Waduh! Tingkat Kematian Akibat Covid-19 di Indonesia di Atas Rerata Dunia

Foto: Dekan

Jakarta, Dekannews- Penyebaran severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) yang menjadi pemicu pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19), semakin mengkhawatirkan di Indonesia. 

Pasalnya, berdasarkan data worldometer, Sabtu (19/9/2020), case fatality rate (CFR) Covid-19 atau tingkat kematian rerata akibat Covid-19 di Indonesia merupakan yang tertinggi di Asia Tenggara, berada pada peringkat kedua di Asia, dan berada di atas tingkat rerata dunia. 

Menurut situs itu, hingga Minggu pukul 18:57 WIB, total kasus positif Covid-19 di 215 negara bertambah 48.485 kasus menjadi 30.734.956 kasus. 

Dari jumlah itu, jumlah pasien yang meninggal bertambah 1.454 orang menjadi 957.189 orang, sementara total pasien yang sembuh 22.362.347 orang; yang masih menjalani perawatan/isolasi mandiri sebanyak 7.415.420 orang, dan yang dalam kondisi kritis 61.466 orang. 

Amerika Serikat masih di peringkat pertama dengan 6.927.786 total kasus positif, disusul India 5.312.537 kasus, dan Brazil 4.497.434 kasus.

Indonesia berada di peringkat 23 dengan total kasus positif 240.687 kasus, sementara Filipina berada di posisi 21 dengan total 283.460 kasus positif,  Singapura di posisi 54 dengan total 57.558 kasus positif, dan Malaysia di peringkat 95 dengan 10.167 kasus positif. 

China sebagai negara sumber pandemi Covid-19 berada di urutan 41 dengan total kasus positif 85.269 kasus. 

Namun meski jumlah kasus positif Covid-19 di Filipina lebih tinggi dari Indonesia, CFR Indonesia berada di atas semua negara di Asia Tenggara, karena dengan jumlah kematian mencapai 9.448 orang, CFR Indonesia mencapai 3,920%, satu peringkat di atas Vietnam dengan CFR 3,277%, namun jauh di atas negara-negara Asia Tenggara yang lain, termasuk Filipina dengan CFR 1,739%. 

Di level Asia, CFR Indonesia berada di posisi kedua setelah Iran yang memiliki CFR 5,755%. 

Namun di tingkat dunia, CFR Indonesia berada di atas CFR global, karena CFR dunia 'hanya' 3,110%. 

Seperti diketahui, sejumlah media internasional seperti Reuters, Aljazeera dan ABC News menilai Indonesia gagal menangani pandemi Covid-19 dan tertinggal dari negara-negara lain. 

Reuters misalnya, pada 20 Agustus 2020 melansir berita berjudul "Endless first wave: how Indonesia failed to control coronavirus (Gelombang pertama tak berujung: bagaimana Indonesia gagal mengendalikan virus corona). 

Dalam berita itu, Reuters menyoroti kebijakan-kebijakan pemerintah Indonesia dalam menangani pandemi yang dapat memicu kematian ini. 

Menurut media yang berbasis di Amerika itu, pemerintah Indonesia lamban menanggapi pada awal pandemi, dan enggan mengungkapkan apa yang diketahui kepada publik.

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) bahkan mengaku khawatir karena jumlah pasien Covid-19 yang terus meningkat secara signifikan dari hari ke hari, sementara di sisi lain makin banyak dokter yang berguguran akibat ikut terinfeksi, Indonesia akan menjadi episentrum penyebaran Covid-19 bagi dunia. 

"Saat ini Indonesia belum mencapai puncak pandemi gelombang pertama akibat ketidakdisiplinan terhadap protokol kesehatan yang masif. Apabila hal ini terus berlanjut, maka Indonesia akan menjadi episentrum Covid dunia, yang mana akan berdampak semakin buruk pada ekonomi dan kesehatan negara kita," kata Ketua Tim Mitigasi PB IDI Adib Khumaidi dalam keterangan resmi, Jumat (18/9/2020).

Hingga Jumat (18/9/2020), menurut Adib, jumlah dokter yang meninggal akibat Covid-19 telah mencapai 117 orang. (rhm)