Serbu Gedung Capitol, Massa Trump Ditembaki dan Lempari Gas Air Mata oleh Polisi

Massa Donald Trump menguasai gedung Capitol setelah menyerbu masuk, dan kemudian bentrok dengan polisi. (Foto: Independent)

Washington, Dekannews - Polisi menembaki ribuan massa pendukung Presiden AS Donald Trump dengan peluru karet dan gas air mata di Gedung Capitol,  Washington D.C, Rabu (7/1/2021) waktu setempat. 

Seperti dikutip dari Reuters, Kamis (7/1/2021), kekacauan terjadi karena massa menyerbu gedung itu dan berusaha memaksa Kongres agar membatalkan kekalahan Trump atas Biden dalam Pelpres yang diselenggarakan pada 3 November 2020, dan membalikkan keadaan agar Trump tetap menjadi presiden.

"Penyerbuan ini terjadi tak lama setelah beberapa anggota kongres dari Partai Republik (partai pendukung Trump) melakukan upaya terakhir untuk menolak hasil perhitungan suara dalam Pilpres," kata Reuters

Dari video yang beredar terlihat, sebelum menyerbu masuk ke gedung Capitol, massa memecahkan kaca jendela, dan kemudian menuju aula gedung dimana di situ sedang berlangsung rapat gabungan dua kamar (DPR dan Senat) untuk mengesahkan kemenangan Biden atas Trump pada Pilpres 3 November 2020 lalu. 

Polisi langsung menembaki massa Trump dari dalam gedung begitu mereka menyerbu masuk, dan melemparinya dengan gas air mata. 

Kekacauan ini membuat Wakil Presiden Mike Pence yang memimpin rapat gabungan, juga aggota DPR dan Senat, dievakuasi. 

Seorang pengunjuk rasa menduduki panggung Senat dan berteriak, "Trump memenangkan pemilihan itu!", sementara yang lain, setelah rapat Kongres berhasil dibubarkan, menembus barikade polisi dan bentrok dengannya di halaman gedung Capitol.  

Seseorang nampak ditandu keluar dari dalam gedung karena terluka. 

"Kekacauan ini terjadi setelah Trump yang akan meninggalkan Gedung Putih pada 20 Januari, mengatakan lagi klaim palsu kepada ribuan massa pendukungnya yang berunjuk rasa di depan gedung, bahwa dia kalah karena dicurangi,' kata Reuters

Anggota parlemen berdebat sengit ketika anggota yang pro-Trump berupaya menantang hasil Pemilu, dan sepertinya sia-sia. 

Kritikus menilai, apa yang dilakukan anggota parlemen dari Partai Republik itu merupakan serangan terhadap demokrasi Amerika dan supremasi hukum, serta merupakan percobaan kudeta legislatif. 

Dua anggota Partai Demokrat teratas di Kongres, Ketua DPR Nancy Pelosi dan Senator Chuck Schumer, meminta Trump agar mengimbau semua pendukungnya untuk meninggalkan Capitol dan halamannya. 

Pejabat pemilihan dari kedua partai dan pengamat independen mengatakan tidak ada kecurangan yang signifikan pada Pilpres 3 November 2020 yang dimenangkan Biden dengan lebih dari 7 juta suara.

Berminggu-minggu telah berlalu sejak negara bagian menyelesaikan sertifikasi bahwa Biden yang berasal dari Partai Demokrat, memenangkan pemilihan dengan 306 suara dari Electoral College, sementara Trump mendapat 232 suara Electoral College. 

Penolakan Trump yang luar biasa atas kemenangan Biden, telah ditolak oleh pengadilan di seluruh negeri, namun Trump tetap tak menyerah. (rhm)