Warganet Minta Megawati Ditangkap PDIP Dibubarkan

Foto: Dekan

Jakarta, Dekannews- Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) agaknya telah dianggap sebagai musuh yang nyata bagi umat Islam, menyusul terbitnya Rancangan Undang-undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) yang dinilai memberi peluang untuk bangkitnya kembali Partai Komunis Indonesia (PKI). 

Pasalnya, selama ini pemerintahan Presiden Jokowi yang ditopang koalisi PDIP sangat tidak ramah terhadap Islam, karena menstigma Islam sebagai agama radikal dan intoleran. Bahkan salah satu Ormas-nya, yakni Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), dibubarkan karena dituding berniat mengganti Pancasila dengan khilafah (sistem pemerintahan yang didasari ajaran Islam), sementara Surat Keterangan Terdaftar (SKT) Ormas Islam yang lain, yakni Front Pembela Islam (FPI), tak kunjung diperpanjang Kemendagri, karena pemerintahan juga berniat membubarkan Ormas ini. 

HTI dibubarkan dengan cara dicabut Badan Hukum Perkumpulan (BHP)-nya. 

Melalui RUU HIP, umat Islam agaknya semakin paham siapa sebenarnya yang ingin mengganti Pancasila, dan untuk apa. Kemarahan mereka tak terbendung karena selama ini merasa difitnah dan dizalimi. Kemarahan itu meluap hingga ubun-ubun. MUI bahkan telah mengancam, jika RUU HIP disahkan DPR, lembaga itu akan melakukan masirah kubra atau aksi besar-besaran yang bahkan jauh lebih besar dari Aksi 212 yang melibatkan lebih dari 7 juta umat Islam dari berbagai daerah. 

""Makar Jahat" itu pasti akan kembali kepada pembuatnya. Bagi Allah itu mudah. HTI dituduh mau mengubah Pancasila, padahal hanya mendakwahkan Islam, karena itu dicabut BHP-nya. Sekarang Allah buka mata seluruh rakyat siapa yang sebenarnya mengubah Pancasila melalui RUU HIP," kata KH Hafidz Abdurrahman seperti tertulis dalam poster yang diposting pemilik akun Twitter @Saeful_Maul542, Minggu (21/6/2020). 

Hari Minggu (21/6/2020) ini, sejak pagi hingga pukul 14:00 WIB sebuah tagar yang menyerang PDIP dan ketua umumnya, Megawati Soekarnoputri, nangkring di puncak trending topics Twitter Indonesia. 

Ini hari ketiga beruntun dimana sebuah tagar menyerang sebuah partai dan ketua umumnya, setelah tagar #MakzulkanJokowiBubarkanPDIP, dan #PDIPSarangKomunis. 

Pagi ini tagar yang trending adalah #TangkapMegaBubarkanPDIP. 

Hingga pukul 14:00 WIB tagar itu nangkring di puncak trending karena dicuitkan 26.600 kali dengan cepat oleh warganet. 

"RUU HIP itu ide siapa? Pancasila mau diubah jadi Trisila. Sila Pertama Menjadi Ketuhanan Yang Berkebudayaan.. Rekam jejak ada.. Tinggal mau tegakkan keadilan atau tidak? Tangkap, usut, periksa, dan jika terbukti bersalah? #TangkapMegaBubarkanPDIP #TangkapMegaBubarkanPDIP, " kata @MDevi_RI20523, salah satu warganet yang melambungkan tagar tersebut. 

"Ternyata biang keroknya si nenek banteng ini. #TangkapMegaBubarkanPDIP," kata @Donatel07578401 seraya menyematkan tangkapan layar dari sebuah berita berjudul "Megawati: Pergi Dari Indonesia Jika Ingin Ganti Pancasila". 

Dari cuitan-cuitan warganet yang mempopulerkan tagar itu, diketahui kalau tagar itu dilambungkan juga karena ada pernyataan Rachmawati Soekarnoputri saat Haul ke-50 Presiden Soekarno di kediamannya di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Sabtu (20/6/2020).

Hal ini terungkap antara lain dari cuitan @Vife70664464.

"#TangkapMegaBubarkanPDIP. "Pelaku makar itu jelas Megawati. Dia sumber kekacauan di negeri ini. 12 dosa dia yang saya catat". Rachmawati Soekarnoputri," kata pemilik akun itu seraya menyematkan video yang berisi pernyataan Rachmawati yang kalimatnya dia kutip untuk diposting. 

Berikut pernyataan Rachmawati dalam video itu:

"Megawati sumber kekacauan. Cuma dia dari sejak awal ...  12 dosa dia yang saya coba rangkum, terutama ketika dia menandatangani amandemen undang-undang Konstitusi, penjaualan BUMN... banyak lagi, tapi nggak diapa-apain. Saya sebenarnya merasa aneh juga,  (karena kalau) kita kritik pemerintah, denga gampang dimakarkan. Gak usah jauh-jauh,  sejak 2016, selama bertahun-tahun saya kaji gimana caranya kembali ke UUD 1945 (karena)  saya orang pertama yang nolak amandemen. Saya bikin tim waktu itu dan waktu itu juga bersamaan dengan heboh (Aksi) 212. Saya mau ngajukan testimoni ke MPR, sudah bikin appointmen dengan Ketua MPR Pak Zulkufli (Hasan) agar MPR bersidang untuk kmbali ke UUD 1945,  kok dimakarkan? Unsurnya dimana? Kalau mau melihat secara obyektif, yang makar itu Megawati". 

Rachmawati ditangkap Polda Metro Jaya di rumahnya pada 2 Desember 2016 bersama sembilan aktivis lain seperti Sri Bintang Pamungkas dan Ratna Sarumpaet dengan tuduhan akan melakukan makar.

Penangkapannya terjadi pada hari Aksi 212 digelar untuk mendesak Polri memproses kasus dugaan penistaan agama oleh Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Aksi ini fenomenal karena dihadiri lebih dari 7 juta umat Islam. (rhm)