DPRD DKI Dorong Pemeriksaan Sistem Deteksi Kebakaran di Seluruh Gedung
DEKANNEWS, JAKARTA - DPRD DKI Jakarta meminta seluruh gedung di Ibu Kota melengkapi sistem deteksi dini kebakaran. Desakan ini muncul setelah kebakaran berulang terjadi dalam waktu berdekatan, termasuk dua kali kebakaran di Gedung Bappenda DKI Jakarta dan kebakaran di kawasan Pasar Kebayoran Lama.
Ketua DPRD DKI Jakarta Suhud Alynudin menilai rentetan kejadian tersebut menunjukkan masih perlunya penguatan sistem keselamatan kebakaran pada bangunan, baik milik pemerintah maupun swasta.
“Kami sangat prihatim. Peristiwa ini terjadi dalam rentang waktu yang pendek,” kata Suhud di Gedung DPRD DKI Jakarta, Jumat, 25 September.
Gedung Bappenda DKI Jakarta tercatat mengalami kebakaran pada 7 dan 21 Agustus 2026. Selang sehari setelah peristiwa kebakaran di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, pada Selasa, 22 Septwmber malam, persoalan keselamatan bangunan kembali menjadi pethatian DPRD DKI.
Menurut Suhud, pencegahan kebakaran tidak cukup hanya mengandalkan alat pemadam api ringan (APAR). Setiap bangunan perlu memiliki sistem yang dapat mendeteksi potensi kebakaran sedini mungkin sehingga peringatan bisa diberikan sebelum api membesar.
“Banyak bangunan belum memperhatikan standar keselamatan,” tegas dia.
Suhud memuinta Pemprov DKI, terutama Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat), memperketat pemeriksaan terhadap standar keselamatan bangunan. Pengawasan tersebut dinilai perlu dilakukan secara berkala, termasuk memastikan perangkat keselamatan yang tersedias benar-benar berfungsi.
“Aturannya sudah ada. Tinggal memastikan pelaksanaannya,” ungkap Suhud.
Dia mengingatkan penanganan kebakaran tidak boleh baru dilakukan ketika api sudah muncul. Pemerintah dan pengelola bangunan harus memperkuat langkah pencegahan untuk menekamn risiko kebakaran sejak awal.
Selain pemeriksaan bangunan, Suhud meminta edukasi mengenai pencegahan kebakaran diperluas kepada masyarakat dan pengelola gedung. Hal ini dinilai semakin penting di tengah kondisi kemarau yang dapat meningkatkan risiko kebakaran.
“Pencegahan harus menjadi perhatian serius. Jangan bergerak setelah kebakaran terjadi," ucap Suhud.
Berdasarkan data Dinas Gulkarmat DKI Jakarta, terdapat 1.216 kejadian kebakaran di Jakarta sepanjang 1 Januari hingga 31 Agustus 2026.
Jakarta Barat menjadi wilayah dengan kejadian kebakaran terbanyak, yakni 343 kasus atau 28,21 persen. Disusul Jakarta Selatan dengan 252 kejadian, Jakarta Timur 218 kejadian, Jakarta Pusat 202 kejadian, dan Jakarta Utara 201 kejadian. (Zat)
