Sempat Dibajak, Akun Pakar Epidemologi Pengkritik Obat Covid-19 Unair Dapat Diambil Kembali

Akun Dr. Pandu Riono yang sempat dibajak hacker. (Foto: Dekan)

Jakarta, Dekannews- Pembajakan akun media sosial oleh hacker agaknya semakin masif sebelum dan setelah 154 tokoh nasional, aktivis dan akademisi mendeklarasikan Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) pada Rabu (18/8/2020), dan di tengah upaya pemerintahan Jokowi mengatasi laju penularan Covid-19 yang kian mengkhawatirkan di Indonesia. 

Setelah akun deklarator KAMI MS Kaban dan Din Syamsudin diretas dan dikuasai hacker (dibajak), kali ini akun Twitter pakar epidemologi dan obat-obatan Universitas Indonesia (UI) Dr Pandu Riono, @drpriono, juga dibajak. 

Akun ini diretas setelah Dr Pandu mempertanyakan kualitas obat Covid-19 yang dibuat Universitas Airlangga (Unair) bersama TNI AD dan Badan Intelijen Negara (BIN).  

Informasi tentang pembajakan akun milik Dr Pandu tersebut diketahui dari cuitan sastrawan senior yang juga pendiri majalah Tempo, Goenawan Mohamad, pada Rabu (19/8/2020) pukul 22:52 WIB melalui akun Twitter-nya, @gm_gm.

"Akun Twitter Dr. Pandu Riono, pakar epidemologi dibajak dan diisi cerita mesum. Diketahui Pandu berani mempertanyakan kualitas obat Covid-19 yang dihasilkan tim Unair + TNI-AD + BIN. Sangat disesalkan, soal yang menyangkut keselamatan rakyat banyak ini jadi permainan kotor," kata tokoh yang juga dikenal sebagai salah satu pendukung militan Presiden Jokowi dan Ahok itu. 

Tanggapan atas cuitan ini beragam. Bahkan ada yang menyesalkan sikap tokoh yang akrab disapa GM itu, yang selama ini menjadi pendukung Presiden Jokowi, karena diyakini pelaku yang meretas akun Pandu itu berasal dari kubu pemerintahan Jokowi juga. 

"Rezim yang kau promosikan, rezim yang kau dukung, rezim yang dulu kau bangga memimpin negeri ini. Kini ada rakyat yang sengsara dan ada dosa kau di situ," kecam pemilik akun @Merciful010.

"Anda sudah pasti tahu siapa yang suka main kotor, Mbah, dan punya alat serta perangkat yang lengkap untuk melakukan itu. Sama halnya dengan akunnya Pak Din Syamsudin. Bisa diambil kesimpulan dilakukan oleh kelompok yang sama," kata @dennurdin. 

Namun pada Kamis (20/8/2020) pukul 04:58 WIB, pemilik akun @lukiknulhakim mengabarkan kalau akun Dr Pandu telah dapat diambil kembali. 

"Alhamdulillah sudah kembali," katanya seraya menyematkan tangkapan layar akun Twitter Dr Priyono yang memperlihatkan kalau cuitan terakhir di akun itu adalah 18 jam sebelumnya. 

Artinya, cuitan hacker melalui akun itu yang diposting setelah waktu tersebut, telah dihapus setelah akun dapat diambil kembali oleh pemiliknya. 

Dari penelusuran Dekannews diketahui, cuitan terakhir  tersebut diposting pada Rabu (19/8/2020) pukul 10:19 WIB. Karena penelusuran dilakukan pada Kamis (20/8/2020) pukul 06:20 WIB, berarti akun itu dapat dikuasai kembali pada Kamis (20/8/2020) sekitar pukul 04:00 WIB. 

Inilah cuitan Dr Pandu yang diduga membuat akunnya dibajak;

"Kepercayaan publik terhadap upaya pemerintah dapat menurun, bila tidak ada keterbukaan pada respon pandemi, termasuk uji obat dan uji vaksin yang berdampak pada kebijakan publik dan menggunakan dana publik. Kepercayaan perlu dijaga dan dirawat oleh kita bersama". 

Cuitan ini diposting pada Senin (17/8/2020) pukul 23:40 WIB untuk menanggapi berita berjudul "Unair Temukan Obat Covid-19".

Dr Pandu juga sempat mengkritik seorang profesor di Unair yang mengklaim bahwa jahe dapat mencegah penularan Covid-19. Klaim itu dimuat media online dengan judul 'Profesor Unair Klaim Ramuan Jahe Dapat Cegah Penularan Corona, Ini Penjelasannya... "

Begini kata Dr Pandu pada Rabu (19/8/2020) pukul 04:11 WIB seraya menyematkan tangkapan layar dari berita tersebut:

"Banyak ilmuwan dan akademikus di Indonesia menyimpulkan dan sampai menganjurkan sesuatu yang tidak berbasis evidens yang akurat, maka ilmuwan itu mengkhianati integritas ilmiah dan menjauhkan negara ini untuk mencerdaskan rakyat. Pandemi mengungkap kenyataan pahit tersebut". 

Pada hari yang sama, namun pada pukul 04:39 WIB, Dr Pandu juga mengkritik pemerintah yang menangani pandemi Covid-19 yang dinilai tidak berbasis sains. Begini katanya:

"Sejak awal respon pandemi di Indonesia tidak berbasis sains & tak terapkan kerja-kerja yang berbasis ilmu pengetahuan. Ketidakpastian dalam sains bukan kelemahan yang merugikan, bahkan itu kekuatan yang membimbing kita dalam kehati-hatian simpulkan hasil riset, karena ancaman bias". 

Pada cuitan selanjutnya yang diposting di hari yang sama (Rabu, 19/8/2020), namun pada pukul 07:07 WIB, Dr Pandu menganjurkan pemerintah agar melakukan riset dengan baik, bukan riset yang asal jadi. 

"Lakukan riset yang baik, bukan sekedarnya saja, agar hasil risetnya valid dan bermanfaat maksimal bagi publik. Kita harus akui, banyak riset yang asal jadi demi kejar kum, kejar popularitas, mumpung ada duit & mumpung-mumpung yang lain. Tak ada inovasi, hanya polesan palsu, bukan kebenaran". 

Untuk cuitan ini, Dr Pandu menyematkan tangkapan layar berisi pernyataan peneliti medis yang juga pengisi game statistic, Profesor Doug Altman, lengkap dengan foto profil sang profesor. 

Begini pernyataan Profesor tersebut: "To maximise the benefit to society, you need to not just do research but do it well.. (Untuk memaksimalkan manfaat bagi masyarakat, Anda tak hanya harus melakukan penelitian, tapi melakukannya dengan baik)". 

Seperti diketahui, publik sempat tercengang kepada Unair, TNI AD dan BiN karena dapat menghasilkan obat Covid-19, namun kemudian BPOM mengatakan bahwa ada masalah dalam uji klinis obat tersebut, dan obat itu pun belum mendapat izin edar dari BPOM, serta uji klinisnya diketahui belum terintegrasi dengan WHO. (rhm)