Wall Street Ambruk Jelang Babak Baru Perang Dagang AS-China

Suasana di NYSE. (Foto: Forbes)

Washington, Dekannews- Tiga indeks acuan Wall Street rontok pada akhir perdagangan Kamis (9/5/2019) waktu setempat, menjelang pemberlakuan rencana kenaikan bea impor terhadap berbagai produk asal China pada Jumat (10/7/2019) dini hari waktu AS.

Dow Jones Industrial Average turun 138,97 poin atau 0,54%, sementara S&P 500 melemah 0,3%, dan Nasdaq Composite terkoreksi 0,41%.

Dow Jones telah kehilangan lebih dari 650 poin sementara S&P 500 anjlok 2,5% sepanjang pekan ini, setelah pada pekan lalu Presiden AS Donald Trump mengancam akan menaikkan bea masuk terhadap produk China.

Saham-saham memperkecil pelemahannya, Kamis, setelah Trump mengatakan tercapainya kesepakatan dagang dengan China masih mungkin terjadi pekan ini. Dow Jones sempat terjun bebas 450 poin di perdagangan intraday hari itu.


"Masih mungkin untuk melakukannya, mereka semua ada di sini," kata Trump kepada wartawan, Kamis, dengan merujuk pada delegasi perdagangan China.

Trump juga mengatakan kalau Wakil Perdana Menteri China juga akan datang ke negaranya, dan bahkan mengaku mendapat surat dari Presiden China Xi Jinping yang memberi harapan bahwa damai dagang masih bisa terwujud.

"Beliau menulis surat yang indah kepada saya. Saya baru menerimanya, dan mungkin saya akan menghubungi beliau via telepon," ungkap Trump seperti dilansir Reuters.

Trump mengatakan, dalam surat itu, Jinping antara lain mengatakan; "Mari bekerja bersama dan kita lihat apa yang bisa kita capai".

Berdasarkan surat itu, Trump yakin bahwa AS-China akan bisa mencapai kesepakatan dagang pekan ini.

Delegasi China yang dipimpin Wakil Perdana Menteri Liu He memang tengah berada di Washington pada Kamis dan Jumat ini, untuk melanjutkan perundingan perdagangan.

Liu akan makan malam dengan Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer dan pejabat AS lainnya Kamis malam atau hanya beberapa jam sebelum kenaikan bea masuk diterapkan.

China telah mengatakan akan membalas bila kenaikan bea impor itu benar-benar diberlakukan. (sumber: CNBC)