Wakadishub Sebut Operasional Pelabuhan Kaliadem Bakal Berskala Internasional

Wakadishub DKI Jakarta Sigit Widjatmoko. (Foto: Dekan)

Jakarta, Dekannews- Wakil Kepala Dinas Perhubungan (Wakadishub) DKI Jakarta, Sigit Widjatmoko, mengatakan, Pelabuhan Kaliadem, Kelurahan Muara Angke, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, akan menjadi pelabuhan dengan operasional berskala internasional untuk menunjang pariwisata Kepulauan Seribu.

"Pembangunannya mengacu tak hanya pada peningkatan sarana dan prasarana fisik, tapi juga pemenuhan kebutuhan standar penumpang," katanya kepada dekannews.com di gedung DPRD DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (20/8/2019).

Ia menambahkan, revitalisasi Pelabuhan Kaliadem yang dilakukan pada dua tahun anggaran, yakni tahun anggaran 2019 dan 2020, dilakukan dalam rangka mengembangkan dermaga-dermaga yang dikelola oleh Pemprov DKI.

Apalagi, katanya, karena Dishub telah menyusun masterplan transportasi laut.

"Dengan merevitalisasi Pelabuhan Kaliadem, tentu kita ingin membantu meningkatkan akses pariwisata Kepulauan Seribu agar tumbuh lebih baik, karena pertumbuhan itu akan ikut menggerakkan perekonomian di Muara Angke," imbuhnya.

Meski demikian Sigit mengakui, revitalisasi tak hanya dilakukan dalam rangka meningkatkan fisik, namun juga concern pada aspek keselamatan, keamanan dan ketertiban. Apalagi karena dari hasil evaluasi yang telah dilakukan, penumpang Pelabuhan Kaliadem tak hanya wisatawan domestik (Wisdom), tapi juga wisatawan mancanegara (Wisman).

"Pemeriksaan terhadap penumpang berkewarganegaraan asing ada standarnya. Ini akan difasilitasi, sehingga di Pelabuhan Kaliadem ada kantor Imigrasi," imbuhnya.

Soal fasilitas, Sigit mengatakan kalau Pelabuhan Kaliadem akan memiliki sarana yang lengkap, seperti ruang tunggu, kantin, tempat ibadah, loket, dan tempat pengecekan barang serta penumpang.

Selain itu akses jalan akan menggunakan pola sistem satu arah dimana akses masuk dan keluar dipisahkan

"Operasionalnya nanti akan mengacu pada operasional pelabuhan bersifat internasional," imbuhnya.

Sigit mengakui, revitalisasi Pelabuhan Kaliadem melibatkan SKPD (satuan kerja perangkat daerah) terkait seperti Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Pertanahan (DCKTRP), Dinas Bina Marga, dan Dinas Sumber Daya Air (SDA).

"Desain disusun oleh konsultan dan diasistensi oleh Dinas Cipta Karya dan Kementerian Perhubungan," katanya.

Ketika disinggung tentang adanya keluhan penumpang soal loket yang saat ini, selama masa revitalisasi, dinilai tidak layak, tanggul pemisah antara dermaga dengan area pelabuhan yang dinilai terlalu tinggi dan jalan masuk ke pelabuhan yang selalu macet, Sigit mengatakan kalau bangunan loket yang saat ini digunakan bersifat temporary.

"Untuk ketinggian tanggul, itu sudah kita perhitungkan karena untuk mencegah rob (naiknya air laut kendaratan akibat pasang). Ada estimasi bahwa dengan tanggul setinggi itu dapat mengantisipasi rob selama dua tahun, sehingga elevasi bangunan di pelabuhan akan dibuat setinggi tanggul itu," katanya.

Soal kemacetan, Sigit mengakui hal itu menjadi tantangan bagi Dishub agar dapat mempertahankan animo dan ekspektasi masyarakat yang tinggi untuk berwisata ke Kepulauan Seribu.

