Saksi Ahli KPU Ini Diduga Berbohong di Sidang MK

Saksi ahli dari KPU, Marsudi Wahyu Kisworo. (Foto: Int)

Jakarta,  Dekannews- Saksi ahli Termohon (KPU) dalam gugatan sengketa perselisihan hasil pemilihan umum (PHPU) Pilpres 2019, Marsudi Wahyu Kisworo,  diduga kuat berbohong saat memberikan kesaksian dalam lanjutan sidang gugatan tersebut di Mahkamah Konstitusi (MK),  Kamis (20/6/2019).

Dalam sidang itu Marsudi mengatakan bahwa dirinya lah yang merancang (arsitek) Sistem Informasi Perhitungan (Situng)  KPU pada 2003.

Faktanya,  sesuai informasi yang disampaikan Nazaruddin Sjamsuddin (Ketua KPU 2001-2005) dan Chusnul Mariyah (komisoner KPU 2002-2007),  informasi itu tidak benar.

Kebohongan Marsudi itu diungkap Ketua Tim Hukum Prabowo-Sandi, Bambang Widjojanto, sebelum mengikuti sidang lanjutan gugatan PHPU,  Jumat (21/6/2019).

"Coba lihat ahli mereka di Situng, kemarin itu. Mereka pertama mengakui bahwa dia desainer Situng. Begitu diperiksa teman-teman KPU sebelumnya, dia bohong ternyata kan," ujar pengacara yang akrab disapa BW itu.

Menurut mantan komisioner KPK itu, Nazaruddin Sjamsuddin dan Chusnul Mariyah mengatakan, Marsudi tidak termasuk salah satu yang merancang sistem teknologi informasi di KPU pada 2004. Saat itu namanya belum Situng.

"Dia bilang mendesain sejak 2004. Saya dengar dari Profesor Nazaruddin itu enggak benar itu. Kalau soal desain mendesain dia berbohong, bagaimana kualitas argumennya? Saya baru dengar itu," ungkapnya.

Ia menambahkan,  kalau pernyataan Chusnul Mariyah bahwa Marsudi bohong dengaj mengatakan bahwa  dia yang desain website Situng, maka ada problem pada kesaksiannya. 

"Bagaimana isi kesaksian?" tanya BW.

BW yang absen pada sidang Kamis kemarin, menolak istilah yang dipakai Marsudi dalam kesaksiannya,  yaitu bahwa KPU memiliki dua Situng,  yakni website Situng dan sistem Situng,  karena katanya yang ada adalah front office dan back office.

"Kemarin juga ditanya sama hakim luar biasa, salah satunya Pak Suhartoyo; "Apakah Anda pernah melakukan audit terhadap sistem IT dan Situng itu?  Karena ternyata sistem IT-nya itu yang punya kuncinya passwordnya adalah KPU," tuturnya.

Ia menegaskan,  kalau KPU melakukan kecurangan,  tapi belum pernah ada yang audit atau menguji keandalan sistem itu, bagaimana bisa memastikan kecurangan tidak terjadi?

"Jadi,  ahli yang dihadirkan yang bicara soal Situng itu tidak menjawab ahli kami yang ahli soal forensik itu dan soal penggelembungan suara itu," imbuh mantan pimpinan KPK itu.

Dalam kesaksiannya di MK kemarin, Kamis (20/6/2019), Marsudi menyatakan bahwa dirinya merupakan salah satu orang yang merancang Situng KPU bersama beberapa orang dari kampus berbeda.

"Situng hanyalah salah satu dari 19 aplikasi yang dirancang pada 2003. Pada waktu dirancang dulu, UU menyatakan yang sah hitungan berjenjang yang dilakukan dari TPS sampai pusat. Situng tidak dirancang untuk penghitungan suara," katanya.

Ia menambahkan bahwa dirinya merancang Situng pada 2003. Ia bahkan mengatakan bahwa Situng tak mungkin dapat diretas oleh siapapun karena Situng akan terus diperbaharui setiap 15 menit sekali.

Dia juga menyebut, yang dapat memanipulasi Situng hanya perugas internal KPU. Bukan orang di luarnya.

Selain itu,  Marsudi juga mengatakan kalau pada Pilpres 2004 situng KPU belum menampilkan angka, hanya menampilkan scan C1; dan pada Pilpres 2009 tidak diunggah scan C1, hanya jumlah total.

Seperti dikutip dari laman Facebook Ketua Tim IT BPN Prabowo-Sandi, Agus Maksum,  atas pernyataan Marsudi itu,  Chusnul Mariyah mengatakan, pada Pilpres 2004 data entryi IT KPU di Kecamatan.  Sumbernya C1 IT KPU,  sesuai SK KPU Nomor 37 Tahun 2004, namun tak ada scan C1-nya.

"Mahasiswa yang melaksanakan data entry di 4.276 kecamatan," katanya.

Pada Pilpres 2009 dan 2014 sudah ada scan C1, sedang pada Pilpres 2019 ada scan C1 dan entry data.

"Pada 2009. 2014 dan 2019 scan di KPU kabupaten/kota, " katanya.

Chusnul menjelaskan, Marsudi adalah anggota tim IT  saat KPU diketuai Imam Prasodjo. Setelah Imam keluar,  Chusnul mengaku membuat tim sendiri,  dan arsitek jaringan ala Marsudi dan Imam Prasodjo tidak digunakan sama sekali

"Kami bikin baru: Timnya Basuki Suhardiman  dan Andre Aryana dulu di BPPT," kata Chusnul. (man)