PPM _95 Djakarta: Aksi Paparisa Peduli Wujud Kasih, Wiranto Asbun

Serahkan Bantuan - Paparisa Peduli Maluku menyerahkan bantuan kepada warga Maluku yang terdampak langsung gempa dengan kekuatan 6,8 SR. Mereka mengungsi di lima tempat terpisah. [foto:dok paparisa]

JAKARTA, DEKANNEWS - Paparisa Peduli Maluku pada 30 September 2019, telah berhasil menjangkau lima titik tempat pengungsian korban Gempa Maluku yang terjadi beberapahari lalu. Adapun kelima titik itu antara lain Negeri Tial, Waai, dan Negeri Liang, lokasi pengungsi di daerah Suli Banda dan Lembah Argo Negeri Passo. Dimana lokasi lokasi ini merupakan lokasi yang benar - benar terkena dampak gempa bumi berskala 6,8 SR khususnya Kota Ambon dan sekitarnya.

“Ini merupakan wujud kepedulian kami. Wujud kasih sayang serta persoalan kemanusiaan selaku anak Maluku dan sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa, yang mana berbuat baik itu tidak mengenal dia siapa, dari mana, agama apa,” ungkap Koordinator Paparisa Perjuangan Maluku (PPM) Adhy Fadhly kepada dekannews.com, Rabu (1/10/2019), di Jakarta.

Kegiatan ini, menurut Adhy, sekadar hanya membantu meringankan beban saudara - saudara kita yang ada di lokasi - lokasi pengusian akibat gempa 26 September kemarin. “Dari pengamatan kami di lapangan serta apa yang disampaikan warga, maka kami sangat berharap peran aktif dari Pemda Maluku maupun Pemkab Malteng dan kegiatan ini juga hadir. Biar pemerintah pusat tidak merasa terlalu terbebani dari sisi keuangan seperti yang disampaikan Menkopolhukam Wiranto. Wiranto menyatakan besarnya jumlah pengungsi di Maluku sangat menambah beban pemerintah pusat sehingga Menkopolhukam meminta para pengungsi kembali ke rumah mereka,” terang Adhy maghul terkait pernyataan Menkopolhukam Wiranto yang dinilai tidak memiliki rasa empati kepada warga Maluku yang tertimpa bencana gempa bumi sebagaimana kejadian serupa di tempat lain tapi mendapatkan perhatian pemerintah pusat.

Menurut Adhy, Menkopolhukam Wiranto perlu tahu bahwa gempa susulan pasca gempa 6,8 SR 26 September hingga 29 September kemarin, ada kurang lebih hampir 1.000 kali  gempa susulan dengan kekuatan yang bervariasi. “Jika pandangan Wiranto tidak ada satupun keterangan resmi dari pihak terkait bahwa akan terjadi gempa lebih besar, maka bisa disimpulkan Wiranto tidak pernah belajar dari sejarah, contoh pada 2004 saat tzunami di Aceh. Itupun tidak ada peringatan resmi dari pihak terkait. Bahkan pemerintah mengabaikan prediksi pakar gempa Prof Ron Harris dari Brigham Young University, Utah, Amerika Serikat. Guru besar geologi yang meneliti gempa berdasarkan data geologi dan arkeologis itu menyatakan Ambon dan pulau-pulau sekitarnya terancam gempa di atas 8 skala richter. Akhirnya tragedi tzunami Aceh pun terjadi dan saat ini prediksi dari Prof Ron Harris pun sudah ada soal gempa Maluku. Jadi wajar saja jika ketakutan itu ada pada rakyat Maluku khususnya warga yang terkena dampak gempa kemarin,” beber Adhy.

Adhy menilai, seharusnya Menkopolhukam Wiranto tidak perlu mengeluarkan pernyataan yang melukai perasaan orang Maluku yang sedang tertimpa musibah. Pernyataan Wiranto tersebut sama halnya nyawa orang Maluku tidak lebih berharga dari apa yang ditanggung negara dalam beberapa hari ini. “Ini sebuah kekonyolan berpikir dari seorang menteri,” kritik Adhy.

Masih menurut Adhy, ada satu lagi yang ingin disampaikan terkait pernyataan Menkopolhukam  Wiranto ini. Perlu ditegaskan sebenarnya yang terbebani itu adalah Maluku bukan Menkopolhukam ataupun pemerintag pusat. Bukan rahasia lagi kalau kekayaan Maluku dipakai bahkan dirampok negara secara legal untuk kesejahteraan daerah lain sehingga Maluku miskin dan terpuruk. 

“Pak Wiranto lupa atau memang sengaja lupa atas banyaknya kekayaan sumber daya alam Maluku yang dipakai untuk membiayai negara ini. Jadi, sebaiknya Pak Menteri yang terhormat, berpikirlah dulu baru berbicara. Jangan bicara dulu baru berpikir,” pinta Adhy.

Harga diri kami rakyat Maluku sangatlah mahal. Jangan sepelekan Maluku jika tidak NKRI bisa saja kehilangan Maluku. “Harusnya Pemda Maluku dalam hal ini Gubernur Maluku Murad Ismail jangan diam. Maluku selama ini bukan merupakan pihak yang membebani negara melainkan pihak yang menjadi korban kedzhaliman dan ketamakan negara,” ujar Adhy.

Lalu, terkait kegiatan Paparisa Peduli ini, imbuh Adhy, pada kesempatan ini pula ingin menyampaikan banyak terima kasih kepada pihak - pihak yang sudah dengan ikhlas turut berpartisipasi terutama saudara - saudara kita yang ada di DKI Jakarta, yang rata - rata bukanlah orang Maluku. Ini wujud kasih sayang serta kemanusiaan yang nyata. Biarlah Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa membalas semua kebaikan kita semua.
"Apa yang kita dapat, belum tentu milik kita ,namun apa yang kita berikan sudah pasti menjadi milik kita. Paparisa Perjuangan Maluku, bukan yang terbaik tapi kami berusaha melakukan yang terbaik. Sebab itu lebih baik,” pungkas Adhy. (kir)