Untuk Rebut Kembali Juara Umum PON, DKI Harus Kalahkan Jabar dan Jatim

Ketua Umum KONI DKI Jakarta, Laksamana Pertama TNI (Purn) Djamhuron P Wibowo (tengah). (Foto: Dekan)

Jakarta, Dekannews- Semangat untuk merebut kembali titel juara umum Pekan Olahraga Nasional (PON) pada penyelenggaraan PON XX di Papua tahun depan, kembali bergaung dalam Rapat Anggota Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) DKI Jakarta yang digelar di Hotel Grand Cempaka, Jakarta Pusat, Sabtu (4/5/2019).

Ketua Umum KONI DKI Jakarta, Laksamana Pertama TNI (Purn) Djamhuron P Wibowo mengatakan, untuk merealisasikan tekad tersebut, KONI DKI menerapkan metode high performance programme.

"Karena itu, setiap Cabor (cabang olahraga) loloskan atlet sebanyak-banyaknya (dalam babak kualifikasi)," katanya saat memberikan sambutan.

Meski demikian, Wakil Ketua Umum KONI Pusat, Mayjen TNI (Purn) Suwarno, mengatakan bahwa ada sejumlah tantangan yang akan dihadapi KONI DKI Jakarta untuk dapat mewujudkan ambisinya itu.

Ia menyebut, DKI punya rival berat yang harus dapat disaingi, yakni KONI Jawa Barat yang merupakan juara bertahan di PON XX Papua, dan KONI Jawa Timur yang menyebut dirinya sebagai juara sejati.

"DKI harus lebih baik dari keduanya jika ingin merebut kembali juara umum PON. Kalau DKI hanya serius, bisa kalah. Karena itu harus dua rius," katanya dengan nada berseloroh.

Selain memiliki dua rival berat, Suwarno juga mengingatkan bahwa tantangan berat lain yang harus dihadapi KONI DKI adalah medan laga yang berat, karena PON XX diselenggarakan di enam kota dan kabupaten di Papua, antara lain Jayapura, Jayawijaya, Timika dan Merauke, plus kota dan kabupatan penunjangnya.

Jarak antara keenam kota/kabupaten itu dengan kota/kabupaten penunjangnya sangat jauh, dan ada yang harus ditempuh dengan jalan darat lalu lanjut dengan pesawat terbang atau dengan kapal.

Selain itu, dengan jumlah atlet peserta PON mencapai 7.238 orang yang berlaga di 768 nomor dari 47 cabang olahraga yang dipertandingkan, dari 60 hotel yang ada di Papua, hanya 12 hotel yang layak untuk atlet.

"Jadi, bisa dibayangkan bagaimana nanti di sana," katanya.

Menyikapi hal ini, Ketua Dewan Pembina KONI DKI Jakarta, M Taufik, meminta pengurus KONI DKI untuk merumuskan berapa biaya kebutuhan selama mengikuti PON XX di Papua.

"Untuk kebutuhan PON XX, KONI telah mengajukan anggaran sebesar Rp700 miliar, tapi dengan medan dan kondisi di Papua yang seperti itu, ajukan saja Rp1 triliun," katanya.

Wakil Ketua DPRD DKI dari Fraksi Gerindra ini bahkan mengatakan, demi menjamin asupan para atlet selama berlaga, bawa saja katering dari DPRD.

'Atlet tak boleh mengeluhkan makanan," tegasnya.

Di sepanjang sejarah PON, DKI Jakarta telah 11 kali menjadi juara umum. Terakhir pada PON XVIII di Pekanbaru.

Pada PON XIX di Bandung, juara umum direbut Jawa Barat.

Jawa Timur menjadi juara umum pada PON XV di Surabaya dan PON XVII di Samarinda. (man)