Politisi Gerindra Minta Situng KPU Ditutup

Andre Rosiade. (Foto: Dekan)

Jakarta, Dekannews- Kubu pasangan nomor urut 02 Prabowo-Sandi agaknya mulai tak sabaran menghadapi sikap Ketua KPU Arief Budiman yang terkesan terlalu menganggap enteng kelakuan anak buahnya yang gemar 'membuat kesalahan' dalam menginput data formulir C1 ke sistem hitung (Situng) pada laman pemilu2019.kpu.go.id.

"Tutup saja Situng kalau tak.mau dikritik," kata Jubir Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Andre Rosiade, usai diskusi bertajuk 'Silent Killer Pemilu Serentak' di Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (27/4/2019).

Seperti diketahui, sejak KPU menginput data C1 ke Situng, relawan 02 telah menemukan banyak sekali kesalahan yang dianggap Ketua KPU sebagai human error belaka. Lucunya, kesalahan itu secara konsisten menggelembungkan perolehan suara pasangan nomor urut 01 Jokowi-Ma'ruf Amin dari puluhan suara, hingga ratusan dan bahkan ada yang mencapai 1.650 suara seperti data yang diinput dari salah satu TPS di Gianyar, Bali.

Ketika hal ini dikritik relawan 02 maupun oleh BPN Prabowo-Sandu, kesalahan itu malah semakin menjadi-jadi, karena pegawai KPU kemudian melengkapi inputannya dengan meng-up load formulir C1 yang dianggap bermasalah, karena di antara formulir itu ada yang tidak ditandatangani saksi, ada yang ditandatangani saksi, namun tanda tangan itu berbeda denganbtanda tangan pada formulir C1 yang dipegang relawan, ada formulir C1 yang dicoret-coret dan ada pula yang ditip ex. Semua itu dilakukan agar data yang diinput ke Situng sama dengan yang tertera di formulir yang dianggap bodong tersebut.

Yang lebih mengagetkan lagi, pegawai KPU juga kemudian diketahui menggelembungkan perolehan suara 02 di TPS-TPS tertentu, namun tidak sebanyak dan sebesar yang dilakukan untuk 01, sehingga muncul kecurigaan kalau KPU sedang menutupi jejak kalau mereka sebenarnya secara konsisten sedang menggelembungkan perolehan suara 01 agar dapat memenangkan pasangan ini seperti hasil quick count sejumlah lembaga survei yang aemuanya memenangkan 01 dengan perolehan suara 54-55% lebih.

Pada Sabtu ini, sejumlah warganet kembali mencuit karena kembalikan data salah input oleh pegawai KPU. Salah satunya pemilik akun @Budhe_bonbon.

"Min @KPU_ID, Sabtu 27 April jam 06.46 waktu Kota Padang, seperti biasa suara 02 hilang 100 lagi .. Di C1 186 tapi kalian input hanya 86, tolong direvisi Prov Sulsel - Luwu Utara - Masamba - Bone - TPS 2. Maaf, kalian yang input waras nggak sih kok salah mulu?" katanya.

Ketika hal ini dikonfirmasi kepada Ketua KPU Arief Budiman, dia nampak emosi.

"Kan sudah saya jelaskan berkali-kali. Kalau Anda.curang Anda mau perlihatkan kecurangan Anda apa nggak?" katanya.

Ketika diberitahu kalau kesalahan input itu masih berlangsung, sehingga hari ini pun relawan 02 masih menemukan kesalahan input tersebut, dia menjawab begini;

"Masih berlangsung apanya? Kalau saya tutup Situng-nya, nggak akan terjadi kesalahan itu. Karena nggak ada informasi."

Ketika ditanya apakah petugas yang melakukan input sudah ditegur? Dia mengiyakan.

"Sudah kami ingatkan semua. Nggak mungkin kesalahan input berkali-kali," katanya.

Ketika ditanya mengapa kesalahan masih berlangsung?

"Silakan dilaporkan. Jangan ngomong berkali-kali, Anda tahu berapa jumlahnya? Yang masuk ke kita 24, lalu jadi 27. Terakhir berdasarkan laporan masyarakat 39," katanya.

Meski demikian Arief mengatakan kalau Situng bukan hitungan yang dijadikan acuan resmi KPU untuk menetapkan siapa pemenang Pilpres 2019, karena patokan KPU adalah hitungan manual atau real count.

Menanggapi hal ini, Andre Rosiade membenarkan bahwa Situng bukan patokan KPU untuk mengumumkan siapa pemenang Pilpres, namun Situng dapat digunakan untuk opini dan dapat merusak kepercayaan masyarakat.

"Karena itu KPU jangan antikritik. Tutup saja Situng kalau tak mau dimritik," katanya.

jubir BPN Prabowo-Sandi ini mengakui kalau Situng selalu salah input yang anehnya secara konsisten menaikkan perolehan suara 01 dan menurunkan suara 02.

"Saya tak percaya klaim Ketua KPU sebelumnya kalau ini karena human error, karena kalau.memang human error mestinya kesalahanya bisa 50:50, artinya 50% menggelembungkan suara 01 dan 50% menggelembungkan suara 02, tapi kan nyatanya nggak begitu," katanya.

Ia pun meminta, kalau KPU tak mampu mengelola Situng, tutup saja Situng itu daripada mengharu biru rakyat.

Ketika ditanya apakah 02 yakin perhitungan manual KPU nanti bebas dari kecurangan?

"Akan kita kawal real count itu," tegasnya. (man)