Sebelum Meninggal, Harun Minta Uang untuk Beli Layang-Layang

Jenazah Harun saat disemayamkan di rumah duka. (Foto: Viva)

Jakarta, Dekannews-- Muhammad Harun Al Rasyid, remaja 15 tahun yang meninggal dunia akibat kerusuhan 22 Mei 2019, sehari sebelum kejadian, meminta uang sebesar Rp5.000 untuk membeli layang-layang.

"Itu layang-layangnya masih ada di rumah. Anak itu (Harun) biasanya juga ikut memukul bedug sahur untuk membangunkan warga," ujar Nurma, tetangga dekat korban di rumah duka, RT 09/RW 10 Nomor 81, Duri Kepa, Jakarta Barat, Sabtu, (25/5/2019).

Nurma menjelaskan, Harun adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Dua saudaranya masing-masing bernama Anisa dan Zahra. 

Seperti anak pada umumnya, kata Nurma, Harun biasanya bergaul dengan teman-teman sebayanya dan terkadang bermain di sekitar sekolah SMP Islam Assa’adatul Abadiyah, Petamburan, Jakarta Barat yang tak jauh dari lokasi dimana dia tewas.

"Daerah tersebut (flyover Slipi, Jakarta Barat) dekat dengan sekolah dia. Dia tidak asing dengan lokasi sekitar," ungkapnya.

Dia menambahkan, Harun direncanakan bisa menghatamkan Alquran pada Ramadhan ini. Sebelum hari raya, kata Nurma, khataman Alquran akan dijadwalkan digelar dirumah Harun seperti tradisi pada umumnya.

Menurutnya, kedua orang tua harun berharap lebih kepada Harun yang merupakan anak laki-laki satu-satunya. Nantinya, kata Nurma, Harun dapat menjadi tulang punggung keluarga.

Sebelumnya diberitakan kalau Harun diduga merupakan bocah yang dikeroyok sejumlah petugas Brimob yang videonya viral di Medsos. Namun infirormasi terakhir yang diperoleh menyebutkan, Harum meninggal di kawasan Slipi, Jakarta Barat, dengan luka tembak. 

Diduga dia terkena peluru aparat saat sedang mengatasi kerusuhan di wilayah itu. (Man/ROL)