Said Didu Sebut Ada 5 Tanda Kuat Perusahaan di Indonesia Menuju Arah Kebangkrutan Massal

Said Didu. (Foto: kompas)

Jakarta, Dekannews- Mantan komisaris PT Bukit Asam, Muhammad Said Didu, menyebut ada lima tanda perusahaan-perusahaan di Indonesia dapat mengalami kebangkrutan secara masal pada 2021.

Pernyataan itu disampaikan untuk menanggapi pernyataan ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira bahwa resesi ekonomi yang dialami Indonesia saat ini dapat mengarah pada depresi ekonomi.

Bahkan apabila pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) masih negatif pada 2021, akan mengarah pada gelombang kebangkrutan massal perusahaan di dalam negeri.

"Tanda-tanda ke arah sana kuat," kata Said Didu. melalui akun Twitter-nya, @msaid_didu, seperti dikutip, Jumat (6/11/2020).

Mantan komisaris PT Bukit Asam yang juga mantan staf khusus menteri ESDM ini menjelaskan, ada lima tanda-tanda Indonesia dapat mengalami gelombang kebangkrutan massal perusahaan-perusahaan di dalam negeri, yaitu:
1. Utang makin besar vs kemampuan membayar menurun (pemerintah, swasta dan BUMN)
2. Daya beli makin turun
3. Kemampuan fiskal/APBN makin menurun
4. Ekspor tidak ada tanda-tanda meningkat
5. Nilai tukar makin melemah.

Seperti diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS), Kamis (5/11/2020), melansir pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III-2020 year on year dibandingkan triwulan III-2019 mengalami kontraksi 3,49%.  Sebelumnya, pada triwulan III-2019 pertumbuhan ekonomi juga terkontraksi, bahkan hingga 5,32%.

Karena dua kuartal berturut-turut mengalami kontraksi (pertumbuhan minus), Indonesia resmi jatuh ke jurang resesi ekonomi, menyusul puluhan negara yang lain seperti Malaysia, Korea Selatan dan Amerika Serikat.

Menyikapi hal ini, ekonom INDEF Bhima Yudhistira mengatakan, resesi ekonomi ini bisa mengarah pada depresi ekonomi apabila pertumbuhan PDB masih negatif pada 2021.

"Resesi ekonomi dapat mengarah pada depresi ekonomi jika pertumbuhan PDB masih negatif hingga 2021. Situasi ini akan mengarah pada gelombang kebangkrutan massal perusahaan di dalam negeri," ujar Bhima seperti dilansir RMOL.

Gelombang kebangkrutan perusahaan secara massal tersebut bukan hanya akan memicu PHK di berbagai sektor, tapi juga akan menaikkan jumlah orang miskin baru di Indonesia.

Data BPS menunjukkan, nilai ekspor Indonesia pada September 2020 jika dibanding September 2019 (year to year)  turun 0,51%, tapi jika dibanding Agustus 2020 (month to month) meningkat 6,97%.

Sementara nilai impor pada September 2020 dibanding September 2019 (year to year) turun 18,88%, tapi jika dibanding Agustus 2020 naik 7,71%.

Tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada Agustus 2020 sebesar 7,07%, meningkat 1,84% poin dibandingkan Agustus 2019.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di pasar spot,  Kamis (5/11/2020), ditutup pada posisi 14.380/dolar AS, menguat 1,27% dibandingkan pada penutupan Rabu yang berada di posisi 14.565/dolar AS.

Saat Jokowi dilantik menjadi presiden RI ke-7 pada 20 Oktober 2014, nilai tukar rupiah berada di posisi 12.011/dolar AS.

Saat kampanye Pilpres 2014, Jokowi menargetkan kurs rupiah berada di level 10.000/dolar AS. (rhm)