Sidang Sengketa PHPU di MK, Saksi 02 Ungkap 4 Kejanggalan DPT Pamilu 2019

Sidang MK. (Foto: Int)

Jakarta,  Dekannews- Tim kuasa hukum Prabowo-Sandi menghadirkan seorang saksi yang membeberkan tentang empat kejanggalan dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pemilu 2019.

Saksi tersebut merupakan saksi kedua dalam sidang lanjutan gugatan sengketa perselisihan hasil pemilihan umum (PHPU) di Mahkamah Konstitusi (MK),  Rabu (19/6/2019). 

Saksi tersebut bernama Idham. 

"Ada empat poin yang setidaknya saya akan sampaikan, yaitu NIK berkecamatan siluman, NIK rekayasa, pemilih ganda dan pemilih di bawah umur," katanya. 

Saksi ini mengakui mendapatkan DPT itu dan menelusurinya. 

Dari penelusuran itu ia menekukan empat kejanggalan yang mengindikasikan kalau DPT tersebut bermasalah. 

Pertama,  NIK kecamatan siluman.  
Dalam kategori ini ia menemukan digit kelima dan keenam pada NIK kecamatan tak sesuai. Contohnya di Kabupaten Bogor ada 40 kecamatan,  tapidi digit kelima dan keenam pada nomor kecamatan ada yang tertulis 00 ataupun nomornya melebihi 40 yang berarti melebihi jumlah kecamatan.

"Itu cara pengkodean, di bogor ada 40 kecamatan tidak boleh lebih, Nah Ini saya sebut NIK kecamatan siluman, " katanya. 

Kedua,  NIK rekayasa. NIK ini memiliki  pengkodean yang tidak sesuai dengan cara pengkodean pada umumnya.

"NIK rekayasa adalah NIK yang seluruh elemen datanya itu kelihatan benar,  tapi salah. Misalnya dia perempuan NIK-nya laki-laki dan sebaliknya. NIK perempuan itu tanggal lahirnya ditambah 40," jelasnya. 

Ketiga,  data ganda. Ini terindikasi karena ditemukan jutaan data yang memiliki nama yang sama, tanggal lahir yang sama,  bulan lahir yang sama dan tempat lahir yang sama. 

"Ada duplikasi nama tanggal lahir dan tempat," tegasnya. 

Keempat, ada pemilih di bawah umur. 

"Di baris kedua itu ada. Saya telusuri itu umurnya baru satu tahun.  Apa iya umur segitu sudah menikah?" tanyanya. (Man)