Terdampak Tsunami Selat Sunda, Kunjungan Wisata di 3 Pulau Cagar Budaya Anjlok

Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta saat berkunkung di Pulau Cipir dengan didampingi sejumlah aktivis. (Foto: Dekan)

Jakarta, Dekannews- Jumlah kunjungan wisata ke tiga pulau berstatus cagar budaya di Kabupaten Kepulauan Seribu, anjlok setelah tsunami menghantam pesisir Pandeglang dan Serang di Banten, dan Lampung Selatan, pada 22 Desember 2018 lalu, akibat letusan Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.

Ketiga pulau dimaksud adalah Pulau Cipir, Onrust dan Kelor.

"Kunjungan wisata ke Pulau Cipir sedang turun, karena pengaruh tsunami di Banten dan Lampung Selatan," ujar Nanang Suryana, pegawai PJLP Unit Pengelola (UP) Museum Bahari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) yang bertugas di Pulau Cipir, Selasa (9/4/2019).

Ia menyebut, saat ini kunjungan wisata ke Pulau Cipir turun menjadi sekitar 500 orang per weekend, dari sekitar 800-1.000 orang.

"Wisatawan yang datang mayoritas lokal, asing sedikit. Mereka biasanya ke sini dari Kamal Muara, Jakarta Utara," katanya.

Jumlah wisatawan yang mengunjungi Pulau Onrust, menurut pegawai yang bekerja di situ, turun dari 500 orang per weekend, menjadi 250 orang.

Sementara jumlah pengunjung Pulau Kelor, menurut pagawai di Pulau ini, anjlok dari sekitar 1.000 orang per weekend menjadi hanya 200-an orang.

"Umumnya wisatawan yang datang ke sini dibawa oleh agen travel yang menyediakan paket wisata ke Pulau Onrust, Cipir dan Kelor," imbuh Nanang.

Seperti diketahui, tsunami di Banten dan Lampung Selatan dipicu guguran lava dari letusan Gunung Anak Krakatau, dan semburan abu vulkaniknya tak hanya menghujani pesisir Cilegon, namun juga wilayah Kepulauan Seribu.

Sebuah media melaporkan, saat tsunami menerjang Banten dan Lampung Selatan pada 22 Desember 2018, warga di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu, mengabarkan kalau air laut di sekitar pulau mereka naik hingga 50 sentimeter, namun tidak membahayakan dan juga tidak menimbulkan kerusakan.

Menurut data, dari 110 pulau di Kepulauan Seribu, tak ada satu pun yang berbukit atau memiliki pegunungan, sehingga jika wilayah ini dihantam tsunami, maka orang sulit menyelamatlan diri.

Pada Selasa (9/4/2019) pagi, Pulau Onrust, Cipir dan Kelor dikunjungi wakil ketua DPRD DKI Jakarta yang juga Caleg petahana dari Partai Gerindra untuk Dapil DKI Jakarta III yang meliputi Kecamatan Tanjung Priok, Pademangan dan Penjaringan.

Ia datang bersama sejumlah aktivis, seperti Ketua Katar Sugiyanto, Ketua FKDM DKI Jakarta Rico Sinaga, Ketua JPS Syaiful Jihad, dan Ketua JPM Ivan Parapat.

Dalam kunjungan itu Taufik mengagumi sisa-sisa reruntuhan bangunan di Pulau Onrust dan Cipir, serta mengagumi sisa Benteng Martello di Pulau Kelor yang masih berdiri dalam bentuk aslinya, meski tidak utuh dan cenderung rapuh.

Ia meminta agar UP Museum Bahari memugar semua bangunan itu ke bentuk aslinya seperti yang nampak pada era kolonial Belanda.

"Kalau bangunan-bangunan itu dipugar kembali ke bentuk aslinya, pulau-pulau ini akan lebih menarik dan wisatawan pun akan berbondong-bondong ke sini," katanya.

Ia juga meminta Disparbud menyediakan sarana trasportasi yang memadai karena pegawai di ketiga pulau itu saja kesulitan saat akan pulang ke keluarganya di daratan.

Seorang pegawai di Pulau Kelor menyebut, tiap bulan untuk biaya empat kali pergi pulang dengan kapal tradisional, mereka menghabiskan biaya Rp190.000.

"Itu pakai uang pribad kami. Gaji kami sesuai UMP,' katanya. (Man)