Sebarkan Informasi Menyesatkan, Facebook Hapus 443 Akun, Termasuk dari Indonesia

Aplikasi Facebook. (Foto: Int)

Jakarta, Dekannews- Facebook menghapus 443 akun, 200 halaman dan 76 grup, serta menghapus 125 akun Instagram karena memiliki "perilaku tidak autentik yang terkoordinasi" yang bertujuan untuk menyesatkan pengguna media sosial.

Pemilik akun, halaman dan grup tersebut berada di Timur Tengah, Afrika, dan Asia Tenggara.

"Mereka dilacak tiga operasi terpisah dan "tidak terhubung", salah satunya beroperasi di tiga negara, Uni Emirat Arab, Mesir dan Nigeria; dan dua lainnya di Indonesia dan Mesir. Mereka menyebarkan posting dan artikel yang menyesatkan," demikian dilansir Aljazeera seperti dikutip dekannews.com, Sabtu (5/10/2019).

Facebook menjelaskan, akun itu terlibat penyebaran konten pada topik seperti aktivitas UEA di Yaman, kesepakatan nuklir Iran dan kritik terhadap Qatar, Turki dan Iran.

"Operasi-operasi itu menciptakan "jaringan akun untuk menyesatkan orang lain tentang siapa mereka, dan apa yang mereka lakukan," ujar Nathaniel Gleicher, kepala kebijakan keamanan siber Facebook, dalam sebuah pernyataan tertulis.

Secara keseluruhan, akun di Facebook dan Instagram itu memberikan perintah kepada sekitar 7,5 juta pengikut.

Facebook menegaskan, pihaknya menutup akun-akun itu karena "berdasarkan perilaku mereka, bukan konten yang mereka posting".

"Dalam setiap kasus ini, orang-orang di balik kegiatan ini berkoordinasi satu sama lain dan menggunakan akun palsu untuk menggambarkan diri mereka sendiri secara salah (palsu, red)," imbuh Gleicher.

Facebook mendefinisikan perilaku tidak autentik yang terkoordinasi sebagai "sekelompok halaman atau orang yang bekerja sama untuk menyesatkan orang lain tentang siapa mereka atau apa yang mereka lakukan."

Satu akun bernama USA Thoughts memposting informasi palsu tentang Qatar yang mengembangkan "Hate App".

Di Indonesia, akun-akun itu terlibat dalam isu-isu domestik yang dituduh menyebarkan berita tentang protes mematikan di wilayah Papua Barat.

"Meskipun orang-orang di balik kegiatan ini berusaha menyembunyikan identitas mereka, penyelidikan kami menemukan akun-akun itu bertautan ke sebuah perusahaan media Indonesia InsightID," imbuh Gleicher lagi.

Facebook melaporkan, akun-akun itu menghabiskan 300.000 dolar AS untuk beriklan di flatform-nya, dan dibayar dalam mata uang Indonesia, rupiah.

Aljazeera tidak dapat langsung menghubungi InsightID, namun media ini menyebut,  selama Pilpres 2019 yang digelar bulan April,  Presiden Jokowi yang sedang berupaya menjadi presiden Indonesia untuk periode kedua, juga menjadi sasaran disinformasi di media sosial. Dia antara lain dituduh sebagai seorang komunis. (man)