Suap Ekspor Benih Lobster, KPK Panggil Dirut dan Komisaris PT ACK

Gedung KPK. (Foto: Int)

Jakarta, Dekannews- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memanggil dua petinggi PT Aero Citra Kargo (ACK) untuk dimintai keterangan terkait keterlibatan perusahaan itu dalam kasus suap ekspor benih lobster (benur) yang menjerat mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo.

Kedua petinggi PT ACK yang dipanggil adalah Dirut PT ACK, Amri; dan Komisaris PT ACK Achmad Bahtiar.

"Diperiksa sebagai saksi untuk tersangka EP (Edhy Prabowo)," kata Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri, Kamis (3/12/2020).

PT ACK adalah satu-satunya perusahaan yang ditunjuk Edhy sebagai perusahaan kargo untuk ekspor benur, sehingga diduga tak hanya terjadi suap antara perusahaan itu dengan Edhy, namun juga berpotensi menimbulkan monopoli. 

Setiap eksportir yang mau tak mau terpaksa harus menggunakan jasa perusahaan ekspedisi itu setiap kali mengirim benur ke Vietnam, dikenakan biaya biaya angkut Rp1.800/ekor. 

Berdasarkan data kepemilikan, pemegang saham PT ACK terdiri dari Amri dan Ahmad Bahtiar yang diduga merupakan nominee dari pihak Edhy Prabowo serta Yudi Surya Atmaja.

Dalam konstruksi kasus ini disebutkan bahwa pada 5 November 2020, diduga terdapat transfer dari rekening Achmad Bahtiar ke rekening salah satu bank atas nama Ainul Faqih selaku staf khusus istri menteri Edhy sebesar Rp3,4 Milyar yang diperuntukkan bagi keperluan Edhy Prabowo, istrinya IIs Rosyati Dewi, Syafri, dan Andreu Pribadi Misata.

Sebanyak Rp750 juta dari uang itu digunakan untuk belanja barang mewah oleh Edhy Prabowo dan Iis Rosyari Dewi di Honolulu AS pada 21-23 November 2020. Barang yang dibeli antara lain jam tangan merek rolex, tas Tumi dan LV, baju Old Navy.

Sejauh ini KPK telah menetapkan 7 tersangka dalam kasus ini, termasuk Edhy. 

Suap yang diterima politisi Gerindra itu diduga tak hanya untuk izin ekspor benur, tapi juga untuk izin tambak, usaha, dan atau pengelolaan perikanan atau komoditas perairan sejenis lainnya. 

Dari pihak PT ACK yang ditetapkan sebagai tersangka adalah pengusus perusahaan itu, Siswadi. (rhm)