BMKG Tetapkan 25 Daerah di Jateng Status Awas, Warga Diminta Antisipasi Kekeringan dengan Hemat Air
DEKANNEWS, JAWA TIMUR - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat serta pemerintah daerah meningkatkan kewaspadaan menyusul meluasnya wilayah yang masuk kategori rawan kekeringan.
Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Jateng Goeroeh Tjiptanto saat dihubungi dari Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Kamis, mengatakan sejumlah wilayah telah masuk status Awas yang menjadi kategori tertinggi dalam peringatan kekeringan.
“Berdasarkan pemantauan BMKG, wilayah berstatus Awas meliputi Cilacap, Brebes, Tegal, Banyumas, Purbalingga, Pekalongan, Banjarnegara, Kebumen, Wonosobo, Magelang, Kota Magelang, Purworejo, Klaten, Sukoharjo, Wonogiri, Karanganyar, Sragen, Grobogan, Blora, Rembang, Pati, Jepara, Kudus, dan Demak,” katanya dikutip hari ini, Kamis (3/9/2026).
Menurut Goeroeh, status Awas diberikan ketika suatu wilayah tidak mengalami hujan selama sedikitnya 61 hari berturut-turut. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena dapat menyebabkan sumber air mengering dan berujung pada kekeringan ekstrem yang mengancam pememnuhan kebutuhan dasar masyarakat.
Selain 25 kabupaten/kota yang masuk status Awas, BMKG mencatat sejumlah daerah lainnya berada pada tingkat Siaga. Wilayah tersebut meliputi Kota Tegal, Kota Semarang, Kota Salatiga, Kota Surakarta, Pemalang, Batang, Kendal, Kabuipaten Semarang, Temanggung, dan Boyolali. Sementara Kota Pekalongan masuk kategori Waspada.
Goeroeh menjelaskan status Siaga menunjukkan kondisi kekeringan yang mulai memburuk, diyandai tidak turunnya hujan selama lebih dari sebulan atau minimal 31 hari. Kondisi ini berpotensi membuat sumber air permukaan seperti sumur dangkal, sungai, dan embung mengalami penyusutan.
Dampak kekeringan juga mulai mengancam sektor pertanian. Menurutnya, berkurangnya ketersediaan air dapat menghanggu aktivitas pertanian, terutama di wilayah yang mengandalkan sumber air permukaan dan curah hujan.
Adapun status Waspada menjadi tahap awal peringatan kekeringan ketika hujan tidak turun selama sedikitnya 21 hari. Pada konsdisi tersebut, masyarakat diminta mulai melakukan penghematan air dan mengurangi penggunaannya untuk kebutuhan yang tidak mendesak.
“Seluruh status tersebut diikuti prediksi curah hujan kurang dari 20 milimeter per dasarian dengan peluang lebih dari 70 persen,” ujar Goeroeh.
Kondisi paling mengkhawatirkan berada di wilayah berstatus Awas. Pemerintah daerah dan instansi terkait diminta segera menyiapkan langkah untuk mencegah terjadinya krisis air bersih, salah satunya dengan menjadwalkan distribusi air menggunakan truk tangku secara rutin.
Di tengah keterbatasan air, masyarakat juga diminta mengutamakan penggunaan air untuk kebutuhan pokok, khususnya minum dan memasak. Penggunaan air untuk keperluan lain yang tidak mendesak perlu dikurangi sebagai bagian dari upaya menghadapi kondisi kekeringan.
Sektor pertanian juga perlu melakukan penyesuaian. Lahan tadah hujan memiliki risiko mengalami gagal panen atau puso akibat minimnya pasokan air. Petani disarankan memilih tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi kering atau mempertimbangkan untuk mengistirahatkan lahan sementara.
Kekeringan yang berkepanjangan turut meningkatkan potensi kebakaran lahan dan lingkungan. Karena itu, masyarakat diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta memastikan material yang mudah terbakar dibersihkan dari lingkungan sekitar.
Ancaman lainnya adalah gangguan kesehatan. Keterbatasan air dapat meningkatkan risiko dehidrasi dan mengganggu sanitasi, sementara kondisi lingkungan yang berdebu juga dapat meningkatkan potensi gangguan pernapasan.
“Kondisi tersebut berpotensi memicu penyakit seperti diare, penyakit kulit, serta Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA),” kata Goeroeh.
Dengan 25 kabupaten/kota telah berstatus Awas, kekeringan di Jawa Tengah perlu diantisipasi secara menyeluruh. Persiapan distribusi air bersih, penyesuaian kregiatan pertanian, pencegahan kebakaran, hingga perlindungan kesehatan masyarakat menjadi langkah penting untuk mengurangi dampak kondisi kering yang masih mengancam. (Zat)
