Syahganda: Para Konglomerat Sedang Nunggu Giliran Bangkrut!

Syahganda Nainggolan. (Foto: IDToday)

Jakarta, Dekannews- Pandemi Covid-19 yang sedang melanda dunia, termasuk Indonesia, ternyata tak hanya membuat kehidupan rakyat miskin makin merana, tapi juga tak dapat membuat orang-orang superkaya tetap dapat hidup dalam gelimang kemewahan. 

Terbukti, konglomerat di Indonesia pun kini dalam situasi yang tak nyaman karena gurita bisnis mereka terimbas penyebaran Covid-19, dan satu per satu mulai kolaps. 

Soal mulai bangkrutnya para orang superkaya di Indonesia yang di antaranya dijuluki sebagai taipan, diungkap aktivis yang juga merupakan salah satu deklarator Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI). 

"Baru saja pulang dari rumah konglomerat. Kutanya dia, apakah ada jalan keluar dari krisis? Jawabnya tidak ada," kata Syahganda melalui akun Twitter-nya, @syahganda, Kamis (17/9/2020). 

Ia menambahkan, semua konglomerat saat ini sedang menunggu giliran bangkrut. 

"Kini cuma survival. Untung bank-bank tidak ganas, jadi nafas masih ada. (Mari rapatkan barisan, pikirkan keselamatan bangsa)," tutupnya. 

Seperti diketahui, pandemi Covid-19 tak hanya memukul sektor kesehatan, namun juga sektor perekonomian, sehingga pada triwulan II-2020 pertumbuhan ekonomi Nasional anjlok menjadi -5,32%, sementara pertumbuhan ekonomi Jakarta juga terpuruk hingga -8,22%. 

Saat ini 23 negara telah masuk jurang resesi, termasuk Malaysia, Singapura dan Korea Selatan, sementara Indonesia dipastikan akan menyusul jika pertumbuhan ekonomi di triwulan III-2020 kembali minus. 

Hancurnya perekonomian Indonesia dan global ini diakibatkan kebijakan lockdown yang diterapkan berbagai negara di dunia untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19, namun berimbas para penurunan aktivitas ekspor impor dan membuat roda perekonomian tak dapat bergerak maksimal. 

Di Indonesia, meski kebijakan yang diterapkan bukan lockdown, melainkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang relatif lebih longgar karena 11 sektor tetap diizinkan beroperasi meski dengan pembatasan-pembatasan tertentu, imbasnya tak jauh berbeda, sehingga perekonomian Nasional dan Jakarta mengalami kontraksi. 

Para konglomerat di Indonesia umumnya memiliki perusahaan yang bergerak di berbagai bidang, termasuk di bidang ekspor impor. Kontraksi yang dialami perekonomian Indonesia memgindikasikan kalau perusahaan-perusahaan mereka juga tak dapat beroperasi dengan normal, bahkan harus ada yang ditutup karena tidak masuk dalam 11 sektor yang tetap diizinkan tetap buka, sehingga merugi. 

Tak heran kalau pada Juni 2020 lalu Kementerian Ketenagakerjaan mencatat kalau hingga 31 Juli 2020 jumlah pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) maupun dirumahkan mencapai 3,5 juta orang lebih. (rhm)