Taufik Minta Bangunan di 3 Pulau Cagar Budaya Dipugar Sesuai Aslinya

Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta M Taufik mengamati koleksi kepingan keramik di Pulau Onrust. (Foto: Dekan)

Pulau Pramuka, Dekannews- Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta M Taufik meminta Unit Pengelolaan (UP) Museum Bahari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) meningkatkan fasilitas dan sarana tiga pulau cagar budaya di Kabupaten Kepulauan Seribu.

Pasalnya, jika fasilitas dan sarana di ketiga pulau tersebut, yakni Pulau Cipir, Onrust dan Kelor, ditingkatkan, ia percaya jumlah kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara ke ketiga pulau tersebut akan naik tajam.

"Bangunan-bangunan bersejarah yang berada di tiga pulau ini seharusnya dipugar dengan dikembalikan pada bentuk aslinya, pasti akan lebih menarik," katanya saat berada di Pulau Cipir, Selasa (9/4/2019).

Caleg petahana dari Partai Gerindra untuk wilayah daerah pemilihan (Dapil) Dapil DKI Jakarta III yang meliputi Kecamatan Tanjung Priok, Pademangan dan Penjaringan ini mengakui, meski ketiga pulau itu masih menyimpan puing-puing bangunan bersejarah dari era kolonial Belanda, dan puing-puing itu menjadi daya tarik wisatawan, namun jika ada bangunan yang sama persis dengan di era kolonial itu, pasti akan lebih menarik.

"Untuk masalah transportasi, sebaiknya juga diupayakan segera ditingkatkan, karena jarak tempuh dari Dermaga Marina, Ancol, ke Pulau Cipir kan hanya sekitar setengah jam," katanya.

Menurut data, Pulau Cipir di era kolonial Belanda merupakan pulau transit bagi masyarakat Indonesia yang sedang dalam perjalanan menuju Tanah Suci, Mekah, dan tempat perawatan pasien penderita kusta. Di sini antara lain terdapat reruntuhan bangunan rumah sakit, rumah bedah, kakus, dan dua buah meriam.

Di Pulau Onrust terdapat museum yang memamerkan berbagai peninggalan bersejarah, termasuk kepingan keramik, dan di Pulau yang tengah menghadapi masalah abrasi ini, sehingga luas pulau menyusut dari 12 hektare menjadi 7,5 hektare, terdapat pemakaman Belanda dan pemakaman penduduk pribumi.

Pulau Onrust juga dikenal dengan sebutan Pulau Kapal, karena di era kolonial dulu pulau ini sering sekali dikunjungi kapal-kapal Belanda yang akan menuju Batavia. 

Pulau Kelor yang memiliki luas 28 hektare, dikenal dengan nama Pulau Kerkhof. Pulau ini memiliki pasir putih dengan pandangan menakjubkan. Di pulau ini terdapat sebuah bangunan bekas benteng yang bernama Benteng Martello.

Dari perbincangan Taufik dengan pegawai UP Museum Bahari di Pulau Kelor terungkap kalau masalah transportasi ternyata juga membebani mereka.

"Di sini ada enam cleaning dan empat security. Masa kerja kami lima hari. Biaya transport ke sini kami tanggung sendiri," kata pegawai di Pulau Kelor.

Ia menyebut, tiap bulan untuk biaya empat kali pergi pulang dengan kapal tradisional, mereka menghabiskan biaya Rp190.000.

"Gaji kami sesuai UMP,' katanya.

Kunjungan Taufik ini didampingi sejumlah aktivis seperti Ketua Katar Sugiyanto, Ketua FKDM Rico Sinaga, Ketua Rekan Indonesia Agung Nugraha, dan Ketua JPS Syaiful Jihad. (man)