Refleksi Akhir Tahun, KONI DKI: 2019 Merupakan Tahun Kebangkitan dan Optimisme

Pengurus KONI DKI Jakarta. (Foto: Dekan)

Jakarta, Dekannews- Tahun 2019 menjadi tahun kebangkitan bagi Komite Nasional Olahraga Indonesia (KONI) DKI Jakarta, sekaligus menjadi tahun membangun optimisme guna merebut kembali title juara umum yang lepas ke Jawa Barat pada penyelenggaraan PON XIX di Bandung. 

Hal ini terungkap dalam refleksi akhir tahun 2019 di kantor KONI,  Jalan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (30/12/2019). 

"2018 merupakan tahun transisi, karena semua pembinaan atlet masih ditangani Disorda (Dinas Olahraga dan Pemuda. Awal 2019, pembinaan atlet telah full diserahkan ke kita dengan jumlah atlet lapis pertama dan kedua sebanyak 1.300 orang. Berikut pelatih, asisten pelatih dan lain-lain, total sebanyak 1.600an orang," kata Ketua Umum KONI DKI Jakarta Djamhuron P Wibowo. 

Ia menambahkan, karena Gubernur memberi target juara umum PON XX yang dihelat di Papua pada Oktober 2020, maka KONI langsung tancap gas dengan melakukan pembinaan. 

Sebagai pengawasan, dibentuklah Trisula Persiapan yang antara lain terdiri dari Tim Pengendali Peningkatan Prestasi Atlet (TP3A), Tim Steering Comittee (SC), dan Tim Iptek, Kesehatan dan Psikologi. 

"Trisula Persiapan ini menjadi ujung tombak untuk memastikan meraih juara umum PON XX," tegas Djamhuron. 

Strategi yang diterapkan ini membuahkan hasil karena saat prakualifikasi PON, atlet-atlet Jakarta berhasil masuk peringkat tiga besar dengan raihan 163 emas, dan lolos di semua cabang olahraga yang diikuti pada PON XX. 

Dengan hasil ini, lanjut Djamhuron, pihaknya semakin optimis akan dapat mewujudkan jargon yang diusung dalam menyongson PON XX, yakni "Ayo Bung Rebut Kembali (juara umum PON)!" 

Sebab, kata dia, untuk dapat menjadi juara PON dubutuhkan raihan 171 emas, dan dari hasil pemetaan terakhir pasca prakualifikasi PON, pihaknya optimis akan meraih 178 emas. 

Cabang-cabang olahraga yang diandalkan untuk mendulang emas di antaranya Wushu, sepatu roda, tinju, karate, taekwondo, terbang layang, atletik, renang, dan loncat indah. 

Terkait masalah anggaran KONI pada 2020 yang hanya Rp271 miliar, Djamhuron mengatakan bahwa masalah dana ini bukan kendala, melainkan justru menjadi penambah semangat dan motivasi untuk meraih juara umum PON XX. 

"Dan kami bersyukur karena semua yang ada di sini, termasuk para atlet, tetap punya kemauan dan semangat. Mereka rela berkorban demi nama harum Jakarta," katanya. 

Meski demikian Djamhuron mengakui, pihaknya tetap berupaya untuk mencari tambahan dana dengan melibatkan BUMD sebagai bapak asuh. Sementara untuk mengefektifkan dana yang ada, mulai Januari 2020 akan melaksanakan program latihan yang efektif dengan berpatokan pada azas prioritas, dimana atlet-atlet yang akan dikirim ke training centre (TC) baik di dalam maupun luar negeri, adalah atlet dengan potensi 80-90 dapat meraih medali emas, dan turun pada nomor perorangan. 

Untuk TC di luar negeri, Wakil Ketua Umum IV KONI DKI Jakarta, Mas'ud Saleh, mengatakan, pihaknya sudah punya pilihan, yakni Eropa dan Korea Selatan, karena unggul dalam prestasi. 

Meski demikian, saat ini atlet terbang layang telah dikirim ke Australia untuk latihan di sana. (rhm)