Pemprov Banten Dorong Perpanjangan KRL hingga Merak, Penumpang Capai 18.000 per Hari

KRL Green Line Tanah Abang - Rangkas Bitung

 


DEKANNEWS, JAKARTA - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten menyusun studi kelayakan atau feasibility study (FS) untuk mengusulkan elektrifikasi jalur kereta api (KA) lintas Rangkasbitung-Serang-Cilegon-Merak. Kajian tersebut dilakukan sebagai langkah mendorong perpanjangan layanan kereta rel listrik (KRL) hingga Merak guna mempermudah mobilitas masyarakat.

Pemprov Banten menilai perjalanan KRL dari Rangkasbitung ke Merak layak untuk direalisasikan dan diperlukan bagi kebutuhan transportasi masyarakat. Usulan elektrifikasi itu disiapkan karena Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029 hanya mencantumkan pembangunan jalur ganda lintas Rangkasbitung-Merak tanpa elektrifikasi.

"Tujuan utama studi ini adalah menyiapkan dokumen kelayakan dari berbagai aspek, mencakup aspek teknis, ekonomi/finansial, lingkungan, hingga kelembagaan, sebagai dokumen kesiapan yang disyaratkan pemerintah pusat, dalam hal ini Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan," kata Plt Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Banten, Endad Haryanto, kepada wartawan, Senin (21/9/2026).

Endad menyebut beberapa hasil studi kelayakan menunjukkan proyek ini layak dilakukan oleh pemerintah. Salah satunya terkait investasi dan tingkat kelayakan ekonomi yang cukup baik.

"Pengembangan elektrifikasi jalur kereta api Rangkasbitung-Merak membutuhkan biaya investasi sekitar Rp 1,29 triliun. Pengembangan elektrifikasi tersebut memberikan tingkat kelayakan ekonomi yang cukup baik, dengan nilai economic internal rate of return (EIRR) di atas 10 persen. Dengan demikian, berdasarkan hasil kajian, investasi pembangunan ini dinilai layak dilakukan oleh pemerintah," kata Endad.

Menurut Endad, elektrifikasi atau pembuatan jalur KRL berdampak positif tidak hanya dari sisi ekonomi namun juga dari segi penumpang. Adanya transportasi tersebut akan meningkatkan penumpang harian lintas Rangkasbitung-Merak dari 9.900 penumpang per hari menjadi 18.000 penumpang per hari. Saat ini, perjalanan kerteta lokal atau Commuter Line Rangkasbitung-Merak menggunakan kereta lokomotif biasa.

"Pengembangan secara bertahap dapat dilakukan melalui pembangunan elektrifikasi jalur kereta api Rangkasbitung-Serang terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan hingga Cilegon dan Merak," katanta.

Dia berharap pengembangan elektrifikasi jalur kereta api Rangkasbitung-Merak dapat diintegrasikan dengan pembangunan jalur kereta api ganda (double track) Rangkasbitung-mnerak yang telah direncanakan Direktorat Jenderal Perkeretaapian hingga 2029. Menurutnya, elektrifikasi jalur tersebut dapat membuat KRL rute Tanah Abang-Rangkasbitung atau green line diperpanjang hingga Merak.

"Dengan terbangunnya elektrifikasi jalur kereta api Rangkasbitung-Merak, layanan operasional KRL Commuter Line Rangkasbitung lintas Tanah Abang-Rangkasbitung dapat diperpanjang hingga Serang, Cilregon, dan Merak," ujar Endad.

Pemerintah juga perlu membangun beberapa prasarana penunjang KRL mulai dari fasilitas stabling di Stasiun Rangkasbitung maupun rencana stasiun baru dan stabling KRL di Cihideung, Cipocok Jaya/Banjaragung.

"Selain itu, diperlukan fasilitas pelayanan penumpang dan fasilitas alih moda di semua stasiun kereta api, jalan akses menuju stasiun, serta penanganan perlintasan sebidang melalui penyediaan perlengkapan dan penjagaan perlintasan," katanya. (Zat)