Protes Pembatasan Kunjungan ke Al Aqsa, 5 Warga Palestina Tewas

Suasana tegang di kompleks Masjid Al Aqsa. (Foto: Haaretz)

Yerusalem, Dekannews- Lima warga Palestina kehilangan nyawa akibat tindakan represif pasukan Israel dalam dua pekan terakhir, menyusul kebijakan pembatasan kunjungan yang diskriminatif ke Masjid Al Aqsa oleh pemerintah Israel.

"Korban kelima adalah seorang demonstran berusia 25 tahun yang meninggal akibat terluka parah," demikian dilansir Aljazeera, Senin (22/5/2019).

Menurut Kementerian Kesehatan Palestina, korban bernama Muhammad Kanan. Pemuda ini tewas akibat ditembak kepalanya oleh tentara Israel pada Kamis (30/5/2019) malam, tiga hari sebelum meninggal. Kanan menghembuskan napas saat masih dirawat di sebuah rumah sakit di Ramallah, kota Tepi Barat yang diduduki Israel.

Saat kejadian, Kanan dan ribuan warga Palestina berdemonstrasi untuk menentang kebijakan pemerintah Israel yang membatasi kunjungan warga Palestina ke Kompleks Masjid Al Aqsa. Apalagi karena kebijakan itu ditambah dengan kebijakan baru dimana sejak pekan kedua Ramadan, pria di bawah 50 tahun tak boleh lagi mengunjungi masjid suci bagi umat Islam tersebut, dan beberapa gerbang Kompleks Masjid Al Aqsa ditutup.

Tak hanya itu, kompleks pun dijaga sangat ketat. Padahal, umat Islam Palestina biasanya menunaikan shalat Jumat di masjid itu.

Saat kejadian, Kanan diketahui berdemonstrasi di Hizma, kampung halamannya di dekat Yerusalem, dan aksi protes berujung bentrok. Pasukan Israel menembakkan gas air mata dan water cannon, membuat Kanan dan para demonstran kocar-kacir.

Ketegangan pun meningkat. Kanan dan warga Palestina melawan. Mereka melempari pasukan Israel  dengan batu. Dalam kondisi inilah sebuah peluru pasukan Israel menghantam kepala Kanan, sehingga pemuda 25 tahun itu ambruk dan langsung dilarikan kawan-kawannya ke rumah sakit.

Kebijakan Israel membatasi kunjungan warga Palestina ke Masjid Al Aqsa memang merisaukan mereka, karena di sisi lain pembatasan seperti itu tidak berlaku bagi warga Israel.

"Kami dilarang memasuki al-Aqsa. Kami datang dari Bersyeba untuk sholat. Kami akan berdoa di jalan; tidak ada jalan lain,"  kata Salim abu Hani kepada Aljazeera.

Bersyeba berjarak lebih dari 100 kilometer dari Yerusalem. 

"Situasinya semakin buruk. Insya Allah itu akan menjadi lebih baik dan (pemerintah Israel) akan menghapus pos-pos pemeriksaan,"  kata Abdullah abu Hani (34), juga dari Bersyeba.

Samira Edrees, seorang penduduk Kota Tua, mengaku tak ingin sholat di Kompleks Al Aqsa karena sholatnya tak akan khusuk.

"Bagaimana saya bisa sholat di sana ketika tidak ada kedamaian? Bagaimana saya bisa masuk ketika saudara dan anak lelaki saya dilarang? Polisi (Israel) bertindak seperti gerombolan," katanya.

Identitas lusinan warga Palestina yang ingin sholat di Al Aqsa dipemeriksa polisi Israel. 

Reporter Aljazeera, Imran Khan, dari Gerbang Damaskus Yerusalem, melaporkan, Israel mengerahkan polisi dalam jumlah besar. 

"Ada ketegangan yang nyata di sini," katanya.

Ia menjelaskan, pasukan Israel membatasi pergerakan dari pos pemeriksaan antara Yerusalem Timur yang diduduki, dengan seluruh Tepi Barat. Israel memasang detektor logam dan pintu putar di masjid suci ketiga bagi umat Islam itu, setelah serangan tiga warga Palestina pada 14 Juli 2018 yang menembak dua polisi Israel, untuk kemudian bunuh diri. (rhm)