Ramai di Medsos, Dosen IPB Yang Ditangkap Densus 88 Disebut-sebut Sedang Jual Minyak Jarak Online

Abdul Basith. (Foto: Facebook)

Jakarta, Dekannews- Belum tuntas kasus cuitan @TMCPoldaMetro tentang ambulan Pemprov DKI Jakarta membawa batu dan bensin, serta kasus penyebaran chat dari grup WhatsApp STM, Polri kini agaknya harus menghadapi persoalan baru.

Pasalnya, warganet mengabarkan kalau Abdul Basith (44), dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) yang ditangkap Densus 88 Antiteror, Polda Metro Jaya dan Polres Metro Tangerang Kota pada Sabtu (28/9/2019) dini hari di Jalan Maulana Hasanudin, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang, bersama lima orang lainnya, disebut-sebut bukanlah teroris yang berencana membuat kerusuhan saat aksi Aksi Mujahid 212 Selamatkan Indonesia di Patung Kuda, Jakarta Pusat, Sabtu (28/9/2019) pagi, karena saat ditangkap, Abdul Basith sedang menyiapkan pesanan online minyak jarak untuk lampu bakar.

Info ini dikabarkan alumni IPB Bah Hadi Sandjin melalui akun Facebook-nya, dan diposting pula di Twitter oleh akun @Stevaniehuangg.

Tak hanya itu, dari pantauan dekannews.com di akun Facebook Bah Hadi, diketahui kalau postingan alumni IPB itu juga diposting pemilik akun Facebook Didi Ponidi ke sejumlah grup Facebook, seperti Wajah Bogor, Suara Rakyat Indonesia, Group Komunitas Pengurus Terminal Baranangsiang, dan Masyarakat Cinta Sukabumi.

Inilah postingan Bah Hadi Sandjin tentang akitivitas Abdul Basith saat ditangkap Densus 88 Antiteror, Polda Metro Jaya dan Polres Metro Tangerang Kota:

 

Ini postingan di Twitter @StevanieHuangg:

 

Ini postingan Didi Ponidi yang menyebarkan postingan Bah Hadi Sandjin di grup-grup Facebook.

 

Saat Abdul Basith dan enam orang lainnya yang berinisial S, JAF, AL, NAD, SAM dan OS ditangkap, menurut Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Argo Yuwono, Abdul Basith menyimpan 28 bom molotov yang rencananya akan digunakan untuk melakukan pembakaran agar menimbulkan kerusuhan.

"(Bom molotov) untuk mendompleng demo Mujahid 212 yang rencananya akan melakukan pembakaran-pembakaran di Jakarta. Kalau enggak ditangkap, ya bisa kejadian (peristiwa pembakaran menggunakan bom molotov)," ujar dia seperti dilansir kompas.com.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri, Brigjen Dedi Prasetyo, mengklaim polisi masih mendalami peran Basith lebih jauh, juga peran lima orang lainnya.

Namun ia mengatakan, Abdul Basith lah yang merekrut S dan OS. Kedua tersangka itu, disebutnya memiliki keahlian dalam merakit bom.

"Kemudian OS dia menerima dana, dari dana tersebut akan digunakan oleh eksekutor-eksekutor yang digunakan untuk melakukan provokasi dan kerusuhan pada aksi demo hari Sabtu kemarin. Dari S tersebut sudah merekrut 4 orang atas nama tersangka JAF, AL, NAD dan SAM. Mereka-mereka ini memiliki kualifikasi membuat bom sekaligus merangkap sebagai eksekutor," kata Dedi di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Selasa (1/10/2019).

Saat ini Polda Metro Jaya telah menetapkan Abdul Basith dan keenam tersangka lainnya sebagai tersangka dengan tuduhan perancangan demo rusuh, dan semuanya  telah ditahan polisi.

Basith dijerat dengan sejumlah pasal, salah satunya pasal 1 ayat (1) UU Darurat Nomor 12 Tahun 1951 atas tindak pidana membuat, menguasai, membawa, menyimpan, mengangkut, menyerahkan dan atau berusaha menyerahkan bahan peledak.

Pada postingan Bah Hadi Sandjin yang disebarkan Didi Ponidi ke sejumlah grup Facebook, juga terdapat foto ke-28 bom molotov yang disita polisi sebagai barang bukti, dimana bom-bom tersebut sama persis dengan barang bukti yang dicuitkan Denny Siregar di akun Twitter-nya, @dennysiregar7, dan sebuah tangkapan layar yang membahas tentang bom-bom yang dibuat dari botol yang dibungkus lakban tebal.

Inlah cuitan @dennysiregar7 tentang penangkapan Abdul Basith tersebut;

 

Ini barang bukti yang diposting Bah Hadi Sandjin di Facebook-nya:

 

 

Dan ini tangkapan layar yang membahas barang bukti itu:

 

 

Hingga berita ini ditayangkan, pihak Polda Metro Jaya maupun Mabes Polri belum dapat dikonfirmasi, namun seorang warganet yang menanggapi cuitan @StevanieHuangg, mengatakan kalau keluarganya di kampung masih menggunakan lampu minyak jarak.

"Iya, lampu minyak jarak masih saya pake di kampung. Ortu kami menyebutnya "Damar". Jangan-jangan orang sekampung kami diciduk nanti. Gaswattt," kata @MahaD3w4. (rhm)