersebut, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo menginginkan PAM Jaya mencapai 100 persen pelayanan air bersih bagi masyarakat pada 2029. Melihat kolaborasi Prasetyo Edi Marsudi dan Arief Nasrudin yang diperkuat oleh Marullah Matali, target tersebut kian nyata dan berpeluang besar terwujud. Hal ini bukan sekadar harapan atau imajinasi, melainkan didasarkan pada fakta dan capaian yang nyata.
Selain itu, Direktur Utama PAM Jaya Arief Nasrudin, dengan dukungan Ketua dan Anggota Dewan Pengawas, Prasetyo dan Marullah bersama jajaran Board of Commissioners dan Board of Directors lainnya, diyakini mampu menghadirkan keadilan akses air bersih bagi seluruh warga Jakarta, sejalan dengan amanat yang diberikan oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo. Melihat capaian PAM Jaya selama ini, target tersebut semakin realistis untuk dicapai.
Di sisi eksekutif, Arief Nasrudin tetap fokus menjalankan fungsi manajerial dengan pendekatan pragmatis dan berbasis data. Hingga akhir 2025, PAM Jaya berhasil menambah sekitar 206.537 sambungan rumah baru dan telah melayani 1.178.022 pelanggan dengan cakupan layanan mencapai 80,24 persen wilayah DKI Jakarta. Dalam tiga tahun pengelolaan mandiri sejak 2023, cakupan layanan meningkat signifikan. Pada 2026, PAM Jaya menargetkan pemasangan 450 ribu sambungan baru.
Kebijakan tersebut tidak semata mengejar angka, melainkan berorientasi pada pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Pada 2026, PAM Jaya memastikan tidak ada penyesuaian tarif sebagai bentuk komitmen pelayanan publik tanpa membebani warga. Seluruh program dan kebijakan PAM Jaya diarahkan untuk meningkatkan kualitas pelayanan guna memberikan kepuasan kepada seluruh pelanggan air minum PAM Jaya.
Dalam rangka memenuhi target besar PAM Jaya tersebut, sejalan dengan komitmen maksimal perusahaan, berbagai program percepatan dijalankan, antara lain distribusi 1.000 tandon air gratis untuk wilayah yang belum terjangkau jaringan pipa, program Kartu Air Sehat dengan tarif khusus bagi rumah tangga sederhana, layanan pengaduan 24 jam, sambungan baru gratis bagi rumah dengan luas bangunan di bawah 70 meter persegi, serta modernisasi dan digitalisasi layanan melalui Call Center 1500-223.
Komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan tercermin dari kebijakan pemanfaatan air permukaan untuk mengurangi eksploitasi air tanah secara berlebihan. PAM Jaya mengandalkan bahan baku air dari Waduk Jatiluhur dan 13 aliran sungai, serta tengah menjajaki penambahan pasokan air baku dari Waduk Karian. Intinya, bukan dari air tanah. Strategi ini penting untuk mencegah penurunan muka tanah sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem Jakarta dalam jangka panjang. Terkait hal tersebut, pada 23 Januari 2026 saya juga menulis artikel berjudul “Green Mindset Arief Nasrudin: PAM Jaya Andalkan Jatiluhur dan 13 Sungai, Tanpa Eksploitasi Air Tanah.”
Tantangan tentu masih ada, terutama kebutuhan investasi besar untuk menurunkan tingkat kebocoran jaringan (non-revenue water) serta memperkuat infrastruktur perpipaan agar kualitas air yang sampai ke rumah tangga semakin layak konsumsi. Namun, arah kebijakan PAM Jaya di bawah duet Prasetyo–Arief, yang diperkuat Marullah, menunjukkan fokus yang jelas pada pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.
Secara keseluruhan, kolaborasi antara pengawasan yang kuat dan kepemimpinan eksekutif yang inovatif menunjukkan bahwa peningkatan kualitas layanan publik dapat dicapai melalui tata kelola yang baik, orientasi pada kesejahteraan sosial, serta pendekatan teknis yang adaptif terhadap tantangan zaman. Perbaikan layanan air minum perpipaan di Jakarta ini menjadi rujukan penting bagi pengelolaan BUMD di daerah lain.
