Moskwa Diserang Drone Ukraina usai Partai Putin Menang Pemilu
DEKANNEWS - Partai Rusia Bersatu yang mendukung Presiden Vladimir Putin mempertahankan kendali atas parlemen Rusia setelah meraih mayoritas dalam pemilihan Duma Negara. Pemilu tersebut berlangsung di tengah konflik dengan Ukraina dan serangan pesawat tak berawak besar-besaran yang menyasar Moskwa pada hari terakhir pemungutan suara.
Berdasarkan hasil penghitungan yang hampir final, Rusia Bersatu memperoleh sekitar 57,83 persen suara setelah lebih dari 95 persen suara dihitung. Komisi Pemilihan Pusat Rusia menyatkan partai tersebut meraih 355 dari total 450 kursi Duma Negara.
Pemilihan ini menjadi pemilu parlemen pertama di Rusia sejak invasi skala penuh ke Ukraina pada 2022. Proses pemungutan suara berlangsung selama tiga hari dan mencakup wilayah Ukrauna yang diduduki serta dianeksasi Rusia, meskipun hasil pemungutan suara di wilayah tersebut ditolak oleh Kyiv.
Pelaksanaan pemilu bertepatan dengan serangan pesawat tak berawak Ukraina ke Moskwa dan kawasan sekitarnya. Serangan pada Minggu (20/9/2026) disebut sebagai salah satu serangan terbesar terhadap ibu kota Rusia sejak perang dimulai, dengan laporan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur, termasuk fasilitas kilang minyak.
Pemerintah Rusia menuduh Ukraina berupaya mengganggu penyelenggaraan pemilu melalui serangan tersebut. Kementerian Pertahanan Rusia juga menyatakan serangan itu dapat menjadi alasan untuk meningkatkan serangan terhadap Kyiv, sementara Ukraina tidak mengakui tuduhan yang disampaikan Moskwa.
Perolehan suara Rusia Bersatu diperkirakan membuat partai tersebut tetap menguasai msayoritas konstitusional di Duma Negara. Partai Komunis menempati posisi berikutnya dengan sekitar 14 persen suara, sedangkan Partai Demokrat Liberal Rusia (LDPR) meraih sekitar 8,7 persen berdasarkan hasil yang dilaporkan.
Selain berlangsung di tengah perang, pemilu Rusia juga digelar dalam kondisi politik yang ketat. Sejumlah kelompok oposisi anti-perang tidak dapat berpartisipasi, sementara partai Yabloko yang menentang perang di Ukraina dilarang mengikuti pemilihan anggota Duma Negara.
Peneliti senior Peterson Institute for International Economics, Elina Ribakova, menilai pemilu memiliki arti penting bagi pemerintah Rusia dalam mempertahankan legitimasi politiknya. Dia menyampaikan pandangan tersebut dalam wawancara dengan Squawk Box Europe CNBC pada Senin (21/9/2026).
“Saya pikir penting bagi rezim untuk menunjukkan legitimasi kekuasaannya, bukan? Orang-orang telah memberikan suara dan fakta yang menarik, kepala Republik Chechnya (Ramzan) Kadyrov, misalnya, mendapatkan 99,85% suara,” kata Ribakova.
Ribakova juga menyoroti situasi yang mungkin dihadapi pemerintah Rusia setelah pemilu, terutama apabila terjadi perdamaian atau gencatan senjata dengan Ukraina. Menurutnya, kembalinya ratusan ribu peserta perang ke Rusia dapat menjadi tantangan di tengah kondisi ekonomi yang menghadapi inflasi tinggi dan pertumbuhan yang stagnan.
“Apa yang terjadi setelah pemilihan, itulah yang benar-benar penting. Saya pikir Putin sendiri paling khawatir tentang para peserta perang. Akan ada ratusan ribu orang yang akan kembali, jika ada perdamaian atau gencatan senjata sementara, ke Rusia yang menghadapi stagflasi: inflasi tinggi dan pertumbuhan nol,” ujar Ribakova.
Dia menyebut para peserta perang sebagai kelompok dalam populasi Rusia yang perlu menjadi perhatian pemerintah. Ribakova menilai perkembangan situasi kelompok tersebut dapat berpengaruh terhadap kondisi politik Rusia setelah pemilu.
“Inilah yang disebut Rusia sebagai bagian populasi yang paling bersemangat, yang perlu benar-benar dikhawatirkan oleh rezim," tuturnya.
Zelensky Bertemu Trump di New York
Di tengah perkembangan politik dan militer tersebut, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyampaikan rencana pertemuan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di New York. Pertemuan itu akan berlangsung di sela-sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pekan ini.
“Kami sepakat untuk bertemu di New York, dan pertemuan ini bisa mengubah banyak hal. Ada momentum diplomatik,” kata Zelensky melalui media sosial.
Zelensky mengatakan kedua pihak juga membahas sejumlah gagasan untuk mendorong de-eskalasi dan menangani persoalan keamanan. Isu yang disebut mencakup keamanan energi, keamanan pangan, serta perlindungan terhadap nyawa manusia.
“Ada beberapa gagasan untuk langkah-langkah de-eskalasi dan untuk mengatasi masalah keamanan mendasar keamanan energi, keamanan pangan, dan perlindungan nyawa manusia. Kami bekerja sama dengan tim Amerika dan siap untuk mengambil langkah-langkah yang benar-benar serius,” tambahnya.
Rencana pertemuan Zelensky dan Trump berlangsung ketika upaya diplomatik untuk mendorong penurunan eskalasi perang Rusia-Ukraina terus dilakukan. Sebelumnya, Zelensky menyatakan jalur perdamaian menjadi salah satu prioritas utama Ukraina.
Setelah menyampaikan rencana pertemuan dengan Trump, Zelensky juga memberikan perkembangan mengenai situasi di Zaporizhzhia. Dia mengatakan serangan Rusia pada malam sebelumnya menyebabkan kerusakan pada sejumlah bangunan dan fasilitas. (Zat)
