Sejarawan Nilai Kemendikbud Khianati Nawacita dan Injak-injak Pemikiran Soekarno

Sejarawan JJ Rizal. (Foto: Netralnews)

Jakarta, Dekannews- Sejarawan JJ Rizal mengatakan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mendapatkan dua dosa sekaligus (dobel) karena berencana menjadikan mata pelajaran sejarah sebagai mata pelajaran tidak wajib di tingkat SMA dan yang sederajat. 

"Menjadikan mata pelajaran sejarah sebagai pilihan tak wajib di sekolah dosanya dobel dua," kata Rizal melalui akun Twitter-nya, @JJRizal, Sabtu (19/9/2020). 

Sejarawan ini menjelaskan, dosa yang pertama adalah dosa karena mengkhianati visi misi presiden dalam nawacita butir ke-8.

"Dua, durhaka karena mengaku sebagai kader Soekarno en petugas partai yang identik dengan Soekarno, tetapi tindakannya menginjak-injak pemikiran Soekarno," imbuhnya. 

Seperti diketahui, Presiden pertama Indonesia, Soekarno, termasuk orang yang sangat menghargai dan menghormati sejarah, sehingga dalam pidato terakhir yang disampaikan pada 17 Agustus 1966, ia menyatakan ungkapan yang terkenal hingga saat ini, yaitu Djas Merah atau Djangan Sekali-kali Meninggalkan Sedjarah. 

Sementara poin ke-8 nawacita berbunyi: "Melakukan revolusi karakter bangsa melalui kebijakan penataan kembali kurikulum pendidikan nasional dengan mengedepankan aspek pendidikan kewarganegaraan, yang menempatkan secara proporsional aspek pendidikan, seperti pengajaran sejarah pembentukan bangsa, nilai-nilai patriotisme dan cinta Tanah Air, semangat bela negara dan budi pekerti di dalam kurikulum pendidikan Indonesia". 

Seperti diketahui, dalam rencana penyederhanaan kurikulum yang akan diterapkan Kemendikbud pada Maret 2021, diketahui kalau mata pelajaran sejarah Indonesia tidak lagi menjadi mata pelajaran wajib bagi siswa SMA/sederajat kelas 10, melainkan digabung di mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), sementara dalam kurikulum 2013 yang diterapkan selama ini, mata pelajaran Sejarah Indonesia harus dipelajari dan terpisah dari mata pelajaran lainnya.

Berikut mata pelajaran wajib bagi siswa SMA kelas 10 dalam kurikulum yang disederhanakan:
- Pendidikan Agama
- PPKn
- Bahasa Indonesia
- Matematika
- IPA
- IPS
- Bahasa Inggris
- Seni dan Prakarya
- Pendidikan Jasmani
- Informatika
- Program Pengembangan Karakter

Kemudian untuk siswa kelas 11 dan 12 SMA/sederajat, mata pelajaran sejarah juga tidak wajib dipelajari. 

Berikut mata pelajaran wajib bagi siswa kelas 11 dan 12 kelompok IPA, IPS, bahasa dan vokasi:
- Agama dan Kepercayaan kepada Tuhan YME
- PPKN
- Bahasa Indonesia
- Matematika
- Bahasa Inggris
- Seni dan Prakarya
- Pendidikan Jasmani

Mata pelajaran sejarah bisa dipelajari siswa kelompok peminatan IPA, IPS, bahasa dan vokasi, namun tidak bersifat wajib.

Siswa kelompok peminatan IPS akan diberi pilihan 5 mata pelajaran tambahan, yakni Geografi, Sejarah, Sosiologi, Ekonomi dan Antropologi. Siswa hanya akan diminta memilih 3 dari 5 mata pelajaran tersebut.

Dengan kata lain, siswa diperkenankan untuk tidak memilih mata pelajaran sejarah untuk dipelajari. Misal, siswa boleh memilih geografi, sosiologi, dan ekonomi.

Di kelompok siswa peminatan IPA, sejarah juga tidak termasuk mata pelajaran wajib. Siswa bisa memilih untuk mempelajari atau tidak mempelajari sejarah.

Siswa kelompok peminatan IPA diberi pilihan 7 mata pelajaran tambahan, yaitu Biologi, Fisika, Kimia, Informatika Lanjutan, Ilmu Kesehatan, Matematika Lanjutan, dan Matematika Terapan.

Kelompok siswa peminatan IPA harus mengambil salah satu mata pelajaran pilihan yang ada di kelompok IPS. Sejarah bisa dipilih, namun tidak bersifat wajib. Ada pilihan mata pelajaran IPS lainnya yang bisa dipilih siswa.

Dengan kata lain, siswa kelompok IPA bisa mengambil 2 mata pelajaran IPA plus 1 mata pelajaran IPS. Siswa juga bisa mengambil 1 mata pelajaran IPA plus 2 mata pelajaran IPS.

"Di kelas 11 dan 12, siswa diwajibkan untuk mengambil minimal 3 mata pelajaran pilihan dengan syarat minimal 1 mapel kelompok MIPA dan 1 mapel kelompok IPS, 1 mapel kelompok bahasa dan satu vokasi," mengutip data paparan Kemendikbud.

Di kelompok siswa peminatan bahasa dan vokasi. Kelompok siswa peminatan bahasa diberi pilihan 3 mata pelajaran tambahan, yaitu Bahasa dan Sastra Indonesia, Bahasa dan Sastra Inggris, dan Bahasa dan Sastra Asing.

Kemudian untuk pendidikan kecakapan hidup dan vokasi terdapat tiga mata pelajaran, yakni Pengalaman Dunia Kerja, Mata Pelajaran Vokasional, dan Kewirausahaan.

Kelompok siswa peminatan bahasa dan vokasi harus memilih 1 pelajaran IPA dan 1 pelajaran IPS.

Seorang pegiat pendidikan mengatakan, Kemendikbud sudah menyampaikan rencana penyederhanaan kurikulum itu dalam pertemuan dengan guru dan para pegiat edukasi. (rhm)