Politisi Gerindra Sesalkan Framing Media Terhadap Zul Hasan dan Said Iqbal

Andre Rosiade (ketiga dari kiri). (Foto: Dekan)

Jakarta, Dekannews- Jubir Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Andre Rosiade, mwnyelesaikan kelakuan media-media mainstream pendukung pasangan nomor urut 01 Jokowi-Ma'ruf Amin yang senang melakukan framing demi keuntungan pihaknya.

Dua kasus framing terbaru yang ia sorot adalah kunjungan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan dan Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal ke Istana pada Kamis (26/4/2019) dan Jumat (26/4/2019).

"Kami sesalkan kebiasaan media mainstream yang suka memframing untuk kepentingan pasangan yang didukung, dan saya pastikan berita itu nggak bemar," katanya dalam.diskusi bertajuk "Silent Killer Pemilu Serentak" di Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (27/4/2019).

Caleg Gerindra untuk Dapil Sumbar I itu menyoroti kunjungan Zulkifli Hasan ke Istana Negara, Jakarta, yang langsung diberitakan media bahwa PAN berpeluang gabung dengan kubu Jokowi.

Padahal, kata dia, Zul ke Istana dalam rangka memenuhi undangan pelantikan Gubernur Maluku Murad Ismail.

Ia juga menyoroti soal kedatangan Said ke Istana Bogor, Jawa Barat, yang juga diberitakan sedang merapat ke Jokowi.

Padahal, kata dia, Said ke Istana Bogor bersama buruh yang lain untuk.membahas soal perburuhan, dan tak ada kaitannya dengan dukung mendukung untuk kepentingan Pilpres 2019.

"Cobalaj media jangan ini digoreng, diframiing, karena ujung-ujungnua adalah penyebaran hoaks," tegasnya.

Seperti diketahui, pada Kamis lalu Zul Hasan medatangi Istana Negara, Jakarta, dan sempat melakukan pertemuan dengan Presiden Jokowi. Tak.lama kemudian muncul berita kalau Zul berpeluang meninggalkan Prabowo dan bergabung dengan.petahana di Pilpres 2019 itu.

Nasib yang sama dialami Said setelah bertemu Jokowi di Istana Bogor. Zul dan Said pun kemudian membuat pernyataan resmi untuk.membantah pemberitaan media tersebut.

Melalui akun.Twitter-nya, @ZUL_Hasan, ketua umum PAN itu memberikan klarifikasi.

“Terima kasih untuk pertanyaan-pertanyaa terkait kehadiran saya di Istana. Kehadiran yang sebenarnya sebetulnya itu rutin saja dalam tugas sebagai Ketua MPR,” tulis dia.

Politisi yang akrab disapa Zulhas ini menjelaskan bahwa kehadirannya di Istana adalah sebagai ketua MPR, untuk memenuhi undangan pelantikan Gubernur Maluku Murad Ismail, dan Wagub Maluku Barnabas Orno. Karena PAN adalah salah satu partai pengusung Murad.

“Saya hadir di Istana sebagai Ketua MPR dalam Pelantikan Gubernur Maluku. Sama seperti pelantikan gubernur-gubernur lainnya. Apalagi, Murad Ismail adalah sahabat dan PAN adalah parpol pengusungnya di Pilkada Maluku lalu,” kata Zulhas.

Lebih lanjut, mantan Menteri Kehutanan itu memberi isyarat bahwa ia dan para kadernya tengah fokus mengawal penghitungan suara, baik Pileg maupun Pilpres.

“Kader PAN di seluruh Indonesia mulai dari provinsi, kabupaten, kecamatan sampai ranting saat ini masih fokus mengawal perolehan suara Partai dan Pilpres. PAN juga terus memberikan masukan untuk perbaikan kinerja KPU,” jelasnya.

Zulhas pun mengajak semua masyarakat Indonesia untuk menjaga persaudaraan, meskipun beda pilihan pada Pemilu kemarin.

“Saudaraku dan sahabat semua, Di masa masa krusial penghitungan suara ini, mari tetap jaga dan rekatkan persaudaraan kita sesama anak bangsa. Pilihan boleh beda, Merah Putih kita tetap sama,” katanya.

Said membuat bantahan melalui siaran pers yang disampaikan Ketua Departemen dan Komunikasi KSPI Kahar S. Cahyono, Jumat malam. Dalam siaran pers itu Said menegaskan bahwa pertemuannya dengan Jokowi tak berhubungan dengan pilpres.

"Ini adalah pertemuan biasa antara pemimpin serikat buruh dengan presiden, untuk membicarakan masalah perburuhan," katanya.

Said mengakui kalau pertemuan itu bisa menimbulkan banyak spekulasi karena ia dan organisasinya mendukung Prabowo-Sandi pada Pilpres 2019. Apalagi karena Pilpres belum benar-benar selesai meski hasil hitung sementara KPU dan hitung cepat sejumlah lembaga menunjukkan keunggulan untuk Jokowi-Ma'ruf Amin.

"Selama ini saya memang kerap mengkritik pemerintahan Jokowi, namun berbagaikritikan saya terkait masalah buruh, bukan berarti saya membenci Pak Jokowi, melainkan merupakan bentuk tanggung jawab sekaligus tugasnya sebagai pemimpin serikat buruh dalam melakukan kontrol sosial terhadap kekuasaan," katanya.

Said menegaskan, ia tidak akan pernah membiarkan kebencian terhadap pribadi merasuk di dalam dirinya, dan kritik yang ia sampaikan murni terkait dengan kebijakan.

'Tujuan utamanya adalah kesejahteraan kaum buruh," tegasnya. (man)