Ribuan Wisatawan Telah Kembali Kunjungi Pulau Onrust, Cipir dan Kelor

Benteng Martelo di Pulau Onrust. (Foto: Int)

Jakarta, Dekannews- Kepala Suku Dinas Periwisata dan Kebudayaan (Kasudin Parbud) Kabupaten Kepulauan Seribu, Cucu Ahmad Kurnia, mengatakan, imbas tsunami Banten terhadap kunjungan wisata ke tiga pulau cagar budaya di Kabupaten Kepulauan Seribu, hanya sebentar.

Kunjungan wisata ke Pulau Cipir, Onrust dan Kelor kini telah pulih seperti sediakala.

"Turunnya kunjungan wisata ke Pulau Cipir, Onrust dan Kelor itu shock yang wajar.  Sudin Kominko Pemkab Kepulauan Seribu sudah berkunjung ke BNPB dan bertemu Bapak Sutopo Purwo Nugroho (kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB, red), sebelum Beliau meninggal dunia. Saat itu Beliau menjelaskan bahwa gempa-gempa yang terjadi di selatan Pulau Jawa tidak ada pengaruhnya terhadap Teluk Jakarta," kata Cucu kepada dekannews.com di Jakarta, Selasa (13/8/2019).

Ia menambahkan, anjloknya kunjungan ke Pulau Cipir, Onrust dan Kelor tidak lama, dan hingga hari ini kunjungan ke ketiga pulau cagar budaya itu sudah normal kembali.

"Rata-rata kunjungan ke Pulau Cipir, Onrust dan Kelor saat ini mencapai 5.000-10.000 orang per bulan. Kalau ke pulau-pulau lain 5.000-6.000 orang per minggu. Kalau lagi ramai bisa 8.000 orang,"  imbuhnya.

Cucu mengakui, untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisata ke Kepulauan Seribu masih diperlukan promosi yang lebih gencar, karena warga Jakarta pun ternyata masih banyak yang belum tahu pulau wisata apa saja yang ada di Kepulauan Seribu dan berapa biayanya untuk mencapai pulau itu.

Yang juga krusial untuk ditingkatkan, lajut Cucu,  adalah aksesibilitas dan sarana penunjang.

Saat ini,  kata dia,  sarana angkutan laut yang beroperasi di Kepulauan Seribu lebih banyak milik swasta, dan untuk mencapai Pulau Cipir, Onrust serta Kelor, wisatawan hanya dapat menjangkaunya dari pelabuhan di Kamal Muara, belum bisa dari Pelabuhan Kaliadem atau Marina.

"Kalau kita ke Kamal Muara, aksesnya juga masih kurang bagus," jelas Cucu.

Soal sarana penunjang, Cucu menjelaskan kalau Kepulauan Seribu masih membutuhkan pulau-pulau resort yang baru,  dermaga yang lebih layak, dan ketersediaan air bersih yang cukup.

"Ini memang tak bisa diselesaikan Sudin Pariwisata Kepulauan Seribu sendiri, karena untuk masalah transportasi dan dermaga misalnya, itu domain Dinas Perhubungan," jelasnya.

Seperti diberitakan pada April 2019 lalu, jumlah kunjungan wisata ke Pulau Cipir, Onrust dan Kelor anjlok setelah tsunami menghantam pesisir Pandeglang dan Serang di Banten, dan Lampung Selatan, pada 22 Desember 2018 lalu, yang dipicu letusan Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.

"Kunjungan wisata ke Pulau Cipir sedang turun, karena pengaruh tsunami di Banten dan Lampung Selatan," ujar Nanang Suryana, pegawai PJLP Unit Pengelola (UP) Museum Bahari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) yang bertugas di Pulau Cipir.

Ia menyebut, saat itu kunjungan wisata ke Pulau Cipir turun menjadi sekitar 500 orang per weekend, dari sekitar 800-1.000 orang.

"Wisatawan yang datang mayoritas lokal, asing sedikit. Mereka biasanya ke sini dari Kamal Muara, Jakarta Utara," katanya.

Jumlah wisatawan yang mengunjungi Pulau Onrust, menurut pegawai yang bekerja di situ, turun dari 500 orang per weekend, menjadi 250 orang.

Sementara jumlah pengunjung Pulau Kelor, menurut pagawai di Pulau ini, anjlok dari sekitar 1.000 orang per weekend menjadi hanya 200-an orang.

"Umumnya wisatawan yang datang ke sini dibawa oleh agen travel yang menyediakan paket wisata ke Pulau Onrust, Cipir dan Kelor," imbuh Nanang.

Tsunami di Banten dan Lampung Selatan dipicu guguran lava dari letusan Gunung Anak Krakatau. Semburan abu vulkanik gunug itu bahkan juga jatuh di wilayah Kepulauan Seribu.

Kunjungan wisata ke Pulau Cipir, Onrust dan Kelor anjlok karena wisatawan takut jika wilayah Kepulauan Seribu diterjang tsunami, mereka tak dapat menyelamatkan diri karena pulau-pulau di Kepulauan Seribu,  termasuk Pulau Cipir, Onrust dan Kelor, tidak memiliki bukit atau gunung. (rhm)