Sebarkan Chatting dari Grup STM, Polri Diminta Tangkap 3 Buzzer Pendukung Jokowi

Siswa SMK demo DPR. (Foto: Int)

Jakarta, Dekannews- Warganet meradang dan meminta polisi menangkap tiga orang buzzer pendukung Presiden Jokowi.

Pasalnya, sejak Senin (30/9/2019) malam hingga Selasa (1/10/2019) ini publik dihebohkan oleh beredar tangkapan layar dari grup WhatsApp G30S STM ALLBASE dan ORIGINAL BOKEP COL..  yang berisi percakapan tentang pelajar Sekolah Tinggi Menengah (STM) yang mau berdemo di DPR karena dibayar, namun bayarannya tak diberikan, sehingga mereka terkatung-katung dan tak bisa pulang.

Dari cuitan warganet yang menanggapi beredarnya screenshot tersebut, muncul tudingan kalau chattingan yang disebarkan di media sosial tersebut diduga merupakan hasil rekayasa oknim anggota kepolisian yang menjadi anggota grup WhatsApp tersebut. Hal ini diketahui setelah nomor-nomor ponsel yang ada di grup tersebut dilacak dengan menggunakan aplikasi Truecaller.

Ketiganya adalah @dennysiregar7, @OneMurthada, dan @yusuf_dumdum.

Ketiga buzzer ini pula yang memviralkan cuitan @TMCPoldaMetro tentang penangkapan lima ambulan milik Pemprov DKI Jakarta yang membawa batu dan bensin, dan diketahui merupakan pendukung militan Presiden Jokowi

"Gosah pake lama pak!  Silakan tangkap para penyebar, @dennysiregar7 @OneMurthada @yusuf_dumdum," kata @R4jaPurwa, Selasa (1/10/2019), untuk mengomentari berita berjudul 'Percakapan WhatsApp Pelajar STM Beredar, Polisi Usut Penyebar'.

Inilah tangkapan layar dari  chatting di grup WhatsApp G30S STM ALLBASE yang menghebohkan itu;

Terungkapnya kalau chatting itu diduga dibuat oleh anggota polisi yang menyusup ke grup tersebut, antara lain diungkap @thegrimaldy.

Akun @opposite6890 juga mengungkap dugaan adanya nomor polisi di grup WhatsApp itu:

Akun @dennysiregar7, @OneMurthada, dan @yusuf_dumdum dituding menyebarkan chatingan itu karena warganet sempat membaca postingan mereka, namun saat dekannews.com menelusuri akun @yusuf_dumdum,  postingan itu tidak ditemukan karena sudah dihapus.

Postingan @OneMurthada juga sudah tidak ditemukan, namun warganet sempat meng-capture-nya dan disebarkan di media sosial, sehingga masih bisa dibaca isinya.

Berikut postingan @OneMurthada dan @dennysiregar7 yang tersebar di medsos:

"TWITER do your magic 🙏 Dicari bohir yang janjiin duit buat anak-anak STM yang ikut demo. Anak-anak itu kini terlunta-lunta dengan kancut basah gak punya ongkos buat pulang," katanya @OneMurthado seraya menyematkan tangkapan layar dari chattingan di grup WhatsApp G30S STM ALLBASE itu.

 

"Lucu juga baca chat2 anak STM dikadalin kadrun, cuma dijanjiin duit tapi gak dikasih apa-apa," kata @dennysiregar7.

"Bagi chatnya bang," pinta @wkkwhaha.

"Cuman ada atu," jawab @dennysiregar7, dan dia mempostong tangakapan layar dari grup WhatsApp ORIGINAL BOKEP COL... berikut ini:

 

Pakar IT yang juga pendiri Down Emprit dan Media Kernel Indonesia, Ismail Fahmi, menemukan kalau di antara nomor-nomor yang berada dalam chattingan grup WhatsApp anak-anak STM yang tangkapan layarnya tersebar di Medsos, adalah nomor orang dewasa.

"VIOLATION! Meski setelah saya cek, nomor yang dishare ternyata ada yang bukan punya anak STM, tapi orang dewasa, namun praktek sharing identity dan nomor kontak seperti ini adalah PELANGGARAN.  Jangan dicontoh ya netizan. Salah dan tidak bertanggung jawab. Be wise," katanya melalui @ismailfahmi.

Warganet pun meradang, tak terkecuali Ustad Felix Siauw, ketua PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak, dan DPP Gerindra.

"Kamu tuduh aksi ditunggangi provokator. Ternyata, kamu sendiri menyusup, berpura-pura jadi anak STM, memancing agar anarkis. Dan tuduhanmu hoax. #KamuJahat," kata Ustad Felix melalui @felixsiauw.

"Sejak awal sampai sekarang mereka konsisten. Mereka produsen hoaknya. Mereka yang kampanye anti hoaxnya. Mereka yang menangkap. Mereka yang merayakan kemenangan. Dan Indonesia raya menderita diambang perpecahan," kata Dahnil melalui @Dahnilanzar.

"+1 (479), +1 (606) @yusuf_dumdum tolong ditanya ke Kakak Pembina, anak-anak STM nya ada yang pakai nomor dari Amerika atau Kanada?" tanya DPP Partai Gerindra melalui @Gerindra.

Terkait hal ini, Mabes Polri membantah merekayasa percakapan WhatsApp yang disebarkan @dennysiregar7 dan kawan-kawan, bahkan mengancam pihak yang menuding polisi menyebar hoaks soal percakapan itu.

Karo Penmas Mabes Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan, dia akan meminta Ditipidsiber Bareskrim Polri untuk melacak penyebar yang tanpa dasar tersebut. Ia berharap masyarakat tak ikut menyebarnya.

“Kita akan lacak dan profiling akun-akun tersebut,” kata dia kepada wartawan di Mabes Polri, Jakarta Selatan.

Dedi meminta agar pihak terkait tak sembarang menuding. Ada unsur pidana yang bisa mengancam. (rhm)