Susul Singapura, Korea Selatan Masuk Jurang Resesi

Warga Korsel memakai masker guna menghindari penularan Covid-19. (Foto: Todayonline)

Jakarta, Dekannews- Satu demi satu negara di Asia maauk jurang resesi akibat pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19). 

Setelah Singapura, Korea Selatan menyusul karena pandemi asal China itu membuat aktivitas ekspor Negara Ginseng itu anjlok signifikan. 

Ini kali pertama Korsel mengalami resesi dalam 17 tahun terakhir. 

Seperti dilansir Asia Nikkei, Kamis (23/7/2020), Bank of Korea hari ini mengumumkan bahwa Produk Domestik Bruto (PDB) Korsel jatuh hingga minus 3,3% pada kuartal II-2020 (April-Juni), setelah terkontraksi ke minus 1,3% pada kuartal I-2020 (Januari-Maret). 

Penurunan pertumbuhan ekonomi per kuartal ini bahkan menjadi yang terburuk setelah resesi pada 1998.

Bank of Korea menyebut, ekspor terjun bebas 16,6%, tercuram sejak 1963, sementara impor terjungkal 7,4%. 

Meski demikian, konsumsi rumah tangga naik 1,4% akibat pengeluaran yang lebih tinggi untuk barang tahan lama seperti mobil dan peralatan rumah tangga.

"Ekonomi Korsel telah turun sejak 2017. Guncangan virus corona mempercepat perlambatan ekonomi," kata Direktur Bank of Korea Park Yang-Soo seperti dilansir Asia Nikkei.

Menteri Keuangan Hong Nam-Ki mengatakan,  penutupan ekonomi global yang belum pernah terjadi sebelumnya melumpuhkan jalur produksi luar negeri Korsel ke Vietnam dan India.

Resesi juga terjadi sejalan dengan rencana Presiden Korea Selatan Moon Jae-In menaikkan pajak properti dan penjualan untuk menekan harga rumah, terutama di ibukota Seoul.

Keputusan tersebut membatasi ruang gerak Bank of Korea untuk melonggarkan kebijakan perbankan, karena risiko suku bunga yang lebih rendah dapat berakibat pada kelebihan likuiditas di pasar properti.

Gubernur Bank of Korea Lee Ju-Yeoul menekankan pentingnya memberikan aliran likuiditas ke sektor-sektor produktif. 

"Yang paling penting adalah kami memiliki banyak tempat produktif yang dapat menarik investasi," katanya pekan lalu.

Lee memperkirakan, PDB Korsel dapat berkontraksi lebih lanjut tahun ini, dan Park mengatakan, bank sentral akan memperbarui proyeksi mereka mengikuti proyeksi pertumbuhan pada Agustus mendatang.

"Pertumbuhan tahun ini bergantung pada seberapa cepat ekonomi akan pulih. Pemerintahan China berhasil pulih tajam, kami optimis bisa mengikuti langkah mereka," ungkapnya.

Berbagai ekonom juga melihat tanda-tanda kalau perekonomian negara dengan ekonomi terbesar ke empat Asia ini akan mampu berbalik arah pada kuartal III-2020. Mereka menyebut bahwa ekspor telah menyentuh level terendahnya pada periode April-Juni atau sudah lewat.

"Saya yakin ekonomi Korsel akan pulih pada paruh tahun kedua tahun ini. Intinya adalah seberapa besar pemulihan tersebut," ujar Ekonom Senior Societe Generale Oh Suk-Tae.

Meski demikian Oh juga mengatakan, saat ini masih terjadi perdebatan apakah penularan Covid-19 di Korsel akan berbentuk kurva U atau kurva V. 

"Dan saya pikir ini bergantung pada seberapa cepat vaksin akan dikembangkan dan seberapa lama kami dapat bertahan hingga saat itu," tegasnya. (rhm)