WHO Prediksi Puncak Gelombang Kedua Pandemi Covid-19 Bisa Timbulkan Lebih Banyak Kematian

Kantor WHO di Jenewa, Swiss. (Foto: WHO)

Jenewa, Dekannews- Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan puncak gelombang kedua pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) akan terjadi secara mendadak dan tidak akan terlihat secara bertahap seperti pada gelombang pertama, sehingga dapat menimbulkan korban jiwa yang lebih banyak. 

"Kita mungkin akan berada di puncak gelombang kedua pandemi (Covid-19) yang ditandai lonjakan kasus secara mendadak yang bisa membebani sistem perawatan kesehatan, dan kemungkinan menyebabkan lebih banyak kematian," kata Direktur Eksekutif Program Kedaruratan Kesehatan WHO, Mike Ryan, seperti dilansir CNN, Jumat (29/5/2020). 

Menurut dia, saat ini dunia masih berada dalam gelombang pertama pandemi virus asal China itu, dan jumlah kasus orang yang terinfeksi masih akan terus bertambah dengan jumlah yang bisa saja tiba-tiba melonjak secara signifikan.

Para ahli penyakit menular meyakini, penyebaran virus yang asal usulnya belum jelas ini akan kembali melonjak ketika musim panas berakhir, namun seberapa parah lonjakannya, tidak mereka ketahui. 

Dalam skenario pertama para ahli tersebut, pada puncak kedua pandemi Covid-19, kasus infeksi virus ini akan meningkat tajam dan cepat, sehingga mencapai titik puncak yang baru.
 
Pada gelombang kedua ini, infeksi bisa diketahui lebih lambat dibanding pada gelombang pertama, dan berdampak di seluruh dunia dalam waktu yang berbeda. 
 
Namun pada skenario kedua para ahli di mana kurva sudah mulai rata, akan lebih banyak orang terinfeksi Covid-19 di saat yang sama, sehingga akan membebani sistem perawatan medis.
 
Direktur departemen kedokteran darurat di Johns Hopkins University, Gabe Kelen, mengatakan, ketika rumah sakit dan petugas kesehatan kewalahan, ada kemungkinan yang tinggi untuk mencegah angka kematian.

"Satu-satunya alasan nyata untuk meredam puncak (pandemi) ini adalah mencegah kematian yang bisa dicegah, sehingga sistem perawatan kesehatan dapat menangani semua orang yang membutuhkan (perawatan) dan memberi upaya pemulihan terbaik," kata Kelen.
 
Itu sebabnya, lanjut dia, mengapa banyak orang yang membuat data tentang perataan kurva, karena semakin stabil tingkat infeksi, maka akan semakin mudah untuk ditangani.
 
Jika rumah sakit kewalahan menangani pasien Covid-19 ditambah kurangnya fasilitas kesehatan, ditakutkan akan lebih banyak mengakibatkan kematian yang sia-sia.
 
Puncak kedua pandemi diprediksi akan terjadi selama musim gugur atau di akhir musim dingin, bertepatan dengan musim flu.

Namun jika saat ini banyak negara membuka pembatasan, maka penularan skala besar akan terjadi dan dunia akan kembali memasuki fase awal ketika virus ini menyebar.
 
Lonjakan kasus bisa terjadi di awal Juni. Pembukaan pembatasan juga bisa mempengaruhi waktu dan tingkat keparahan infeksi.
 
Episentrum Covid-19

WHO menilai, masih ada beberapa titik episentrum virus corona di seluruh dunia yang menyebabkan kekhawatiran meningkatnya kasus.
 
Pemimpin teknis tanggapan virus corona WHO, Maria Van Kerkhove, mengatakan, pihaknya mencermati peningkatan kasus di Rusia, Afrika, Amerika, beberapa negara di Asia Selatan, dan Eropa.
 
"(Negara-negara) itu adalah area yang kami khawatirkan karena seperti yang kita ketahui, ketika virus ini memiliki kesempatan untuk benar-benar bertahan, ia bisa tumbuh dengan sangat, sangat cepat," kata Van Kerkhove.

Dia berharap penggunaan vaksin bisa direalisasikan di akhir tahun, tapi hanya jika semua berjalan dengan baik. Saat ini, para ilmuwan bekerja sepanjang waktu meneliti lebih dari 100 vaksin potensial virus corona.
 
Hingga saat ini, jumlah pasien positif Covid-19 di seluruh dunia mencapai 5.909.003 orang dengan 362.081 orang di antaranya meninggal, dan 2.581.951 orang dinyatakan sembuh. 

AS menempati posisi pertama penderita Covid-19 dengan jumlah 1.768.461 orang. (rhm)