Sebut Pemprov DKI Rugi Rp 40 Triliun, Buzzer Militan Ini Digoblok-goblokin Netizen

Foto: Dekan

Jakarta, Dekannews- Salah seorang buzzer yang dikenal militan dalam membela Presiden Jokowi dan Komisaris utama (Komut) PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, dicemooh netizen karena mencuitkan postingan yang dinilai bodoh.

Cuitan yang diposting pada Kamis (27/8/2020) siang itu dibuat untuk membela Ahok yang sedang dibully netizen gegara Pertamina rugi Rp11 triliun pada semester I-2020.

"DKI rugi 40 triliun.  Kadrun: wajar lagi pandemi. Pertamina rugi 11 triliun Kadrun: gara2 Ahok!" kata buzzer pemilik akun @MurthadaOne1 itu.

Buzzer ini diketahui merupakan buzzer yang memiliki kelas setara Denny Siregar, Eko Kunthadi, Teddy Gusnaidi, pemilik akun @yusuf_dumdum, dan lain-lain. 

Hingga Jumat (28/8/2020) pagi, cuitan @MurthadaOne1 itu telah dikomentari hingga 1.054 orang, tapi sebagian besar mencaci maki karena cuitan itu dinilai bodoh.

Pasalnya, menurut "kadrun" yang berkomentar, Pemprov DKI bukanlah perusahaan seperti Pertamina, melainkan institusi pemerintahan, dan Pemprov pun tidak menjual apapun, sehingga pemasukan yang didapat berasal dari pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah, dan penerimaan lain-lain, termasuk dari pemerintah pusat dalam bentuk Dana Perimbangan yang meliputi dana bagi hasil, dana alokasi umum (DAU), dan dana alokasi khusus.

Karena sifatnya yang demikian, maka dalam institusi pemerintahan tidak dikenal kata rugi, melainkan defisit akibat pemasukan yang tidak sesuai dengan pengeluaran yang direncanakan, untuk membiayai program-program yang telah ditetapkan dalam APBD.

Berikut beberapa netizen yang membully dan mencaci maki @MurthadaOne1.

"Astaga sungguh bodohnya twit ini... Goverment vs Corporate berbeda lol... Goverment basisnya income tax, corporate basisnya production and market. Belajar buku komik begini nih, tingkat keilmuannya cetek," kata @indra2127.

"Pertamina adalah korporasi, business oriented, mengejar keuntungan. Pertamina harus untung, tak boleh impas, apalagi sampai rugi. Jika rugi, komisaris dan direksinya harus dipecat. Sedangkan Pemda orientasinya adalah pelayanan publik, membelanjakan duit rakyat buat kepentingan rakyat. Duit rakyat tersebut berasal dari berbagai sumber; DAU, DAK, dana bagi hasil, PAD dan pendapatan lain-lain yang sah. Apabila pendapatan Pemda turun, harus dilihat turunnya dari sumber yang mana. Jika yang turun dari DAU dan DAK serta Dana Bagj Hasil silakan tanya @jokowi," kata @Panglima_Nayan dalam dua cuitan.

"Woii goblok, pemerintah itu gak mengenal istilah rugi. Rugi untuk usaha yang tujuannya menghasilkan untung. Jokowi nambah utang 1000T bukan karena negara rugi," teriak @t4n_2015.

Tanggapan-tanggapan pedes warganet itu rupanya membuat @MurthadaOne1 justru happy.

"Banyak kadrun dan bajer balaikota terkaing-kaing dengan twit ini. Aku skak πŸ‘ Lanjutkan drun pembelaanmu kepada kebodohan πŸ˜‚πŸ˜‚," katanya, Jumat (28/8/2020) pagi.

Netizen pun kembali ramai-ramai mencaci dan menggoblok-goblokkan @MurthadaOne1.

"Wkekek... Bukan terkaing-kaing, tapi ketawa kepada kelucuanmu. Akhirnya kegoblokan dipamerin sekedar untuk menutupi bacod ahog. Jadi buzzer makan duit rakyat, tapi bohongin rakyat. Menjijikkan hidupmu πŸ˜‚πŸ˜‚," cela @glondhorjaya.

"Kirain orang2an sawah aja yang lucu, ternyata lo LEBIH LUGU (LUCU TAPI GUOBLOQ). Bilang aja lu mau nutupin kejang-kejang lo gegara ada noh kadrun dapat penghargaan dari jilatan lo! Sedangkan lo KAGAK DAPET SEUPIL pun! πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚. Kasian idup lo," kata @tegaxdirimu.

"Bukan terkaing, tweetmu itu lucu dan seperti tak berilmu," cemooh @samurai_tenro.

Seperti diketahui, belakangan ini Ahok menjadi sorotan karena pada semester I-2020 Pertamina mencatatkan kerugian sebesar US$ 767,92 juta atau sekitar Rp 11,33 triliun dengan asumsi kurs Rp 14.766/dolar AS. 

Pada semester I-2019, Pertamina membukukan laba bersih sebesar US$ 659,96 juta.

Fakta ini tak sesuai dengan apa yang dikatakan Ahok setelah diangkat menjadi komisaris utama Pertamina pada November 2019.

Pasalnya, dalam sebuah sesi wawancara dalam program KickAndy Show pada (27 Juni 2020, Ahok mengatakan bahwa pendapatan Pertamina yang mencapai Rp 800 triliun sangat besar karena hampir setara APBN.

Dengan pendapatan sebesar itu, kata dia, dibutuhkan pengawasan yang kuat, sehingga Pertamina akan selalu untung.

“Kalau enggak diawasi dengan baik, direksi Pertamina enggak punya KPI (key performance indicator). Padahal KPI sifatnya administrasi semua. Jadi merem juga untung,”kata dia. (rhm)