"Tapi kita akan terus melakukan improvement, khususnya saat akhir pekan dan hari libur nasional,  dengan menambah personel untuk pengaturan flow penumpang," katanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Ketua Penasehat Majelis Daerah Korps Alumni Himpuman Mahasiswa Islam (MD Kahmi) Kepulauan Seribu, Tobaristani,  mengkritik kondisi Pelabuhan Kaliadem yang dinilai semrawut dan jauh dari layak.

"Saat ini Pelabuhan Kaliadem memang sedang dalam tahap pembenahan, tapi dalam tahap yang memakan waktu bertahun-tahun itu, hendaknya pelabuhan ditata dan masyarakat yang akan menyeberang ke Kepulauan Seribu diberi fasilitas yang lebih baik, sehingga masyarakat pun punya kesan yang baik pula terhadap pelabuhan ini," katanya, Sabtu (17/8/2019).

Toba menyebut, dari keluhan masyarakat dan dari hasil pengamatannya, sedikitnya ada empat hal yang harus diperhatikan benar oleh Dishub

Pertama, akses jalan menuju Pelabuhan Kaliadem dari gapura Muara Angke hingga pelabuhan macet parah akibat banyak pedagang di tepi jalan, serta angkot, odong-odong, motor dan mobil pribadi yang ngetem serta parkir di pinggir jalan, sehingga jalanan menyempit.

Kemacetan semakin parah pada akhir pekan dan hari libur nasional dimana jumlah masyarakat yang akan menyeberang ke Kepulauan Seribu membuldak hingga mencapai 5.000 orang,  bahkan lebih.

"Dishub seharusnya bisa mengatasi ini dan tidak cenderung seperti membiarkannya begitu saja, karena kemacetan yang selalu terjadi dapat mengganggu kepentingan masyarakat yang akan menyeberang ke pulau. Mereka bisa ketinggalan kapal, sehingga banyak yang terpaksa berjalan kaki agar dapat terbebas dari kemacetan itu," katanya.

Kedua, Dishub kurang mampu merespon membludaknya masyarakat yang akan ke pulau, karena saat penumpang mencapai ribuan orang,  tidak semua kapal milik Dishub yang berjumlah sekitar 12 unit, dioperasikan, sehingga masyarakat mau tak mau harus memadati kapal tradisional yang selalu setia melayani masyarakat.

"Di hari-hari biasa dimana masyarakat yang akan ke pulau tidak membludak hingga ribuan orang, tak masalah tidak semua kapal Dishub dioperasikan,  tapi ketika penumpang membludak,  ceritanya seharusnya sudah lain. Jadi, tolonglah Dishub responsif," katanya.

Ketiga, tanggul yang memisahkan dermaga dengan fasilitas lain di Pelabuhan Kaliadem dibuat sangat tinggi, sehingga menyusahkan lansia dan pedagang yang membawa banyak barang untuk dijual di pulau.

Tanggul itu, jelas Toba, dibangun untuk mencegah luapan air laut dari dermaga menggenangi area pelabuhan.

"Tingginya tanggul inilah yang paling banyak dikeluhkan. Pedagang yang tak sanggup menaiki tanggul itu sambil membawa barang, terpaksa menggunakan jasa kuli angkut,  sehingga pengeluarannya bertambah," jelas Toba.

Keempat, loket terlalu sederhana karena terbuat dari kayu, dan berdebu.

Untuk sekelas pelabuhan, kata Toba, loket di Pelabuhan Kaliadem sangat tidak layak.

"Meski sedang dalam tahap penataan atau pembenahan, loket seharusnya diprioritaskan karena di sinilah pemasukan pelabuhan berasal. Masak pelabuhan di Jakarta loketnya seperti itu? " kata dia.

Dari pantauan Dekannews, Sabtu (17/8/2019), kondisi Pelabuhan Kaliadem yang sedang dalam tahap penataan atau revitalisasi, memang jauh dari layak. Selain kondisi loket yang minus serta tanggul yang tinggi, pedagang pun terlihat bertebaran memberi kesan semrawut

Tak hanya itu, di salah satu sisi pelabuhan yang berbatasan dengan pintu air, sampah menumpuk dan bau kotoran manusia menusuk hidung. Di antara sampah yang menumpuk terdapat puluhan jaket keselamatan berwarna oranye yang telah rusak. (man)