Wisatawan Keluhkan Parkir Pelabuhan Kaliadem

Kondisi lahan parkir di Pwlabuhan Kaliadem pada 24 Februari 2020. (Foto: Dekan)

Jakarta, Dekannews- Wisatawan yang akan menyeberang ke Pulau Seribu melalui Pelabuhan Kaliadem, Jakarta Utara, mengeluhkan buruknya fasilitas parkir di pelabuhan itu.

'Tempat parkirnya yang dari tanah itu tidak rata dan berlubang-lubang. Untung sekarang nggak hujan. Kalau semalam atau pagi ini hujan, lubang-lubang itu menjadi kubangan," kata Andri, warga Kelapa Gading, Jakarta Utara, yang akan menyeberang ke Pulau Pramuka, Minggu (8/3/2020).

Pengusaha muda ini mengaku dirinya memang telah beberapa kali ke Pulau Pramuka untuk suatu keperluan. Terakhir, ia ke pulau itu pada pertengahan Januari 2020 silam.

Waktu itu, kata dia, Jakarta diguyur hujan dan kondisi lahan parkir itu becek. Lubang-lubang yang menganga di lahan parkir itu menjadi kubangan karena tergenang air.

"Mobil saya waktu itu sempat terperosok di salah satu lubang itu, tapi untungnya tidak dalam, sehingga bisa keluar lagi," imbuh dia.

Seorang pedagang di kawasan Pelabuhan Kaliadem yang enggan disebut namanya mengakui, kondisi lahan parkir yang tidak rata dan berlubang-lubang itu memang dikeluhkan wisatawan.

"Saya sering dengar mereka mengomel, karena kalau habis hujan, lahan parkir itu kan becek, dan mereka mau gak mau harus tetap parkir di situ. Jadi, begitu keluar dari mobil, mereka langsung menginjak tanah yang becek itu, sehingga sepatu, sandal dan celana panjangnya jadi kotor," kata dia.

Andri berharap pengelolaan parkir di Pelabuhan Kaliadem ditingkatkan. Apalagi karena meski BMKG mengatakan bahwa curah hujan yang tinggi atau ekstrem hanya akan terjadi hingga Maret, namun tidak menutup kemungkinan pada April hingga Agustus yang merupakan siklus musim kemarau, hujan tetap akan turun akibat pengaruh global warming.

Kalau pengelolaan parkir di Pelabuhan Kaliadem tidak ditingkatkan, kata dia, dirinya yakin banyak walisatawan yang akhirnya kapok menyeberang ke Pulau Seribu melalui Pelabuhan Kaliadem dan akan memilih menyeberang melalui Pantai Marina, Ancol, Jakarta Utara, meski tarif kapal di sana lebih mahal, karena kapal yang tersedia di Pantai Marina hanya kapal cepat, bukan kapal tradisional seperti di Pelabuhan Kaliadem.

"Memang siapa sih yang mau becek-becekan terus? Kita kan ke pulau untuk bersenang-senang, bukan untuk becek-becekan. Apalagi sampai kejeblos di kubangan," tegasnya. 

Informasi yang dihimpun dekannews.com menyebutkan, lahan parkir di Pelabuhan Kaliadem dikelola oleh CV Cahaya Muara Angke (CMA). Lahan itu memang masih berupa tanah dan tentu akan menjadi becek jika disiram hujan.

Selain itu, tanah di lahan parkir itu juga tidak rata dan berlubang-lubang, sehingga jika disiram hujan, lubang-lubang itu berubah menjadi kubangan karena terisi air.

Pada Senin 24 Februari 2020, saat Dekannews ke Pelabuhan Kaliadem, dan melihat kondisi lahan parkir itu, Dekannews sempat mengobrol dengan Novi, karyawan CV CMA yang bertugas di loket pintu masuk tempat parkir Pelabuhan Kaliadem.

Novi mengatakan, lahan parkir perusahaannya itu mulai rusak pada pertengahan Februari 2020, akibat terus menerus diguyur hujan dan akibat masuknya mobil-mobil besar, termasuk truk proyek revitalisasi Pelabuhan Kaliadem

"Tadinya tanah di tempat parkir ini rata kok, dan nggak berlubang-lubang, tapi karena terus diguyur hujan dan dimasuki mobil-mobil besar, akhirnya seperti itu," katanya.

Ketika ditanya apakah telah ada wisatawan yang komplain? Dia menggeleng.

"Nggak ada, Pak," kata karyawan berseragam Dinas Perhubungan DKI Jakarta tersebut.

Dari keterangan Novi diketahui kalau lahan parkir di Pelabuhan Kaliadem hanya penuh pada akhir pekan atau hari libur di saat pelabuhan dibanjiri wisatawan yang akan menyeberang ke Pulau Seribu dengan kapal tradisional.

"Kalau Sabtu, Minggu dan hari libur pemasukan kita bisa mencapai Rp20-25 juta per hari. Kalau hari biasa, yang parkir bisa dihitung dengan jari," katanya.

Tarif parkir yang dikenakan CMA adalah Rp4.000 untuk jam pertama bagi kendaraan roda empat, dan Rp2.000 untuk setiap jam selanjutnya. Sementara sepeda motor dikenakan Rp2.000 untuk jam pertama, dan Rp1.000 untuk setiap jam berikutnya.

Tarif parkir untuk kendaraan yang diinapkan adalah Rp45.000/hari untuk mobil biasa, dan Rp65.000/hari untuk truk dan mobil besar lainnya.

Sayang, meski telah lebih dari sepekan sejak Dekannews berkunjung ke Kaliadem, kondisi lahan parkir di pelabuhan itu ternyata tak berubah. (rhm)