PPM Tolak Permintaan Maaf Wiranto

Wiranto Minta Maaf - Menkopolhukam Wiranto berpose bersama para tokoh Maluku usai pertemuan di Kantor Menkopolhukam. Dalam kesempatan tersebut, Wiranto menyatakan mohon maaf atas pernyataannya yang dianggap menusuk perasaan pengungsi gempa Maluku, pada Jumat (4/10/2019). [foto:ist]

Jakarta, Dekannews - Lidah tak bertulang. Akibat mengeluarkan pernyataan yang tidak pada tempatnya, Menkopolhukam Wiranto dikecam. Menyadari kesalahannya, Wiranto pun meminta maaf. Sekali lagi, Wiranto melakukan kesalahan. Wiranto meminta maaf dihadapan para tokoh Maluku di kantornya, Jalan Merdeka Barat, Jakarta, Jum'at (4/10/2019).

"Tidak tepat dan kurang etis permintaan maaf Wiranto terhadap rakyat Maluku terkait pernyataannya beberapa hari lalu. Tentu selaku putra Maluku secara pribadi dan atas nama rakyat Maluku yang tergabung dalam Paparisa Perjuangan Maluku (PPM_95 DJAKARTA) kami tidak bisa menerima permintaan maaf Wiranto, terlebih pernyataan maafnya disampaikan di depan para tokoh Maluku yang berdomisili di Jakarta dan dinyatakan di Jakarta," ungkap Koordinator Paparisa Perjuangan Maluku (PPM) Adhy Fadhly, di Jakarta, akhir pekan kemarin. 

Menurut Adhy, pernyataan maaf Menkopolhukam Wiranto dihadapan para tokoh Maluku yang dilakukan di Jakarta merupakan langkah yang sangat tidak tepat. Mereka yang hadir (para tokoh Maluku) bukan merupakan representatif dari masyarakat Maluku. Kemudian mereka bukan korban gempa dan tidak pernah merasakan penderitaan rakyat Maluku yang ada di tanah Maluku. 

i"Untuk itu kami tetap menolak permintaan maaf tersebut yang menurut kami salah sasaran dan ini merupakan hal yang dianggap ampuh  untuk selalu meredam berbagai gejolak interupsi dan kritikan dari Maluku yang kesemuanya merupakan akumulasi kekecewaan terhadap perlakuan negara terhadap Maluku," ujar Adhy.

Kendati pun demikian, PPM tetap menghargai para tokoh Maluku yang hadir. Mereka tetap merupakan orang tua kita. "Namun tidak selamanya apa yang dilakukan para orang tua itu benar. Iya kan," yakinkan Adhy.

Terkait persoalan ini sekali lagi ingin kami tegaskan, lanjut Adhy, Paparisa Perjuangan Maluku (PPM_95DJAKARTA) tetap menolak permintaan maaf Wiranto karena tidak tepat sasaran. "Kami tetap berkomitmen pada apa yang telah kami sampaikan dalam Aksi Diam 1000 koin untuk Menkopolhukam Wiranto, sebagaimana dalam pernyataan sikap pada point satu, bahwa; Menuntut permintaan maaf Wiranto terhadap rakyat Maluku khususnya korban gempa dan itu dilakukan di tanah Maluku. Jadi sudah jelas, bukan di depan para tokoh Maluku di Jakarta yang diundang ke kantor Menkopolhukam," tegas Adhy lagi. 

Adhy menambahkan, kami -PPM dan masyarakat Maluku- sepakat dengan pernyataan salah satu tokoh senior Maluku, Amir Hamzah. "Beliau menyarankan Menkopolhukam meminta maaf kepada rakyat Maluku dan itu dilakukan dengan cara mengunjungi Maluku. Janganlah kita mencari panggung di atas duka saudara - saudara kita," ujar Adhy menirukan pesan mantan Ketua Pokja Penyelesaian Konflik Maluku ini.

Dalam kesempatan yang sama Adhy juga menyampaikan pesan janganlah kita menjadi para safety player di atas duka saudara - saudara kita di Maluku. Jika ini yang terus terjadi sama halnya akan ada proses menuju pembenaran sebuah kalimat bahwa "Maluku adalah bangsa yang rendah dari yang terendah". 

"Kita bisa lihat akibat dari cara - cara ini, semua penghinaan yang dialamatkan kepada Maluku tidak satupun di tindaklanjuti. Tentu kita semua masih ingat sekitar dua tahun lalu, disaat Baju Adat Bangsa Maluku yang dikenakan Presiden kita yang terhormat Bapak Joko Widodo, dihina. Kasus itupun setelah di laporkan bahkan seluruh Tokoh Adat (Majelis Latupati) Maluku datang ke Jakarta, namun hasilnya tidak pernah ditindaklanjuti. Ini akibat dari budaya kita yang selalu menerima dengan gampang sebuah ketidakadilan," geram Adhy. 


Kembalikan Bantuan
Baru-baru ini gempa berkekuatan 6,8 SR melanda Maluku. Kondisi Maluku pun luluh lantak. Masyarakat menyalamatkan diri ke gunung. Bantuan untuk masyarakat Maluku yang mengungsi sudah mulai berdatangan. Pun bantuan yang digalang PPM 95 Djakarta sudah terdistribusi pada pengungsi di lima titik pengungsian yang terletak di gunung.

Tidak kurang juga bantuan dari pemerintah telah sampai ke pengungsi. Namun apa yang dialami dan dirasakan masyarakat Maluku, saat menerima bantuan tapi dibarengi pula pernyataan pejabat pemerintah pusat yang sungguh menusuk hati. 

"Untuk masalah bantuan ini kami sempat mendapat informasi bahwa  para pengungsi sudah siap mengembalikan apa yang pemerintah berikan," pungkas Adhy. 

Mengakhiri perbincangan, Adhy menandaskan, tidak semua persoalan harga diri Maluku harus diselesaikan di Jakarta. (kir)